Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Terungkap



Rudy mengantar Sinta ke kamarnya. Namun di sepanjang jalan itu Sinta hanya diam. Raut ceria yang tadi sore di perlihatkan hilang.


"Sinta.." panggil Rudy lembut.


"Ya mas?"


"Kamu baik-baik saja??"


"Ya, tentu saja.. kenapa mas??" jawab Sinta santai menutup perasaan yang masih syok.


"Ah, mas sedikit merasa aneh.."


"Hm??" sahut Sinta bergumam sembari berjalan beriringan di samping sang kekasih.


Namun entah mengapa Rudy mengurungkan rasa penasarannya.


"Ah, sudahlah.." sela Rudy bias.


Sinta tak membalas, ia memilih tidak memancing pertanyaan yang di urungkan Rudy.


Hingga langkah keduanya tiba di depan kamar Sinta. Rudy berhenti dan menoleh pada Sinta yang berada di samping.


Sinta melepaskan tangannya dari lengan Rudy. Dan berjalan mendekat pada pintu kamarnya. Namun ia berbalik dan menantap Rudy di hadapannya.


"Makasih ya mas"


"Untuk??"


"Ya makasih aja.." sahut Sinta bias menyembunyikan hal yang sulit untuk di jelaskan.


Rudy tersenyum tipis.


"Harusnya mas minta maaf, karena bawa kamu pada tempat yang tidak nyaman.. seperti tadi" balas Rudy menyadari.


Sinta sedikit meresapi. Dan hanya membalas senyum kecil.


"Lain waktu mas akan memilah-milah pertemuan jika bawa kamu" kata Rudy sembari mendekat. Lalu tangan menyentuh ujung rambut Sinta yang berada di pundak. "Mas janji, hal seperti tadi, akan menjadi yang terakhir yang membuat kamu tidak nyaman"


Sinta tersentuh. Lalu dengan spontan ia malah memeluk Rudy.


Untuk beberapa detik Rudy merespon kaget, namun perlahan ia membalas pelukan spontan sang kekasih yang di rasa berbeda dari biasanya.


Tak ada sepatah kata atau ucapan yang keluar dari bibir Sinta. Namun dekapannya membuat Rudy gelisah.


Setelah puas memeluk sang kekasih, Sinta pun mererai pelukannya. Rudy pun melepaskan Sinta.


"Besok, kita pulang.."


Sinta mengangguk.


"Tapi kita pacaran dulu.." seloroh Rudy mengubah suasana.


Sinta membalas dengan wajah tersenyum.


Namun hal itu kian membuat Rudy merasa bersalah pada Sinta.


"Masuklah.. dan kunci pintu kamu dengan benar" perintah Rudy.


Sinta mengangguk patuh.


"Met malam mas.."


"Malam sayang" balas Rudy.


Keduanya pun berpisah, Sinta membuka pintu dan masuk kedalam kamar lalu tak lama ia menutup pintu kamarnya. Rudy melihat tanpa menahan . Dan setelah pintu tertutup sempurna terdengar suara pintu dikunci bertanda Sinta melakukan perintahnya.


Rudy menghela nafas. Entah mengapa ucapan pak Dewa mengusik dirinya. Ia khawatir dan juga cemas.


Dengan menantap pintu kamar Sinta. Rudy pun bersumpah dalam batinnya.


"Siapa pun yang mengusik, aku tidak akan tinggal diam" guman batin Rudy.


Untuk beberapa saat Rudy berada di sana.


Namun di sisi lain, Sinta berdiri membelakangi pintu kamarnya yang sudah terkunci rapat.


Pikirannya terbang akan sosok sang ayah. Ternyata Ayahnya hidup dengan sangat baik, bahkan menjadi jutawan kaya raya hingga sanggup membuat bangunan Resort semewah ini.


Namun, tetap saja, hal itu tidak menghilangkan rasa benci Sinta yang sudah tertanam cukup dalam. Walau ada rindu yang tak bisa di uangkap, namun semua musnah karena rasa kecewa yang cukup dalam.


"Bagaimana pun ini akan menjadi yang terakhir kalinya kita bertemu, ayah!" batin Sinta berjanji.


***


Di kamar Super Vip berbeda. Pak Dewa duduk di meja kerja yang berada dikamar itu. Ia menatap sebuah lembar foto wanita dan anak perempuan yang saat itu berusia 8 tahun.


"Safura.." bisik pak Dewa menyentuh potres wanita yang tersenyum cantik memeluk sang putri yang mendapatkan juara kelas saat itu. " Safura.. aku akhirnya bisa menemukan kalian lagi" tutur pak Dewa penuh haru. "Safura.." lirih pak Dewa dengan memejamkan matanya.


Tak lama, layar handphonen pak Dewa menerima sebuah pesan. Pesan khusus yang berisi tentang informasi seorang Rudy Mahendra.


