
Dan akhirnya permainan itu pun di mulai. Tim Ungu dua telah memasuki hutan yang di ikuti oleh Sinta dan Jodi, Rudy memimpin sebagai ketua tim.
Setelah agak jauh masuk kedala hutan. Seketika semua berubah. Jalan mengendap-ngendap, mata terlihat waspada, jantung berdebar cepat seolah rasa was-was menguasai diri Sinta yang jadi tegang karena situasi medan permainan airsoft gun yang terasa sungguhan.
Namun berbeda dengan Rudy dan Jodi yang terlihat menikmati permainan itu.
Rudy melangkah di depan dengan hati-hati. Matanya yang bak elang melihat dengan gesit suatu gerakan di belakang semak pohon rendah.
Rudy sedikit berpaling untuk memberi kode pada Jodi.
Sinta mencoba mengerti kode pesan yang tak ia paham.
"Ikh, apa sih kode-kodean?? kagak ngerti tau?" ceplos Sinta.
Mendengar suara sinta yang berbicara tanpa di duga suara tembakan terdengar.
Slep..plak.. sebuah peluru airsoft gun mengenai jas pelindung Sinta tanpa terduga.
Rudy dan Jodi segera tiarap ke tahan. Dan wajahnya mereka berubah.
"Merunduk!!" perintah Rudy cepat pada Sinta yang masih terkejut.
Dengan cepat Sinta merunduk didekat semak.
"Ini akibatnya jika kau berisik!!" tukas Rudy berbisik. Jodi mengangguk menyetujui ucapan ketua tim.
"Ka-kan aku gak tau.." balas Sinta berbisik dengan wajah kesal.
Wajah Rudy berubah dengan cepat ketika terdengar suara langkah yang tergesa. Satu jemarinya cepat menyentuh bibir seolah memberi kode untuk diam dan mendengar lebih jelas lagi langkah kaki itu.
Jodi memberanikan diri untuk mengintip. Dan benar tim Hijau datang melintas dengan membentuk lingkaran berkeliling melindungi anggota wanitanya.
Jodi kembali turun dan memberi kode pada Rudy. Jika tim Hijau sedikit lengah karena anggota wanita mereka terdiri dari 4 orang dan yang berjaga hanya 2 saja yang terlihat siaga.
Rudy sedikit bergerak untuk memantau sendiri kondisi tim Hijau. Dan benar, tim hijau terlalu lengah. Perlahan Rudy mempersiapkan senjata yang untuk mulai membidik salah satu anggota wanita tim hijau.
Terlihat Jodi juga melakukan hal yang sama dengan Rudy. Hanya Sinta yang tak melakukan apa-apa, ia terlihat bingung sendiri.
Dan tak perlu menunggu waktu lama, airsoft gun Rudy pun sukses melepaskan peluru dari senapannya.
Dorr.. dor.. dua kali peluru itu melesat dan dan dengan sukses menena pada dua wanita tim anggota Hijau.
"Aaahh.." jerit para wanita itu bersamaan.
Sinta terkaget.
Jodi pun berhasil melepaskan serangan pada salah satu tim anggota pria hijau.
Kepanikan tim Hijau pun terjadi. 3 anggota mereka di serang sekaligus.
Rudy memberi kode pada Jodi untuk menahan dan mundur agar mereka tak terbaca.
Namun Rudy tersenyum menang. Dan tanpa di duga Rudy menarik tangan Sinta untuk bergegas pindah dari tempat aman itu.
Jodi mengikuti dengan senyum yang sama puasanya.
***
Kini tim 2 Ungu telah sampai di posko bantuan. Dan Rudy merasa kepalanya sedikit pusing.
"Gak lama lagi, kita hampir sampai finis.." ujar Jodi bersemangat meminum air aqua gelas.
Sinta berjongkok di tepi posko, kakinya sudah tidak kuat lagi berjalan.
"Sudah siap, ayo kita jalan lagi.. sebelum tim lain bertemu dengan kita.." ajak Jodi bersemangat lali melangkah lebih dahulu meninggalkan Sinta dan Rudy yang masih terlihat memijit kepalanya.
