Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Teman ketemu di Cafe × teman ketemu di kematian



Setelah pelukan penuh tangis. Akhirnya kini Sinta kikuk sendiri. Ia jadi malu karena sudah asal meluk tubuh Rudy.


Dan cerita punya cerita, ternyata saat Rudy di kejar oleh sang babi hutan dan memilih berlari masuk kedalam hutan yang gelap. Ternyata tiba-tiba Rudy terjatuh karena kakinya tersangkut akar pohon dan membuat ia masuk kedalam lubang besar yang tidak terlalu dalam. Karena hal itu pula Rudy terselamatkan dari amukan babi hutan yang sudah sangat ingin mengsa Rudy.


Sehingga babi hutan kehilangan mangsanya begitu saja. Akhirnya babi kian berlari masuk kedalam hutan yang gelap dengan tak tentu arah mencari mangsa yang kini lenyap begitu saja di matanya.


Rudy bercerita hal itu pada Sinta yang kini duduk dengan kedua mata tak berkedip.


"Ja..jadi tadi mas??"


"Ya jatuh, aku juga pikir pasti..waah, udahlah.. mati nie malam ini sama nie binatang.." tukas Rudy bercerita. "Tapi pas babi itu lewat gitu aja, mas gak tau mau berkata-kata apa-apa lagi, syok, pasrah karena gak nyangka kalau tuh babi gak liat mas lagi.."


Sinta melepas nafas lega. Ia tak bisa berkata ia cukup senang melihat teman tersesatnya kembali dengan selamat walau nyatanya kini kaki mas Rudy terlihat kesakitan karena keseleo.


Setelah berkisah penuh itu selesai. Kini Rudy kembali berpikir.


"Kita memang harus naik pohon, harus gak bisa enggak.."


"Tapi.."


"Kita gak bisa pastiin ada hewan buas apa lagi yang bakal menyerang kita di hutan ini.." tukas Rudy sembari bangun dari duduknya. Namun tiba-tiba rasa nyut pada kaki Rudy membuatnya kembali jatuh.


"Ukh.." geram Rudy pada kakinya yang terlalu sakit.


Sinta menahan tubuh Rudy agar tak terlalu jatuh ke tanah.


"Hati-hati..mas" seru Sinta khawatir. "Sepertinya kaki mas tidak kuat.." ujar Sinta lagi.


"Ukh, hm.. sakit sekali.." keluh Rudy meringis menahan pergelangan kaki kanannya.


"Sudahlah mas, kita di sini saja.. dengan kondisi mas seperti itu gimana mau manjat pohon??" saran Sinta.


"Ta-pi.." ucap Rudy terpotong ketika tiba-tiba terdengar suara nyaring perutnya.


Kruurururrkk..


Sinta bengong dan Rudy di buat tak bisa berbicara lagi.


"Laper mas??"


Rudy menghela nafas dengan tertunduk. Ia sudah seharian tak makan dan hanya minum pada saat di posko terakhir tepat para panitia membagikan air minum dan cemilan.


Tak lama terdengar suara yang bunyi perut Sinta yang sama keroncongannya dengan Rudy.


Kruurururrkk..Kruurururrkk..


Sinta sontak memegang perutnya.


"Duh, laper.." lirihnya sembari mengelus perutnya.


Keduanya saling menghela nafas panjang dengan menantap kosong pada api unggun yang masih menyala.


Rudy dan Sinta terlihat tenggelam dalam pikiran masing-masing sembari merenungin semua kejadian yang terjadi.


"Bisa-bisa kita mati perlahan kalau begini.." ucap Sinta sembari membenarkan posisi duduknya untuk bersandar pada batu yang sedikit besar di belakangnya.


"Ya ampun, ternyata ada roti.." seru Sinta dengan semangat seolah menemukan harta karun yang berharga.


Rudy melihat sekilas, lalu kembali berwajah dingin sembari menantap api unggun.


Sinta langsung membuka bungkusan roti lalu membelah dua roti itu menjadi dua.


"Ini.." ucap Sinta sembari memberikan setengah roti yang sudah ia belah pada Rudy.


Rudy hanya melihat.


"Gak usah, kamu aja.." tolak Rudy.


Kening Sinta tertaut kesal mendengar penolakan Rudy yang sama laparnya dengan dirinya.


Namun, Sinta langsung meraih tangan Rudy dan memberikan roti itu.


"Makan mas, kali aja ini makanan terakhir sebelum kita mati.." ucap Sinta menantap Rudy.


Rudy terdiam sesaat. Sinta menjauhkan kembali tangannya dan mulai makan dengan perasaan nikmat tiada tara.


Rudy hanya menantap bias. Ucapan Sinta tadi mengusik pikirannya.


"Apa ini memang akhirnya jalan hidupnya?? apa di sini?? di tempat ini?? dengan tidak ada kerabat dekat yang menangisi kematiannya?? hanya bersama wanita asing ini??" guman batin Rudy yang bergelut dengan rasa sedih yang amat dalam.


Sungguh ia tak akan pernah mengira jika pada akhirnya ia menjadi orang yang jahat dan tak berguna. Hingga bahkan menyia-nyiakan sisa hidupnya begitu saja.


Sinta terlihat melahap roti miliknya sampai habis, dengan tetesan air mata yang sama sedihnya dengan Rudy. Ia mengingat semua perjalanan hidupnya yang jauh dari kata bahagia.


Setelah ayahnya pergi, ia dan ibu terus menata hidup. Mengais rejeki dari rumah kerumah. Ia yang berusaha untuk tetap sekolah hingga kuliah, pada akhirnya hanya menjadi tukang jamu.


Hingga ingin rasanya ia menjerit, mengapa takdirnya begitu menyedihkan. Mengapa ia tak seberuntung teman-temannya yang memiliki keluarga utuh.


Sinta bersumpah, jika ia mati di hutan ini. Maka rohnya akan bergentayangan mencari sang ayah. Ia akan menganggu kehidupan sang ayah dengan bayangan hantu dirinya.


Tanpa sadar air matanya terus tumpah.


"Jika Sinta mati, bisa gak.. Sinta titip pesan terakhir untuk ibu??"


Perlahan Rudy melahap roti pemberian Sinta.


"Jika Sinta menyesal.. karena belum bisa membahagiakan ibu sampai akhir hayat Sinta.." ucap Sinta dengan nada sedih.


Wajah Rudy berubah, seketika ia mengingat sang ibu.


"Apa kamu pikir aku bisa hidup juga sampai besok??" tukas Rudy.


Sinta mulai menangis dadanya seolah sesak. Ia benar-benar sedih jika benar ia akan mati di hutan belantara ini maka ia akan mati bersama pria yang tak ia ketahui sama sekali.


"Kita ini memang tidak saling kenal satu sama lain, tapi ini darurat.. kita ini teman yang sama-sama menuju kematian.. disini.. di hutan belantara itu.." tukas Sinta marah.


Rudy menghela nafas.