
Sore harinya disatu rumah mewah, Rara mendapatkan sebuah kotak paket yang di antara oleh seorang gojek online dan di berikan pada penjaga rumah yang katanya di tujukan pada dirinya yang merasa tak memesan apa pun dari aplikasi jasa itu. Rara membuka dan di dalam kotak paket tersebut ada 1 botol besar berukuran 500ml dengan warna air kecoklatan.
Rara menantap aneh pada botol tersebut dan tak di sengaja ada sebuah surat yang berada didalam kotak.
Rara meraih dan membaca surat tersebut. Rara membaca dengan wajah terkejut. Bagaimana tidak ternyata botol minum ini dikirim oleh gadis jamu yang tadi pagi ia pergoki di rumah mas Rudy kakaknya.
Dan satu kalimat akhir yang membuat Rara menimbang.
"Ketika ingin merebut milik mbak Rara kembali, gunakan cara yang sangat cantik sehingga suami mbak tidak menyadari jika masuk kedalam perangkap yang mbak Rara buat.. saya mendukung mbak dan akan membantu mbak Rara.. ini nomor hp Sinta, jika jamu sudah habis kabari saja kapan pun Sinta akan siap membuat jamu untuk mbak.."
"Ck.. sales banget, memang dia siapa mau bantu aku?? sodara bukan teman juga bukan..sok dekat banget" cibir Rara lalu melipat kembali kertas surat itu.
Namun ketika melihat kembali botol jamu itu, tiba-tiba wajah mas Rudy sang kakak kembali terbayang. Ia melihat sosok sang kakak sudah terlalu banyak berubah.
"Ra, semua kejadian dulu karena kesalahan mas..dulu mas terlalu sombong dan berbangga diri.. tapi nyata itu semua salah.. Dan mas kehilangan semuanya, mas harap kamu tidak mengulangi kesalahan fatal itu, apa lagi kamu ada anak-anak.. sekarang kita harus memperbaiki diri, pikir lagi, renungi sikap kita jangan selalu menganggap diri paling benar.. ingat, kadang ada kesalahan yang tak kita sadari karena kita terlalu bangga pada latar belakang kita yang memang mempunyai segalanya.."
Sesaat Rara menimbang pada jamu milik Sinta yang berada di tangan kanannya.
"Hargai ketulusan orang lain dari hal kecil, bukan dari seberapa pantas pemberiannya.. tapi dari seberapa tulus ia berada di samping kita ketika kita dalam masalah.. peka lah.." tutur mas Rudy yang membuat Rara menimbang.
Rara menghela nafas. Dan ia merasa ucapan sang kakak ada benarnya.
"Baiklah, aku coba saja, toh cuma minuman dan kata mas Rudy jamu si Sinta ini beda.." gumam Rara yang akhirnya menerima paket itu.
***
Dan keesokan paginya. Hal yang tak terduga pun terjadi di ruang Direktur Mahendra.
Rudy yang baru saja datang kaget ketika melihat gadis jamu itu kini berada di ruang tunggu ruangannya.
"Sinta??"
Sinta bangun dari duduknya dan dengan senyum percaya diri ia menatap sang Direktur Mahendra.
"Sudah Sinta pikir, dan Sinta gak mau buang waktu dengan rasa sakit hati.."
Kening Rudy berkenyit bingung.
"Maksud kamu??"
"Sinta mau cepat kaya, jadi.. Sinta gak mau buang-buang waktu, hari ini Sinta mau mulai merintis jamu sampai terkenal dan viral.." ucap Sinta percaya diri.
Rudy tersenyum simpul. Ia melihat jelas jika sosok Sinta yang pantang menyerah dan itu adalah kunci awal dari seorang yang nantinya akan menjadi sukses.
Dan Sinta merasa mantap merintis bisnis jamu ini bersama orang yang sudah sangat profesional seperti Direktur Mahendra.
***
Waktu pun berjalan. Hari demi hari Sinta kian gigih mewujudkan impiannya.
Rudy memperlakuan Sinta seperti partner kerja, diskusi, dan saling terbuka dalam pikiran , sehingga menjadikan komunikasi Sinta dan Rudy kian nyambung satu sama lain. Rudy tidak berdiri sebagai seorang Direktur, tapi ia berdiri sebagai teman seperjuangan dengan Sinta yang tengah merintis usaha.
Dan rasa-rasanya, hari-hari Rudy kian berwarna.
Setelah Jamu-jamu Sinta masuk dalam Lab riset produk. Beriringan dengan itu, Rudy memberi tugas untuk mencari ruko sebagai tempat produksi jamu.