Pak Dewa tau, mungkin rasanya tak pantas ia mencari tau lebih jauh calon pasangan sang putri. Namun sebagai seorang ayah, sejatinya ia tak ingin jika Sinta jatuh di tangan pria yang salah. Karena Pak Dewa sadar akan kesalahan dirinya di masalalu, karena dia pun bukanlah laki-laki baik untuk mantan istri dan anaknya.


***


Ke esokan paginya. Pak Dewa dan rombongan benar-benar persiap untuk kembali ke kota.


Rudy mengantar sebagai sopan santun dan rasa tanggung jawab.


Ketika langkah pak Dewa dan Rudy berada di pintu depan Resort. Terlihat pak Dewa menahan langkah dan berhenti sejenak.


Rudy pun melakukan hal yang sama. Terlihat Pak Dewa menatap kebelakang berharap dapat melihat sosok sang putri sebelum ia pergi. Namun tampaknya itu hal yang sangat sulit.


Lalu dengan hela nafas sedih ia menantap Rudy cukup dalam.


"Nak Rudy.."


Rudy merespon dengan menatap pak Dewa yang terlihat serius.


"Saya mau mengucapkan rasa terima kasih.." kata pak Dewa serius. Lalu ia menghela nafas panjang dengan wajah hangat. " Dan tolong jaga Sinta.." pesan pak Dewa tanpa terduga.


Rudy mendengar dengan penuh tanda tanya yang cukup besar.


"Saya sudah kehilangan semuanya dan berharap kamu bisa mengantikan rasa kehilangan itu dengan menjaga Sinta.."


Rudy mulai jenggah dengan ucapan membingungkan pria tua ini.


"Pak Dewa? apa maksud ucapan anda?"


Pak Dewa sedikit menghela nafas.


"SaDewa" sela pak Dewa sembari melihat kedepan. "Adalah nama yang saya ambil dari mantan istri dan saya.. Safura dan Dewanta"


Rudy mencerna.


"Dan dari pernikahan itu, kami memiliki seorang putri.." jelas Pak Dewa tergantung. Lalu pak Dewa menantap Rudy yang berwajah bingung.


"Sinta Ramanithia, gadis jamu itu adalah putriku satu-satunya.."


Deg.. Rudy terkejut mendengar nama sang kekasih.


"Apa??" seru Rudy tak percaya.


Pak Dewa sudah menduga reaksi terkejut Rudy. Dan Pak Dewa mengangguk pelan.


"Sinta adalah putriku, dan semalam adalah pertemuan pertama setelah sekian tahun berpisah.."


Deg..


Rudy tak dapat percaya. Jadi reaksi dan suasana aneh semalam benar-benar bukan terjadi dengan tanpa alasan.


Ternyata Rudy sudah membawa Sinta bertemu dengan ayah kandungnya yang sudah lama menghilang.


Pak Dewa sedikit tertunduk sedih. Setelah membuka identitas dirinya pada pria yang akan menjadi calon pasangan putrinya. Tiba-tiba pak Dewa merangkul pundak Rudy.


"Mungkin kau sulit untuk percaya, tapi aku adalah ayah kandung Sinta.." ujar pak Dewa menyakinkan.


Rudy tak bisa berkomentar, ia sedang mencoba menguasai rasa terkejutnya yang sungguh luar biasa. Ia bahkan sempat salah mengira ucapan pak Dewa semalam yang berpikir jika pak tua ini menaruh hati pada sang kekasih. Namun nyatanya, semua berbanding terbalik.


Takdir yang tak terduga malah membawa dirinya menjadi orang yang mempertemukan Sinta dengan ayah kandungnya.


"Jika kau menikah dengan putriku, maka akan aku berikan seluruh hartaku pada mu, asal.. kau bisa membuat hidup putriku bahagia"


Rudy tak percaya.


Pak Dewa menepuk pelan pundak Rudy dua kali.


"Jika kamu perlu butik, silahkan datang pada ku.. kapan pun" ucap pak Dewa dengan nada serius. "Dan dihadapan putriku, tolong untuk tetap berpura-puralah tidak tau, jika kamu sudah mengetahui tentang fakta sebenarnya antara aku dan Sinta" pinta pak Dewa dengan sorot mata seorang ayah yang merasa bersalah.


"Pak??"


"Rudy, sejujurnya waktu ku tidaklah banyak, dan aku sedikit merasa lega dapat bertemu dengan putri ku kembali.. walau aku tau jika tidak ada satu pintu maaf untuk diriku.. karena itu"


Rudy terpaku.


"Jaga Sinta" tutur pak Dewa memberi kepercayaan singkat namun begitu berarti.


Perlahan pria tua itu berlalu pergi meninggalkan Rudy.