
Di sepanjang jalan menuju kekantor, Rudy membaca beberapa email yang masuk. Sudah terbayang kepadatan kegiatan beberapa minggu kedepan.
Melihat hal itu entah mengapa otak Rudy butuh satu hal yang dapat menyegarkan pikirannya pagi ini.
Rudy menutup aplikasi handphonenya lalu menatap luaran jendela mobil. Dengan menikmati laju mobil yang menuju kantornya.
Namun tak beberapa lama, ketika laju mobil melintas hendak masuk ke pekarangan depan kantor Mahendra. Tanpa di sengaja kedua mata Rudy seolah dapat melihat sosok yang membuatnya terpaku.
Dan karena hal itu, Rudy rela menurunkan kaca jendela mobilnya untuk bisa dapat melihat jelas sosok yang berdiri di depan gedung kantornya.
Tapi karena di waktu pagi, terlalu ramai orang berlalu lalang di depan kantornya itu, sehingga Rudy tak dapat melihat dengan jelas.
Roda mobil terus melaju meninggalkan depan kantor Mahendra untuk masuk kedalam parkiran kantor.
Dan Rudy hanya bisa tersenyum bodoh sembari menggelengkan kepalanya.
"Mana mungkin si cengeng itu ada disini" gumam Rudy menyeringai kecil jika mengingat teman tersesatnya yang sejak Rudy sadar, ia tak bisa menemukan wanita yang sudah menyelamatkan dirinya itu.
***
Dilain sisi, Sinta akhirnya tiba di gedung Mahendra yang cukup tinggi.
Ia berdiri dengan menatap gedung yang menjulang tinggi dengan rasa pesimis.
"Hay mbak jamu?? kamu yakin bisa masuk keperusahaan sebesar ini??" tanya batin Sinta pada dirinya sendiri. "Huuffft.." Sinta menghela nafas cukup panjang untuk menenangkan hatinya yang sejujurnya sangat takut.
Namun pada akhirnya Sinta menyakinkan diri untuk masuk kedalam gedung itu dengan membawa pembekalan produk jamunya.
Langkah kakinya terlihat yakin menuju dalam gedung yang terlihat cukup mewah.
Sinta berjalan menuju seorang Security, ia bertanya kepada pria yang berdiri tegak itu.
"Oh, mbak mau mendaftar ajang Mitra Mahendra yaa? baik, mbak bisa bertanya langsung keruang bidangnya kita..mari mbak saya antar"
Sinta mengangguk sungkan.
"Terima kasih, pak.."
"Iya, ayo.. ikut saya mbak.."
Dan akhirnya salah seorang Security membawa Sinta menuju dalam ruang gedung itu.
Terlihat wajah-wajah karyawan perusahaan yang baru tiba dan menunggu di depan lift yang terlihat sedang terpakai.
Sinta melihat sekilas para wanita-wanita muda yang mungkin saja seusai dengan dirinya. Wajah mereka terias tipis dengan tersemat tas branded di tangan mereka.
Sungguh pemandangan yang menbuat Sinta iri, iri karena mereka begitu modis dan cantik. Berbanding terbalik dengan ia yang berpenampilan apa adanya dengan kemeja Pink yang di padukan dengan celana jeans hitam, sport ala anak kampus dan tas ransel di punggungnya.
Memang benar, terkadang penampilan dapat mempengaruhi sudut pandang seseorang. Mungkin juga karena hal itu mas Agung jatuh cinta pada dr. Sarah. Selain status pekerjaannya yang bergengsi, penampilan Sarah sangatlah menarik.
Namun Sinta cepat-cepat menepis pikirannya yang mengigat tentang sang teman pengkhianatan itu.
"Fokus, Sinta.." ucap Sinta berbisik untuk dirinya sendiri.
"Mbak dengar dari mana info ajang Mitra Mahendra??" tanya sang Security itu mencoba membuka pembicaraan.
Sinta tersadar.
"Infonya.. saya tau dari teman.."
"Oh, teman.. iya memang kesempatan ini bagus mbak.. yang menang kompetensi ini produknya bisa masuk perusahaan Mahendra.. bakal di jual secara skala besar.." jelas sang Security itu seolah berbangga pada tempat ia bekerja.
Sinta menanggung saja dengan mencoba mengimbangi langkah sang Security yang berjalan sedikit cepat.