Tidak hanya itu, Sinta di sibukkan dengan tugas dan meneliti tiap alat mesin untuk proses produksi jamu yang nantinya akan dibuat dalam bentuk serbuk seperti rencana Rudy.
Tak jarang karena hal itu, intensitas pertemuan Sinta dan Rudy juga meningkat. Rudy tak segan-segan meluangkan waktu untuk gadis jamu itu.
Tanpa sadar Sinta kian nyaman bersama Rudy, bahkan rasa kagum Sinta pada Rudy kian bertambah. Sosok Agung kian terkikis dengan sosok Rudy yang selalu bisa memberi kepercayaan dan dukungan pada tiap keputusan Sinta. Rudy seolah membentuk karakter Sinta yang harus berani mengambil keputusan tanpa ragu.
Dan yang menjadi hal istimewa disetiap pertemuan selalu ada jamu hangat untuk Rudy yang mulai rutin mengkonsumsi jamu kesehatan Sinta.
Namun tanpa Sinta sadari, sosok Sinta yang asing di perusahaan itu menjadi perhatian dari beberapa karyawan wanita Mahendra, yang mulai menantap sinis.
***
Dalam kurun waktu 2 bulan, satu persatu rencana terwujud. Dan sore ini Rudy ikut menemani Sinta yang akan menandatangani satu dokumen pembelian Ruko dua pintu.
Tangan Sinta gugup ketika akan membubuhkan tanda tangannya di atas kertas yang memiliki nilai hukum.
Sekilas ia sempat menoleh pada Rudy untuk meyakinkan diri. Dan pria itu tersenyum simpul seolah memberi dukungan positif akan keputusan Sinta.
Akhirnya Sinta pun membubuhkan tandatangannya di atas materai. Dan akhirnya ruko dua pintu itu resmi menjadi milik Sinta.
Sang pemilik tersenyum lega dan memberikan dokumen jual beli sah pada Sinta.
Di saat itu jantung Sinta bergetar. Ia tidak pernah mengira akan sampai pada saat yang tak terbayangkan, memiliki rumah pabrik jamu yang sebentar lagi akan berproduksi.
Rudy memberi satu jempol tersembunyi seolah itu tindakan keren.
Dan sekelebat perasan berbunga pun timbul di hati Sinta. Entah mengapa ia jadi kian terpikat dengan pesona sang Direktur Mahendra.
Setelah tanda tangan itu semua pergi dan tinggallah Sinta yang masih tak percaya dengan hal yang kini menjadi aset miliknya.
Di tengah rasa kagumnya. Rudy kembali dengan tengah menerima telfon. Nada bicara pria itu terdengar serius. Tak lama komunikasi tersebut putus.
"Sepertinya mas harus segera kembali kekantor.."
Sinta merespon dengan mengangguk.
"Oh, iya mas.. hati-hati dan.. terima kasih yaa sudah temani Sinta tadi.."
Sedetik tanpa di duga raut wajah Rudy berubah senang.
"Ini awal yang bagus, ingat kamu masih harus membereskan surat perizinan usaha dan juga label halal.. dan tetap semangat" ucap Rudy dengan mengusap pucuk kepala Sinta. Dan untuk sesaat keduanya terpaku satu sama lain. Hingga rasa canggung tiba-tiba hadir. Lalu Rudy dengan sengaja melirik jam tangannya. "Ah, sudah sore, pulanglah..supir akan mengantar kamu.."
"Loh?? mas sendiri?"
"Aku harus ketempat lain..ada orang penting yang jatuh sakit jadi lebih baik naik taksi saja.."
"Ah, jangan mas.. Sinta naik taksi saja, lagian Sinta sudah terlalu sering naik mobil mas.. gak enak.." tolak Sinta cepat.
Kening Rudy tertaut.
"Gak enak kenapa?"
"Ya gak enak, terlalu nyaman jadi mupeng nanti.."
"Hah?? mupeng??"
"Muka kepengen mobil mewah begitu.. ya kan Sinta harus sadar diri juga.. ya siapalah diri ini hanya gadis jamu" seloroh Sinta melucu.
Rudy terkekeh.
Sinta mengangguk, ikut tersenyum. Ya doa dan harapan pasti Sinta panjatkan untuk dimudahkan jalannya mencapai mimpinya dan satu saat ia bisa memiliki semuak perhiasan dunia itu.
***
Dan di saat semua berjalan sangat mulus, tanpa di sadari. Malam harinya, ketika Sinta baru saja tiba di depan rumah.
Ia melihat satu mobil tak asing terparkir di depan rumahnya.
Sinta berjalan masuk kedalam teras rumahnya. Terlihat sosok tak asing duduk bersama ibunda tercinta dengan senyum yang Sinta ragukan ketulusannya.