"Semangat yaa.." seru petugas posko yang memberi semangat pada peserta.
Rudy akhirnya ikut jalan dengan menahan sakit kepala.
Sinta yang melihat mau tidak mau harus mengikuti langkah ketua tim. Mereka berjalan dengan langkah bisa, tidak seperti pada awal permainan.
"Ck, masa tukang jamu di suruh begini.. mana kuat" rutu Sinta yang mengomel sendiri.
Sinta menantap depan, namun Jodi telah berjalan cukup jauh meninggalkan mereka.
"Hay, Jodi tunggu!!" seru Sinta sembari berlari dan melewati Rudy yang terlihat berjalan pelan.
Namun ketika Sinta hampir mendekat pada Jodi. Sekilas Sinta menoleh kebelakang untuk memastikan sang ketua tim.
Tapi betapa kagetnya Sinta. Ia melihat Rudy tiba-tiba tidak ada di sana.
"Loh?? mas Rudy?" seru Sinta yang kaget tak menemukan pria itu di belakangnya. "Jodi, mas Rudy kemana??" tanya Sinta yang berbalik untuk melihat rekannya.
Namun betapa kagetnya ia, Jodi tidak ada di sana.
"Loh?? Jodi!!" panggil Sinta. Dengan mencoba mencari sosok teman satu timnya itu. "Duh, kalian kemana sih??" ujar Sinta yang takut kehilangan jejak dan memutuskan untuk berjalan kedepan tempat yang ia yakini Jodi berada di sana tadi.
Namun ketika Sinta hendak melangkah, tiba-tiba ia mendengar suara Rudy.
"Alia?" panggil Rudy yang terdengar jelas di pendengaran Sinta.
Dan tanpa di duga kedua mata Sinta melihat Rudy berjalan kelain arah dengan tangannya terus mengapai sesuatu.
"Alia, tunggu.." seru Rudy dengan terus berjalan kearah yang berbeda dengan jalan yang Jodi lalui.
Sinta pun bimbang di antara dua anggota timnya itu.
"mas Rudy? atau Jodi??"
Dan akhirnya permainan itu pun di mulai. Tim Ungu dua telah memasuki hutan yang di ikuti oleh Sinta dan Jodi, Rudy memimpin sebagai ketua tim.
Setelah agak jauh masuk kedala hutan. Seketika semua berubah. Jalan mengendap-ngendap, mata terlihat waspada, jantung berdebar cepat seolah rasa was-was menguasai diri Sinta yang jadi tegang karena situasi medan permainan airsoft gun yang terasa sungguhan.
Namun berbeda dengan Rudy dan Jodi yang terlihat menikmati permainan itu.
Rudy melangkah di depan dengan hati-hati. Matanya yang bak elang melihat dengan gesit suatu gerakan di belakang semak pohon rendah.
Rudy sedikit berpaling untuk memberi kode pada Jodi.
Sinta mencoba mengerti kode pesan yang tak ia paham.
"Ikh, apa sih kode-kodean?? kagak ngerti tau?" ceplos Sinta.
Mendengar suara sinta yang berbicara tanpa di duga suara tembakan terdengar.
Slep..plak.. sebuah peluru airsoft gun mengenai jas pelindung Sinta tanpa terduga.
Rudy dan Jodi segera tiarap ke tahan. Dan wajahnya mereka berubah.
"Merunduk!!" perintah Rudy cepat pada Sinta yang masih terkejut.
Dengan cepat Sinta merunduk didekat semak.
"Ini akibatnya jika kau berisik!!" tukas Rudy berbisik. Jodi mengangguk menyetujui ucapan ketua tim.
"Ka-kan aku gak tau.." balas Sinta berbisik dengan wajah kesal.
Wajah Rudy berubah dengan cepat ketika terdengar suara langkah yang tergesa. Satu jemarinya cepat menyentuh bibir seolah memberi kode untuk diam dan mendengar lebih jelas lagi langkah kaki itu.
Jodi memberanikan diri untuk mengintip. Dan benar tim Hijau datang melintas dengan membentuk lingkaran berkeliling melindungi anggota wanitanya.
