
Akhirnya malam itu Sinta tiba dirumah tepat jam 12 malam.
Dan lagi-lagi sebuah mobil sedan mewah yang mengantarkan gadis jamu itu pulang.
Sinta turun dengan wajah berseri. Dan perlahan mobil sedan mewah itu pergi dari depan rumahnya.
Sinta menghela nafas, dan ia merasa lega setelah mengakui perasaan ini pada mas Rudy. Walau mas Rudy masih ragu dalam hubungan ini, tapi Sinta bertekat memupuk percaya diri mas Rudy untuk menerima cintanya tanpa takut.
Tak lama Sinta berbalik dan hendak berjalan masuk kepagar rumahnya.
Namun Sinta kaget ketika melihat sosok ibu ternyata berdiri di depan teras rumah.
"Eh, ibu..kok belum tidur?" tanya Sinta seperti biasa lalu melangkah untuk kian mendekat pada sang ibu.
"Apa kamu di antar sama mobil pak Rudy lagi??"
Sinta mengangguk cepat.
"Iya, tapi bukan pak Rudy yang antar.. tadi itu supirnya, pak Jito..dan mas Rudy khawatir jika Sinta pulang naik taksi" jawab Sinta apa adanya.
Wajah ibu kian khawatir.
"Lebih baik, kamu jangan sering-sering pulang dengan mobil mewah itu.."
Kening Sinta tertaut.
"Loh, kenapa bu??"
"Ibu gak mau, para tetangga ngomongin kamu yang enggak-enggak.." tukas ibu sembari berjalan masuk kedalam rumah meninggalkan Sinta yang bengong.
"Hah?? maksud ibu??" Sinta bertanya dengan mengikuti langkah ibu yang masuk kedalam rumah.
Ibu tidak menjawab, ia hendak masuk kekamarnya. Namun Sinta menahan.
"Bu, jelasin dulu, maksud ibu apa ngomong begitu tadi?"
Ibu berbalik sembari menghela nafas.
"Kamu perempuan Sinta dan kamu masih gadis perawan, ibu hanya tidak mau kamu jadi bahan gosip para tetangga yang sering lihat kamu beberapa bulan ini sering pulang malam dan selalu di antar mobil mewah begitu..ibu takut kamu di anggap jelek.." tukas ibu memberi nasihat.
Sinta terpaku, tak pernah ia berpikir seperti itu.
"Ibu..ibu tau kamu pasti selama ini sibuk mengurus jamu kamu.. tapi kan orang tidak tau.. dan mereka menduga-duga dengan pikiran picik mereka.."
Sinta menghela nafas tak percaya.
Ibu menyentuh lengan Sinta dengan wajah sendu.
"Sinta, kamu kan punya uang, pakai saja untuk beli mobil.. beli yang murah saja untuk keperluan kamu.. jadi kamu tidak akan merepotkan pak Rudy dengan mengkhawatirkan kamu.."
"Ibu.."
"Sinta.. ibu tidak mau kamu jadi bahan olok-olok para tetangga.. ibu ini ibu kamu.. ibu tidak sudi jika anak yang susah payah ibu besarkan direndahkan orang lain.. hati ibu sedih.."
Sinta ikut merasa bersalah mendengar penuturan ibu.
"Undangan pernikahan dr. Sarah dan Agung sudah tersebar.. semua kaget dan mereka menduga-duga bahwa kamu patah hati karena Agung menikah dengan Sarah sehingga tidak mau menjual jamu lagi.. Dan karena selama ini kamu pulang malam terus, mereka juga sudah mulai berbisik jika kamu frustasi karena pernikahan Sarah dan Agung semakin dekat.."
Sinta tercengang.
"Mereka sampai ngomong gitu bu?"
"Tapi ibu yang lebih tau apa yang sebenarnya...maka dari itu..kamu juga harus menjaga diri..agar gosip itu tidak semakin aneh-aneh.."
Sinta menghela nafas kesal.
"Sudah tidur.. ini sudah larut malam..kamu pasti capek.." ucap Ibu sembari mengusap wajah sang anak yang kian bertambah cantik. Namun ketika sorot matanya turun pada bingkai bibir sang anak ibu sedikit menantap heran.
"Bibir kamu kenapa??"
Sinta kaget dengan ikut meraba bibirnya.
"eehmm, apa perasaan ibu yaa, kok kayak agak bengkak??"
Kedua bola mata Sinta panik.
"Ah, ibu ini model lipstik baru bu, biar kesannya bibir tebal.." Alasan Sinta yang sukses membuat ibu percaya.
"Ooh, gitu yaa.. ya sudah.. tidur sana..kamu pasti capek.."
Sint tersebut simpul dengan mengulum bibirnya.
"Hm, Sinta kunci pintu rumah dulu dan bersih-bersih baru tidur buk.."
Ibu mengangguk lalu perlahan membuka pintu kamarnya dan berlalu masuk .
Seketika Sinta bernafas lega, seluruh saraf tubuhnya juga ikut lemes.
"Duh, nyaris.." bisik batin Sinta yang berlalu meninggalkan depan kamar ibu. Ia berjalan untuk menutup pintu rumah dan menguncinya.
Dengan gontai ia berjalan kembali untuk masuk kekamarnya.
Walau perkataan ibu tadi menbuatnya cemas, tapi hati ini tetap bahagia. Karena mas Rudy.
Sinta merebahkan diri diatas tempat tidur dengan melepaskan tas dan menjatuhkan ya asal.
"Aah, hari ini itu.. spesial" bisik Sinta dengan membayangkan kembali ciuman manis bibir mas Rudy yang begitu ahli.
Tiba-tiba Sinta memejamkan matanya dengan gemes.
"Ukh, mas Rudy.. bikin nagih.." ucap Sinta yang merasa di awan.
***
Di apartemen.
Rudy duduk di sofa dengan mengingat kembali ucapan pengakuan gadis jamu.
"Jika mas mencintai Sinta, maka semua akan Sinta berikan pada Mas.. tanpa menuntut apa pun.. cukup mas menerima Sinta apa adanya dan Sinta juga akan menerima mas dengan apa adanya.." ucap Sinta saat itu dengan wajah serius.
"Jangan menghindar mas.. Sinta tulus mencintai mas.." isak Sinta yang lirih memohon.
Namun gadis jamu ini, semakin ia menghindari kenyataan rasa hati, tapi nyatanya malah rasa itu emakin besar rasa akan gadis jamu ini.
"Sinta takut untuk kehilangan lagi.. " bisik Sinta tersedu.
Rudy menghela nafas. Harusnya ia tak menerima cinta Sinta. Sinta terlalu baik, ia takut akan mengecewakan hati Sinta yang terlihat tulus.
Rudy sedikit berselonjor di Sofa. Ia menutup mata.
"Apa yang aku lakukan? padahal aku sudah berjanji untuk berhenti.." bisik hati Rudy yang kian terbayang wajah Sinta.