
Di saat semua terasa hampa, Sinta yang ternyata terlalu syok dengan semua yang baru saja ia alami. Akhirnya hanya duduk termenung di salah satu kursi pendaftaran rumah sakit yang kini telah sepi.
Ia duduk tanpa bisa beranjak dari sana, kilas waktu yang dulu kembali terulang. Begitu jelas jika kenangan masalalu bersama mas Agung dan juga Sarah begitu membekas.
Namun ia terlalu banyak berharap akan masa itu untuk berakhir indah. Kini ia terbuang bak seorang wanita tak berharga.
Sakit akan pengakuan mas Agung yang ternyata hanya menganggapnya seorang adik dan bukan seorang wanita.
Hingga untuk saat ini ia seakan mati rasa. Hingga tanpa di duga suara nada dering handphonenya berbunyi. Dan itu membuyarkan lamun Sinta.
Sinta merespon lalu meraih handphonenya itu dari dalam tas yang sedari tadi bersamanya.
Dan ketika handphone itu berada di tangannya, tatapan Sinta terpaku pada nama yang tertera di layar itu.
Untuk beberapa saat Sinta seolah merasa terenyuh. Di saat semua pergi, mengapa pria sesat ini ada.
Hingga pada akhirnya Sinta menerima telfon tersebut di detik Last call.
Perlahan Sinta meletakkan handphonenya di sisi telinga. Dan seketika terdengar suara pria yang begitu hangat menyapa.
"Hallo??" sapa Rudy dari sebrang telfon.
Sinta diam tak menjawab dengan mencoba sekuat-kuatnya untuk dapat tenang.
Namun di luar dugaan, satu kalimat pertanyaan Rudy tiba-tiba membuat jantung Sinta bergetar.
"Kamu, baik-baik saja?" sesaat suara Rudy membuat sanubari Sinta terharu.
Deg... seketika jantung Sinta bergetar. Ada rasa sesak yang rasa-rasanya hampir tidak bisa ia bendung lagi.
Mendengar pertanyaan yang sangat sensitif itu, seketika bibir Sinta bergetar.
"Hm" Sinta menjawab singkat dengan terdengar suara bergetar.
"Kau dimana?? aku akan kesana.." ucap Rudy lagi dari sebrang telfon yang terdengar cemas.
Dan rasa-rasanya jiwa Sinta ikut lemah di saat sandarannya hilang entah mengapa pria ini selalu ada di saat yang tepat.
***
Mobil mewah Rudy tiba di salah satu parkiran rumah sakit. Di lihat dari share lokasi, gadis jamu itu masih berada di sana saat semua telah terlihat sepi.
Setelah mobil terparkir di tempat yang tepat, akhirnya Rudy turun dan berlari menerobos hujan untuk mencari keberadaan gadis jamu itu.
Rudy beberapa kali menelepon Sinta namun gadis itu tak mengangkat telfon darinya lagi.
Hingga ketika ia sudah berkeliling sekitar 20 menit akhirnya di saat Rudy hampir menyerah. Ternyata tatapan terpaku pada sosok gadis yang duduk di kursi pendaftaran rumah sakit.
Dengan wajah tenang Rudy berjalan pelan untuk menghampiri gadis yang terlihat duduk sendiri dengan wajah yang murung.
Perlahan namun pasti arah langkah Rudy akhirnya berhenti tepat di hadapan Sinta.
Dan di saat itu Sinta tersadar ketika seseorang berdiri di hadapannya. Wajah Sinta menegadah. Hingga tatapa keduanya bertemu.
"Apa salah Sinta??" tanya Sinta dengan wajah terluka.
Rudy mendengar.
"Mengapa mereka jahat padaku??" tanya Sinta dengan wajah kian sedih.
Rudy tertegun pada wajah tersakit itu.
Rudy tersenyum simpul dengan tatapan teduh.
Untuk sesaat tatapan sayu dan kesedihan Sinta terlihat jelas di mata Rudy.
Perlahan Rudy turun berlutut di hadapan Sinta yang diam seribu kata dengan wajah yang terlihat jelas tengah menahan luka.
Tatapan Sinta menantap sosok Rudy yang kini berada di depannya. Dan satu tangan Rudy menyentuh punggun tangan Sinta yang berada di atas pangkuannya.
"Menangislah, aku ada di sini untuk menemani mu.." ucap Rudy pelan.
Entah perasaan seperti apa yang sedang Sinta tahan, hingga akhirnya satu bening air matanya jatuh.
"Sakit.. sungguh sakit.." ucap Sinta bergetar dengan mengusap dadanya yang tengah teriris pilu.
Perasaan Rudy bercampur aduk.
Perlahan tangis Sinta menangis di hadapan Rudy.
Di saat itu naluri Rudy pun membalas dengan memeluk tubuh Sinta yang bergetar hebat.
Akhirnya tangis Sinta pecah di dalam pelukan Rudy.
Rudy memeluk tubuh lemah Sinta dengan kasih sayangnya. Sinta menangis dengan terisak perih.
Saat kesedihan Sinta tumpah, di saat itu seolah hujan juga turun dengan lebatnya.
Dan Rudy kembali terkenang luka yang dulu pernah ia rasakan.
Hanya orang yang pernah merasakan yang akan paham. Seberapa dalam dan sakitnya luka itu.