
Entah saat ini pukul berapa, tapi yang pasti ya. Sinta mendengar ada suara yang berbicara di luar kamarnya.
Ketika Sinta mengerjap membuka mata, ia merasa sakit kepala yang luar biasa.
"Aduh..ssshh.. kepala ku, sakit banget.." gumam Sinta yang merasakan sakit kepala yang tak biasa, seolah ada satu palu mengetuk sisi kepalanya.
Perlahan kedua mata Sinta terbuka dan mengedarkan pandangan penuh bingung pada tempat yang sangat asing bagi Sinta.
"Ini dimana??" tanya Sinta dengan mencoba mengingat-ingat hal apa yang terjadi kemarin.
Dan untuk beberapa detik serangkaian peristiwa pun kembali terbayang jelas. Penolakan mas Agung, Sarah di rumah sakit dan yang terakhir adalah saat bersamaan mas Rudy.
Deg..jantung Sinta berdegup cepat. Sontak ia meraba diri ketika mengingat jika ia terakhir kalinya bersama mas Rudy tengah menikmati minuman yang memabukkan.
Sinta menyingkap selimut dengan kedua mata terbelalak kaget.
Deg...
"Aaaah..Syukurlah masih lengkap.." hela Sinta yang lega ternyata pakaiannya masih utuh di tubuhnya. Dan karena hal itu semua saraf ototnya kembali lemah akibat masih terasa pengaruh alkohol yang kuat.
"Tapi ini dimana??" gumam Sinta yang masih betah berdiam diri dibawah selimut yang menutup dirinya.
Tok..tok..daun pintu terketuk.
Sinta merespon kaget dan seketika was-was.
Namun ketika pintu terbuka, ternyata sosok mas Rudy masuk dengan membawa dua paper bag dan meletakkannya di dekat sisi ranjang.
Dan betapa kagetnya Sinta ketika melihat mas Rudy yang terlihat berbeda dengan pakaian piayama yang di kenakan.
"Waaah.." decak Sinta tanpa sadar.
"Kamu sudah bangun.." sapa Rudy dengan berjalan setengah masuk kedalam kamar tamu.
Sinta masih menutup diri.
"Apa kamu merasa sakit kepala??" tanya Rudy.
Sinta dengan cepat mengangguk.
Rudy berjalan lebih masuk dan menuju pada sisi tempat tidur Sinta yang masih menyembunyikan diri dibawah selimut.
Lalu dengan cepat tangan Rudy menyentuh kening Sinta.
Untuk beberapa saat Rudy menerka suhu tubuh Sinta yang ia rasa normal.
"Hm, syukurlah kamu tidak demam.." ucap Rudy lega.
Kedua bola mata Sinta melihat gerak gerik mas Rudy.
"Karena kamu tidak demam, ada lebih baiknya kamu mandi dulu.. setelah itu minum obat penghilang rasa sakit dan sarapan.." ujar Rudy.
Sinta tak menjawab, dia terus menantap Rudy.
"Ya, sudah kalau begitu.. Mas juga mau mandi dulu.." ujar Rudy sembari hendak berlalu. Namun tiba-tiba Sinta bergerak bangun dan meraih jemari Rudy.
"Mas Rudy.." seru Sinta menahan.
Rudy kaget dan setengah menoleh pada Sinta yang kini duduk di tempat tidur.
Untuk beberapa saat Sinta menatap Rudy. Lalu tak lama ia tersenyum.
"Makasih ya mas.."
"??" Rudy menantap penuh tanya.
"Makasih karena sudah baik sama Sinta dan mau menemani Sinta bahkan jaga Sinta.."
Deg.. Rudy mematung untuk sesaat. Jantungnya tak bisa ia kendalikan dengan degup yang begitu mengusik karena kata-kata berkesan dari Sinta.
Rudy terlihat serba-salah.
"Hm.." respon Rudy seadanya. "Bagaimana perasaanmu??"
Sinta terlihat menghela nafas.
"Ehm.. masih sakit sih tapi.. jauh lebih baik, karena.." ucap Sinta tergantung sulit.
