Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Harus bersyukur



Setelah pelukan pagi, kini Sinta berkemas setelah merasa lebih baik.


Rudy menunggu Sinta dengan melihat aktivitas gadis itu.


Terlihat Sinta merapikan tas kecil dan memasukkan beberapa peralatan mandinya kedalam tas itu.


Rudy menatap sosok Sinta. Ia masih bisa mengingat jelas ucapan pak Dewa. Sinta adalah putri pria tua kaya raya itu. Sungguh benar-benar tak terduga.


Takdir yang begitu aneh dalam satu pertemuan tak terduga dan berakhir dengan terungkapnya sosok ayah dari gadis yang ia cintai.


"Bahagikan putriku, maka seluruh harta ku akan aku berikan untuk mu, Rudy" ucap pak Dewa saat itu dengan garis wajah yang serius.


"Harta??" bisik batin Rudy mengulang. "Sungguh tidak ada yang dapat memberi kebahagiaan yang sempurna jika harus di ukur dengan harta.. karena Sinta adalah harta yang sesungguhnya"


Sreet.. resleting tas koper Sinta pun terdengar. Dan terlihat jika ia sudah membereskan semua miliknya kedalam tas. Tak lama Sinta berbalik dengan senyum terkembang.


"Maaf ya mas, jadi lama"


Rudy tersenyum lalu bangun dari duduk ya.


"Apa sudah siap??"


Sinta mengangguk pelan.


"Sudah semua.."


Rudy merespon sembari berjalan mendekat pada sang kekasih.


"Kalau begitu kamu mau sarapan di sini atau??"


"Gimana kalau luar saja" sambung Sinta.


Rudy langsung mengangguk setuju.


"Sudah mas duga.. oke kalau begitu kita langsung jalan saja.." ajak Rudy menghadap sinta.


Sinta setuju dengan hendak meraih tas koper miliknya. Namun melihat hal itu Rudy menahan.


"Biar pelayan yang bawa, ini pasti berat.."


"Gak usah, ini mah kecil.. Sinta udah biasa kok angkat beginian, 15 kg beras juga sanggup.."


"Hah??"


"Iya habis kalau gak Sinta angkat siapa lagi coba mau angkat?? kan gak mungkin nyuruh ibu? bisa kolep jantungnya ngangkat yang berat-berat.." tutur Sinta dengan mudah memindahkan tas koper itu kelantai dan mengubah kenop gagang untuk memanjang.


"15 kg beras??" ulang Rudy tak percaya.


Sinta tersenyum usil melihat wajah terkejut Rudy.


"Tenang aja mas, beban hidup yang berat aja sanggup Sinta tahan, apa lagi cuma koper kecil begini.. kecil" seloroh Sinta sombong dengan tertawa renyah.


Namun raut wajah Rudy tak merespon tawa Sinta. Hingga Sinta menahan tawanya dengan tak nyaman akan ekspresi sang kekasih yang datar.


"Kenapa mas??" tanya Sinta kaku.


Rudy menghela nafas.


"Kalau kamu sekuat ini, mas jadi gak ada artinya.." tukas Rudy dengan menyelipkan tangan kanannya ke dalam kantong celana.


Sinta melogos. Namun entah mengapa ia malah gemes melihat tingkah Rudy yang tiba-tiba ngambek.


Sinta memeluk Rudy dan ia menyandarkan kepalanya di dada sng kekasih.


"Jangan ngambek dong mas.." bujuk Sinta. Lalu dengan sedikit menegadah menatap wajah Rudy ia tersenyum kecil.


"Apalah artinya kuat seorang wanita, kalau kekuatan yang di butuhkan tetap dari pria yang di cintai.." Sinta merayu Rudy dengan kata-kata gombalan.


Rudy melirik dengan senyum mengelitik.


Sinta tersenyum manis.


Lalu entah mengapa Rudy jadi tak tahan melihat tingkah Sinta yang manja pada dirinya. Dan membuat ia mengalah dan merangkul pundak Sinta.


Lalu dari tangan yang lain mencubit gemes hidung Sinta.


"Auw.." seru Sinta seolah menahan sakit.


"Bisa ya kamu ngomong begitu.." balas Rudy.


Sinta berhasil dan ia tertawa dalam pelukan Rudy.


"Ya sudah, kita jalan yuk.."


"Ayo mas.." sahut Sinta dengan anggukan dan ia pun mererai pelukan untuk membawa koper juga tas bersama diri ya.


Rudy membantu dan akhirnya keduanya pun keluar dari kamar itu.


***


Seseorang penanggung jawab Resort mengantar Rudy dan Sinta di depan gerbang.


"Selesaikan finising sesegera mungkin, dan urus cepat tentang lahan parkir yang masih tertahan, saya mau semua selesai dalam waktu 1 bulan ini.. karena Resort akan segera di buka.." jelas Rudy sembari berjalan.


Si penanggung jawab terlihat manut mendengar perintah Rudy.


"Tapi, pak Dewa.." sela si penanggung jawab.


Langkah Rudy tertahan dan ia berbalik.


