
"Mas Agung??" seru Sinta yang akhirnya mendapatkan sosok Agung yang berdiri di belakangnya.
Agung cukup terkejut melihat sang teman bersama sang Direktur perusahaannya.
"Mas Agung??" seru Sinta mengulang nama yang membuat reaksi tubuhnya cukup terkejut.
Dan Rudy dapat merasakan jika itu bukanlah reaksi yang biasa.
Agung mencoba biasa.
"Kenapa kamu ada di sini??" tanya Agung biasa.
"Kalian saling kenal??" potong Rudy di tengah pertanyaan Agung yang belum sempat di jawab Sinta.
Agung reflek mengangguk.
"Ah, iya pak, kami teman dekat dan rumah kami searah.." jawab Agung sopan.
Rudy langsung paham jika pria yang berada di hadapannya ini adalah pria yang telah membuat Sinta patah hati.
Sinta berdiri dengan gelisah diantara dua pria yang pasti sudah kenal cukup baik di kantor ini.
"Ooh, sekarang aku paham.." ucap Rudy dengan menoleh pada Sinta yang terlihat tak tenang. "Jadi, ini Agung yang kamu ceritakan itu yang Sinta??" tanya Rudy sengaja memancing reaksi Sinta yang sudah jelas sangat terkejut.
Deg.. jantung Sinta hampir saja lompat mendengar pertanyaan mas Rudy barusan.
"Mampus, dah.. Mas Rudyyyy, ikh!!" rutu batin Sinta yang tak karuan karena mendengar ucapan mas Rudy yang sepertinya ingin membongkar rahasianya tenang mas Agung disini.
"Jadi dia adalah..Pfffpft.." seketika mulut Rudy di bungkam oleh tangan Sinta.
Agung terbelalak kaget melihat sikap tak sopan Sinta pada sang Direktur.
"SINTA!!" seru Agung kaget.
Namun Sinta menantap Rudy dengan wajah kecemasan yang terlihat jelas dan memberi isyarat pada Rudy untuk tidak membongkar rahasianya itu di sini.
Dan Rudy hanya tersenyum kecil di balik telapak tangan Sinta yang terlihat takut jika rahasianya terbongkar. Lalu dengan santai ia melepaskan tangan Sinta yang menutup mulutnya.
"Ah, pak Rudy..maafkan Sinta.. sinta.." Agung terlihat tak enak pada sang Direktur.
Namun Rudy memberi tangan untuk menahan Agung.
Dan Rudy malah menantap Sinta yang masih gelisah di sampingnya.
"Ya aku mengerti Sinta aku tidak akan membahasnya disini.." ucap Rudy yang terdengar ambigu oleh Agung yang tidak paham.
Rudy bersikap biasa dengan gaya santai menantap pada bawahan.
Namun dari tatapan Agung terlihat jelas ia sedang berpikir keras akan ucapan sang Direktur.
"Hm, mas Rudy.." sanggah Sinta.
"Aku mengerti Sinta, kita akan membahas masalah tadi di tempat lain.. jadi gimana?? kamu mau ikut aku??" ajak Rudy dengan memberikan tangannya di hadapan Sinta.
Sinta terpaku pada uluran tangan mas Rudy.
Dan Agung tak bisa berkata. Ia hanya bisa melihat hal itu dengan terkejut.
Sinta bingung, namun sekilas ia melihat reaksi mas Agung yang terlihat tenang.
Dengan ragu-ragu akhirnya jemari Sinta menerima uluran tangan mas Rudy.
Rudy tersenyum licik. Dan Agung terlihat dingin menatap tangan Sinta berada di tangan pria lain.
"Jika tidak keberatan, aku dan Sinta pergi dulu.." ujar Rudy pada Agung yang hanya diam di tempatnya.
"Ah, iya pak.. silakan.." sahut Agung dingin.
"Sinta pergi dulu mas.." ucap Sinta yang ikut berbasa-basi.
Lalu tak lama, Rudy membawa Sinta bersama menuju pintu lift yang baru saja terbuka dengan menurunkan 3 orang karyawan yang ikut terkafet melihat Direktur mereka berada di sana.
Sinta masuk kedalam lift bersama Rudy.
Agung dapat melihat jelas raut wajah Sinta yang tak biasa.
"Pilihan yang tepat Sinta, kamu berhasil membuat dia cemburu.." ucap Rudy santai sembari menekan tombol lift ke angka 12.
Sinta tak mengerti sembari menoleh pada Rudy yang terlihat menyimpan sesuatu yang tak ia paham.
Dan perlahan pintu lift tertutup.
Tatapan Agung tajam menantap Sinta yang kian hilang di balik pintu lift yang tertutup.
Sinta menoleh kembali di detik terakhir pintu lift tertutup dan ia sempat melihat wajah mas Agung yang tak biasa.
"Mas Agung.." lirih Sinta sedih.
Dan lift itu pun perlahan naik menuju arah angka yang membawanya melupakan tujuan awal datang keperusahaan Mahendra.