Rudy menanti.
Namun Sinta hanya membalas senyum penuh arti.
"Ya, mungkin perlu waktu.. tapi Sinta baik-baik saja kok, kan ada mas Mentor.." celetuk Sinta manja.
Rudy seketika terkekeh. Lalu dengan spontan melepaskan tangan dari jemari Sinta dan langsung mengetuk kepala gadis jamu yang membuat Rudy mengutuk diri sendiri.
Pletak..
"Auuuwww.. sakit mas!!" protes Sinta dengan mengerang manja mengusap kepala yang baru saja di ketuk oleh Rudy.
"Dasar kamu.." celetuk Rudy. "Sudah cepat mandi sana, kamu itu bau tau gak.." cibir Rudy sinis.
Sontak Sinta mengendus dirinya sendiri.
"Uwek.. bau apa nie!!"
Rudy tertawa kecil sembari berjalan memuju pintu.
"Semalam kamu sempat muntah, dan kayaknya kena sedikit di baju kamu.. " ujar Rudy sembari meraih pedal pintu untuk ia tutup.
"Hah?? serius mas??"
Rudy tak menjawab namun hanya menyeringai kecil.
"Nanti mas tunggu di meja makan, oke.." seru Rudy lalu perlahan pintu kamar tamu pun tertutup.
Ia sedikit tersenyum simpul.
"Baik banget mas Rudy.. udah baik, pengertian lagi..dimana coba punya teman se baik itu.. mana gue di jaga kagak di apa-apain lagi.. duh, bersyukur banget bisa punya teman begini..duh, kenapa kagak dari dulu gue ketemu temen seperti ini ya Tuhan.. jadi kan kagak perlu ada yang namanya sakit hati, apa lagi makan hati.." gumam batin Sinta yang kian kagum pada sosok Rudy yang seketika level tertinggi jatuh pada sosok Rudy.
Sinta sedikit merenggankan tubuhnya yang sedikit pegal-pegal. Sembari terus terkagum akan sosok Rudy.
"Dan kalau udah sebaik dan sepengertian ini level cowok, terus kenapa doi bisa bercerai sampai dua kali yaa??" gumam batin Sinta yang mulai bergulat dengan realita yang ia lihat.
"Masa iya mas Rudy jahat yaa? atau.. jangan-jangan memang si mbaknya aja banyak nuntut ini itu kali yaa ?? atau kurang nurut??" tebak-tebak Sinta berpikir.
Dan ia pun menghela nafas panjang, sekilas ia mengingat wajah Rudy yang begitu jelas terlihat menyesal karena telah kehilangan wanita yang benar-benar mencintai dirinya.
Sesaat Sinta mengingat di saat moment yang tak biasa, saat mas Rudy datang membawa sebuah sandaran di saat semua pergi meninggalkan Sinta.
Sinta tak akan pernah bisa lupa moment ketika tangisnya tumpah di pelukan mas Rudy.
Dan sesaat Sinta merasa tenang. Pelukan mas Rudy bagai obat penghilang rasa sakit.
***
Namun di sisi lain, tepatnya di luar pintu kamar tamu. Rudy berdiri mematung di tempatnya.
Terlihat ia tenggelam dalam ingatannya yang mungkin akan sulit Rudy lupakan.
Ciuman panas saat naluri kelaki-lakiannya terpanggil disaat Sinta mabuk berat.
FlashBack
Di saat bibir Rudy mencium bibir Sinta dengan intim. Terlihat reaksi Sinta yang menikmati dan di buat melayang dengan permainan bibir Rudy yang begitu mahir.
Rudy menuruti naluri nafsunya yang sudah hampir 2 tahun tak pernah ia lepaskan tuntas.
Ciuman Rudy kian menuntut. Permainan lidah yang memaksa masuk pada rongga mulut Sinta yang terlihat kewalahan dengan kemahiran ciuman hasrat Rudy yang kian liar.