Pria itu sedikit tertunduk.


"Baik pak, saya mengerti.." sahut pria itu seketika patuh.


"Baiklah, saya rasa cukup, jika ada hal lain kabari saya sesegera mungkin.. jangan tunda pekerja awasi para pekerja terutama yang di rekrut dari warga desa, tatar mereka untuk bisa bekerja di Resort ini..jika tidak berguna maka keluarkan"


"Baik pak.." sahut pria itu paham.


"Bagus.." Rudy merespon baik. Lalu tak lama ia menoleh pada Sinta yang sedari tadi berjalan di sisinya dan mendengar semua pembicaraan tentang Resort.


"Ayo, kita jalan.." ajak Rudy dengan menuntun Sinta bersama.


"Hati-hati pak Rudy, selamat jalan" seru pria penanggung jawab.


***


Rudy dan Sinta berjalan meninggalkan Resort. Dan setelah beberapa menit berlalu mobil sedan Rudy masuk melewati pasar desa yang menjadi jantung para penduduk desa.


Terlihat kesibukan para penduduk desa yang menjual sayur segar pada tengkulak.


Sinta melihat hal seperti itu membuat ia terkenang akan masa kecilnya.


"Dulu, sewaktu masih kecil, Sinta sering ikut nenek kepasar di jam 7 pagi.."


Rudy mendengar sembari tetap fokus pada jalan yang di lewati.


"Waktu itu kita cuma jual telur bebek dan ayam yang berasal dari kandang di belakang rumah.."


Rudy sedikit menoleh pada Sinta yang sedang bercerita.


"Walau uang yang di hasilkan tidaklah banyak, tapi rasanya selalu cukup.." kenang Sinta.


"Berapa?"


Sejenak Sinta mengingat.


"30 butir telur ayam 15 ribu.."


"15 ribu? sedikit sekali" sahut Rudy.


Sinta menoleh dan terkekeh.


"Sedikit bagi mas yang tinggal di kota, tapi jika di desa 15 ribu itu sudah sangat banyak, bahkan dengan uang sebesar itu lauk makan pun bisa melimpah sampai 3 hari.."


Rudy menggeleng kepala tidak percaya. Namun Sinta tersenyum dan kembali mengenang


"Kata nenek, berapa pun tetap harus di syukuri..karena semua itu sudah menjadi rejeki yang berkah.."


Rudy mendengar.


"Dulu bahkan harga 1 gelas air jamu saja cuma 1500.. jaman ketika nenek dan ibu masih berjualan..".


"Semurah itu?"


Sinta mengangguk.


"Itu juga sudah mahal.."


"Kapan kayanya?" celetuk Rudy yang tak habis pikir dengan matematika bisnis yang ia miliki.


Sinta terkekeh.


"Nenek gak ingin kaya, tapi nenek hanya ingin hidup membantu orang lain dan membantu dirinya sendiri agar tidak meminta.." cerita Sinta.


Sejenak Sinta mengingat satu ucapan nenek yang begitu berkesan.


"nenek pernah berkata.. jika yang kamu cari adalah uang dan kaya maka dunia tidak akan pernah bisa membuat kamu puas, berapa pun yang kamu hasilkan akan selaku merasa kurang dan tak pernah cukup.. tapi ketika kamu mencari berkah maka sepiring nasi putih biasa pun akan menjadi nikmat jika kamu bersyukur bahwa itulah rejeki yang baik untuk kamu nikmati dan miliki.."


Rudy tertegun. Sejenak ia mencerna ucapan sederhana nasihat nenek dari cerita Sinta.


Benar, manusia tidak akan pernah puas jika berbicara tentang uang dan kaya. Sebanyak apa pun yang sudah ia dapatkan pasti merasa kurang walau ia telah memiliki segalanya. Dan itu Rudy akui, karena ia pernah berada di posisi yang tamak akan kesempurnaan hidup.


Hingga akhirnya semua yang ia rasa sempurna malah hancur tak bersisa.


Sinta menghela nafas lalu menoleh pada Rudy yang mengemudi.


"Semoga kita jadi orang yang bersyukur ya mas.." ucap Sinta berkesan.


Rudy menoleh sekilas pada senyum Sinta.


Lalu ia menganggu pelan tanpa menjawab.


"Aku memang harus bersyukur karena bertemu dengan kamu Sinta.." gumam batin Rudy yang menjawab.


Mobil terus melaju pelan di melewati pasar desa.


"Pelan ya mas, di depan sana ada warung makan enak.."


"Oke.." sahut Rudy.


***


Dan Rudy tidak akan pernah melupakan 2 hari perjalanannya ke Resort. Bagaimana pun, perjalanan kali ini benar-benar istimewa. Banyak cerita terungkap, banyak kisah yang akhir terbukti.


Ia berjanji untuk sesegera mungkin mencari tau kisah kedua orangtuanya. Dan sosok yang mempermainkan takdirnya dengan ilmu hitam.


Rudy juga harus sesegera mungkin bertemu dengan ibu Sinta dan menikahi gadis jamu ini secepatnya.