Jodi kembali turun dan memberi kode pada Rudy. Jika tim Hijau sedikit lengah karena anggota wanita mereka terdiri dari 4 orang dan yang berjaga hanya 2 saja yang terlihat siaga.
Rudy sedikit bergerak untuk memantau sendiri kondisi tim Hijau. Dan benar, tim hijau terlalu lengah. Perlahan Rudy mempersiapkan senjata yang untuk mulai membidik salah satu anggota wanita tim hijau.
Terlihat Jodi juga melakukan hal yang sama dengan Rudy. Hanya Sinta yang tak melakukan apa-apa, ia terlihat bingung sendiri.
Dan tak perlu menunggu waktu lama, airsoft gun Rudy pun sukses melepaskan peluru dari senapannya.
Dorr.. dor.. dua kali peluru itu melesat dan dan dengan sukses menena pada dua wanita tim anggota Hijau.
"Aaahh.." jerit para wanita itu bersamaan.
Sinta terkaget.
Jodi pun berhasil melepaskan serangan pada salah satu tim anggota pria hijau.
Kepanikan tim Hijau pun terjadi. 3 anggota mereka di serang sekaligus.
Rudy memberi kode pada Jodi untuk menahan dan mundur agar mereka tak terbaca.
Namun Rudy tersenyum menang. Dan tanpa di duga Rudy menarik tangan Sinta untuk bergegas pindah dari tempat aman itu.
Jodi mengikuti dengan senyum yang sama puasanya.
***
Kini tim 2 Ungu telah sampai di posko bantuan. Dan Rudy merasa kepalanya sedikit pusing.
"Gak lama lagi, kita hampir sampai finis.." ujar Jodi bersemangat meminum air aqua gelas.
Sinta berjongkok di tepi posko, kakinya sudah tidak kuat lagi berjalan.
"Sudah siap, ayo kita jalan lagi.. sebelum tim lain bertemu dengan kita.." ajak Jodi bersemangat lali melangkah lebih dahulu meninggalkan Sinta dan Rudy yang masih terlihat memijit kepalanya.
"Semangat yaa.." seru petugas posko yang memberi semangat pada peserta.
Rudy akhirnya ikut jalan dengan menahan sakit kepala.
Sinta yang melihat mau tidak mau harus mengikuti langkah ketua tim. Mereka berjalan dengan langkah bisa, tidak seperti pada awal permainan.
"Ck, masa tukang jamu di suruh begini.. mana kuat" rutu Sinta yang mengomel sendiri.
Sinta menantap depan, namun Jodi telah berjalan cukup jauh meninggalkan mereka.
"Hay, Jodi tunggu!!" seru Sinta sembari berlari dan melewati Rudy yang terlihat berjalan pelan.
Namun ketika Sinta hampir mendekat pada Jodi. Sekilas Sinta menoleh kebelakang untuk memastikan sang ketua tim.
Tapi betapa kagetnya Sinta. Ia melihat Rudy tiba-tiba tidak ada di sana.
"Loh?? mas Rudy?" seru Sinta yang kaget tak menemukan pria itu di belakangnya. "Jodi, mas Rudy kemana??" tanya Sinta yang berbalik untuk melihat rekannya.
Namun betapa kagetnya ia, Jodi tidak ada di sana.
"Loh?? Jodi!!" panggil Sinta. Dengan mencoba mencari sosok teman satu timnya itu. "Duh, kalian kemana sih??" ujar Sinta yang takut kehilangan jejak dan memutuskan untuk berjalan kedepan tempat yang ia yakini Jodi berada di sana tadi.
Namun ketika Sinta hendak melangkah, tiba-tiba ia mendengar suara Rudy.
"Alia?" panggil Rudy yang terdengar jelas di pendengaran Sinta.
Dan tanpa di duga kedua mata Sinta melihat Rudy berjalan kelain arah dengan tangannya terus mengapai sesuatu.
"Alia, tunggu.." seru Rudy dengan terus berjalan kearah yang berbeda dengan jalan yang Jodi lalui.
Sinta pun bimbang di antara dua anggota timnya itu.
"mas Rudy? atau Jodi??"