Jemari Sinta mengusap dada bidang Rudy. Ada rasa bergejolak bak sengatan listrik di setiap saraf sensitif Sinta yang perlahan terpanggil.
Dengan instingnya, Rudy membawa tubuh Sinta untuk lebih intim kedalam dekapannya.
Perlahan namun pasti cembuan itu kian menuntut lebih, sehingga dengan instingnya Rudy membawa tubuh Sinta untuk merebahkan diri bersama.
Ciuman kian panas. Sinta tak tinggal diam, seolah inilah hal yang sudah lama ingin ia lakukan bersama seorang yang ia cintai.
Sesaat ciuman panas itu terlepas. Dan Rudy berpindah mencium sisi jenjang leher Sinta.
Sinta mendesak nikmat.
"Mass.." desah Sinta merintih.
Nafsu Rudy kain bergejolak.
"Mas Agung.." rancau Sinta yang kain merasa nikmat tiap cumbuan Rudy yang menjamah dirinya.
Deg..
Dan di saat itu Rudy tersadar.
Perlahan Rudy menatap Sinta yang terlihat sangat menikmati cumbuannya.
"Mass.." suara Sinta manja, seolah meminta untuk tak berhenti cumban nikmat itu.
"Mas Agung.." seru Sinta dengan mengusap wajah Rudy yang masih syok tersadar.
Saliva Rudy turun dengan kasar dan seketika nafsu bergejolaknya hilang ketika menyadari sosok yang hampir saja ia jadikan pelampiasan hasratnya.
Perlahan terlihat Sinta merapat diri memeluk tubuh telanjang dada Rudy dengan manja tertidur di sisi pria yang ia bayangkan adalah Agung.
Dan akhirnya untuk beberapa saat Rudy mengusap punggung Sinta yang ternyata menangis dalam tidurnya.
Sesaat Rudy mengutuk dirinya sendiri yang nyaris memperkosa Sinta yang tak sadar.
Dan malam itu Rudy melewatkan malamnya bersama Sinta dengan menemani gadis jamu itu tidur.
FlashBack off
Dan kini Rudy berharap Sinta tak mengingat kejadian yang hampir saja merenggut kesuciannya.
"Semoga dia tak ingat kejadian malam itu.." lirih Rudy yang berharap banyak.
Lalu ia pun berlalu pergi menuju kamar utama untuk segera mandi.
***
Namun di sisi lain, di saat Sinta selesai mandi dan tengah berkaca di depan cermin wastafel. Ia melihat dengan sangat kaget pada bentuk bibirnya yang sedikit bengkak.
"Loh?? bibir gue kenapa bisa bengkak begini??" gumam batin Sinta bertanya-tanya.
Lalu saat ia hendak mengeringkan rambutnya, lagi ada satu tanda tak biasa pada sisi leher dan pundaknya.
"Loh?? ini juga kenapa lagi?? sejak kapan gue punya tanda lahir begini??" tanya Sinta terheran-heran pada tanda yang tiba-tiba ada di tubuhnya.
"Satu.. dua.. eh ini juga, tiga.." seru Sinta menghitung tanda tak biasa yang kini berada di leher dan pundaknya.
Kening Sinta kian berkerut heran.
"Masa iya gue di gigit nyamuk.. ini kan di rumah orang kaya.. masa iya ada nyamuk hutan nyasar kesini sih??" gumam Sinta menebak-nebak serangga apa yang bisa membuat tanda sebegitu merah di leher dan pundaknya. "Iiikh, apa ada nyamuk jadi-jadian kali yaa? iiiihhh.." Sinta mengidik seram.
"Ck, kudu beli salap lah ini, takutnya berbekas lama.." cibir Sinta menyudahi rasa penasaran pada serangga nakal yang berani-beraninya menggigit dirinya di saat lengah.
"Ah, ya sudahlah.. sekarang makan dulu.. laper.." ujar Sinta yang akhirnya keluar dari kamar mandi dengan segar dan telah berganti pakaian yang di berikan oleh mas Rudy.
Sinta pun keluar dengan perasaan ringan dan lebih tenang.