Ibu menyambut ke pulang sang putri.
"Sinta.. akhirnya kamu pulang, dari tadi Sarah tungguin kamu.."
Sinta tak menjawab dan masuk dengan wajah tenang.
Sarah bangun dan menghampiri Sinta.
"Sinta.." seru Sarah seperti biasa memanggil namanya.
"Bicara diluar.." potong Sinta dengan nada dingin.
Ibu menantap Sinta.
Dan Sarah tak menolak.
***
Di satu mini cafe Sinta dan Sarah duduk dengan atmosfer tak menyenangkan.
"Sinta.. aku mau minta maaf.."
"Aku tidak memaafkanmu.." potong Sinta dingin.
Sarah terdiam.
"Aku tau aku salah karena merahasia-kan .."
"Jika pembicaraan ini tengan penyesalan lebih baik aku pulang, aku capek.. aku butuh istirahat dan aku tidak berpikiran lagi tentang kau dan mas Agung.. aku mundur.. jelas.. jadi sudah basa basi yang tak penting ini.. " potong Sinta tajam.
Sarah terlihat sulit.
"Apa kamu akan terus seperti ini? aku tau aku salah, salah karena tidak jujur tapi kita ini teman dekat.."
"Dulu, sekarang tidak.." Lagi-lagi Sinta memotong sinis.
Sarah menghela nafas.
"Mas Agung gak tau aku datang bertemu kamu, ini murni niat ku Sinta.. karena aku yang bertanggung jawab semua kekacauan ini.. aku akan memperbaikinya.."
Sinta tertawa sinis. Ia merasa kian jenggah mendengar ucapan Sarah.
"Kamu masih cinta sama mas Agung kan??" tanya Sarah menatap lekat wajah acuh Sinta.
Sinta tercengang, pertanyaan gila macam apa itu.
"Aku yakin kamu masih cinta sama mas Agung??"
Singa acuh.
"Aku gak punya waktu banyak.. aku percayakan mas Agung sama kamu.."
Sinta mendengar dengan wajah tak percaya, lalu terkekeh sombong.
"Sarah?? kamu pikir aku ini perempuan apa?? tempat titipan?? aku ini manusia, wanita yang masih punya harga diri..setelah di tolak mas Agung terang-terangan apa kamu pikir hati aku baik-baik saja?"
Sarah meresapi nada kemarahan Sinta.
"Iya, tapi aku lebih percaya kamu untuk menjaga mas Agung.. kamu lebih tau mas Agung.."
"Tapi aku gak punya tempat di hati mas Agung.." balas Sinta marah.
Sarah berusaha untuk tenang menanggapi kemarahan Sinta.
"Aku gak punya banyak waktu, aku juga gak yakin bisa bertahan lebih lama lagi.."
Untuk sesaat Sinta iba.
"Karena itu, aku minta kamu untuk jadi istri mas Agung setelah aku meninggal.. aku percaya kamu akan dapat mengurus mas Agung saat aku tidak ada" pinta Sarah tulus menantap Sinta.
Sinta menyeringai kecil, sungguh ucapan yang tak bisa di terima dengan akal sehat.
"Lalu siapa yang akan mengurus perasaan ku??" tanya Sinta dingin.
Sarah diam.
"Kamu tau Sarah?? kamu benar-benar berhati iblis.." ucap Sinta menahan marah. "Kamu pikir ini solusi?? apa kamu tidak punya hati??"
Sarah menitikkan air mata.
"Aku yakin kau bisa.. "
"Aku tidak akan sudi.." balas Sinta cepat. "Aku tidak akan sudi menjadi istri bayangan dari pria yang istrinya mati.." tukas Sinta tegas, lalu dengan wajah marah Sinta bangun untuk menyudahi pembicaraan gila ini.
"Apa kau suka duda??"
Langkah Sinta tertahan.
"Pak Rudy itu, bukan pria baik-baik, dua kali gagal menikah dan dia.. adalah pria impoten.. apa kau suka dengan pria seperti itu??" Sarah berbalik menantap Sinta yang mematung di tempatnya.
Sinta berbalik dengan wajah kesal.
"Apa urusan mu??" tukas Sinta jengkel.
"Aku dan mas Agung khawatir kamu bertemu dengan pria yang salah.."
Sinta terkekeh nyeleneh.
"Terima kasih, tapi aku tidak butuh rasa khawatir dari teman bermuka dua seperti mu dan mas Agung Sialan!!" ketus Sinta marah. Laku dengan langkah tegas ia meninggalkan cafe itu dengan perasaan yang tak terjelaskan.
"Apa benar? mas Rudy pria impoten??" pertanyaan itu terus berputar di kepala Sinta.