Dan setelah jalan sedikit jauh lalu naik lift menuju tingkat 3, akhirnya langkah Security itu berhenti pada satu ruang yang terlihat seperti aula.
"Sudah sampai mbak.." ujar sang Security itu.
"Oh, iya terima kasih pak.."
"Tapi, ini masih kosong, mungkin sebentar Lgi para panitia akan datang.. di tunggu saja mbak.."
"Kalau begitu saya balik dulu mbak.."
"Oh, iya.. eh, tapi.." tahan Sinta. "Anu, itu pak..maaf apa di sini ada kantin??" tanya Sinta ragu-ragu.
Sang Security reflek mengangguk.
"Iya ada, tapi.. mbak harus turun ke lantai 1.. di sana ada food court.."
"Foof court??"
"Iya, karena perusahaan Mahendra tidak mengizinkan karyawan keluar perusahaan saat makan siang jadi pimpinan mengubah lantai satu menjadi food court dan menyediakan beberapa jenis makanan untuk memenuhi kebutuhan karyawan.." jelas sang Security.
Sinta sempat kaget, karena yang ia tahu food court itu hanya ada di mall-mall besar.
"Oh, gitu ya pak.. makasih pak.. nanti saya kesana.. sekali lagi terima kasih pak.."
"Sama-sama mbak" sahut sang Security lalu berbalik arah untuk meninggalkan sang tamu diruangan aula.
Sinta reflek menghela nafas panjang. Lalu otaknya mulai berpikir.
"Kalau di pikir-pikir, andai misalnya tidak lulus masuk jadi Mitra Mahendra, maka bisa tuh jamu aku masuk ke food courtnya Mahendra.." guman Sinta berpikir. "Ya siapa atau cocok, bisa jualan di kantin perusahaan, plus kue ibu juga bisa ikut dijual di sini.." pikir Sinta lagi.
Mata Sinta melihat kesekeliling ruangan aula yang masih kosong. Lalu kembali melihat pada jam tangannya.
"Kayak masih ada waktu sebelum para panitia datang.." ujar Sinta yang berpikir untuk mencari kopi pagi di tempat food court yang diberitahukan oleh sang Security.
Dan akhirnya Sinta berbalik arah, ia berjalan menuju lift untuk turun ke lantai 1 menuju food court.
***
Di lain sisi, Rudy baru saja tiba di lantai 1 food court kantornya. Ia memesan kopi esspreso hangat untuk dapat menyegarkan pikirannya.
Para pelayan di sana memberi hormat sungkan pada pemilik perusahaan yang jarang-jarang turun membeli minumnya sendiri.
Sebuah gelas kertas berukuran sedang di berikan pada Rudy.
"Esspreso hangatnya pak.." ujar sang pemilik Coffee shop.
Rudy memberikan selembar uang 50 ribu pada kasir.
"Tidak usah kembali.." seru Rudy dengan mengambil esspreso hangarnya.
"Wah terima kasih banyak pak Rudy.."
Rudy hanya tersenyum simpul lalu berbalik untuk berjalan keluar dari food court menuju lift. Tak jarang beberapa karyawan memberi salam sungkan pada atasan mereka yang tiba-tiba berada di food court sepagi ini.
Rudy berjalan santai sembari menyerut esspreso hangatnya kedalam mulut.
Namun saat langkah Rudy hampir tiba di depan lift, tiba-tiba sebuah telfon masuk.
Dan langkahnya pun terhenti dengan meraih handphonen di balik saku jasnya.
Di waktu yang bersamaan sebuah pintu lift terbuka, dan rombongan karyawan turun dari lift menuju food court.
Rudy mengangkat telfonnya dengan membalas salam sapa para karyawan seadanya.
"Tuan, saya sudah menemukan alamat rumah nona Sinta.." ujar seseorang dari balik telfon.
Deg..
Namun Rudy mendengar terpaku. Sosok yang namanya baru saja di sebut tanpa diduga keluar terakhir dari dalam lift.
Rudy mematung di tempat dengan Sinta yang berjalan sembari tertunduk melihat layar handphonenya.
"Sinta.." seru Rudy.
Sinta yang tiba-tiba mendengar namanya di sebut pun terpaku ketika di depannya berdiri pria yang membuatnya kaget.
"Mas..Rudy??"