Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Pergi



Sinta tidak tau ia sedang mendengarkan apa, namun ia pastikan jika suara itu tengah memanggil namanya.


Sinta berusaha bangun dari rasa ngantuk yang luar biasa dengan hawa dingin begitu kuat menusuk hingga kedalam tubuhnya.


"Siinntaaaa..." panggil suara yang lagi-lagi terdengar dari kejauhan. "Rudyyyyy!!"


Kening Sinta tertaut seiring dengan terbukannya kedua kelopak mata. Kedua matanya mengerjap untuk bisa terbuka sempurna. Hawa dingin nyatanya membuat tubuhnya mengigil hela nafas yang begitu hangat berhembus di wajah Sinta.


Dan ketika kedua matanya terbuka betapa terkejutnya Sinta saat mendapatkan wajah mas Rudy berada beberapa inci dari wajahnya.


Sontak Sinta mendorong tubuh Rudy yang tak ada perlawanan.


Dan Sinta langsung terlonjak bangun dengan lutut yang lemas. Lalu mendapatkan kenyataan yang sangat mengejutkan jika ia berada di tengah hutan.


Sesaat Sinta baru sadar jika ternyata ia masih hidup dan masih berada di dalam hutan belantara ini.


"Sintaaa???" panggil suara yang terdengar dari kejauhan memanggil namanya.


Sinta kembali terkejut.


"Rudyyyy??" suara itu kembali memanggil nama mas Rudy.


Mendengar suara-suara yang terus memanggil nama mereka secara bergantian. Sontak membuat Sinta sadar bahwa itu pasti sekelompok orang yang mencari keberadaan mereka.


"Mas Rudy!! mas Rudy bangun mas.." ucap Sinta sembari mengguncangkan tubuh Rudy yang masih terlihat tak bergeming setelah di dorong Sinta.


"Mas Rudy bangun.. bangun mas, itu..itu ada yang cari kita.." ucap Sinta lagi dengan berusaha membangunkan Rudy sembari masih mendengarkan suara-suara yang terus memanggil.


"Mas Rudy!!" panggil Sinta kembali dengan berusaha untuk membuat pria itu bangun.


Namun tampaknya telah terjadi sesuatu pada Rudy. Sinta yang curiga langsung memegang wajah Rudy yang ternyata suhu kulitnya cukup panas.


Sinta terperanjah.


"Ya Tuhan, mas Rudy!!" kepanikan pun menyerang Sinta.


Dan disaat bersamaan suara-suara yang memanggil nama Sinta dan Rudy seolah perlahan menjauh.


Sinta di hadapkan dua dilema. Langsung pergi meninggalkan Rudy atau ia akan bersama Rudy?.


"Ya Tuhan bagaimana ini??"


"Sintaaaa!!" panggil suara yang terdengar hampir samar.


Debut jantung Sinta kian gundah.


Ia bimbang. Haruskan ia meninggalkan teman tersesatnya begitu saja dan pergi untuk menyelamatkan diri?.


Sinta bimbang sembari mengigit bibir bawahnya.


Namun di tengah kebimbangannya, tiba-tiba jemari Rudy bergerak dan meraih tangan Sinta yang berada di wajahnya.


Diantara sadarnya Rudy membuka mata dan menatap Sinta dengan wajah kecemasan.


Sinta kaget ketika melihat Rudy yang sadar.


"Mas Rudy..Mas Rudy ayo.. ada bala bantuan yang mencari kita.." ajak Sinta bersemangat.


Namun wajah Rudy terlihat datar.


"Pergi.." bisik Rudy dengan suara pelan.


Sinta diam terpaku mendengar suara lemah Rudy.


"Mas Rudy.."


Sekarang Sinta menangis.


"Iya, ayo mas.. ayo kita kejar mereka.."


Rudy menggeleng lemah.


"Aku sudah tak mam-pu..aku terlalu lelah dan lemah" sahut Rudy lemah.


Perlahan Rudy melepaskan jemarinya dari tangan Sinta.


"Per-gi..pergi Sinta.."


Tangis Sinta pecah ia tak bisa menerima jika harus meninggalkan Rudy seorang diri di hutan ini.


"Ayo mas, kita pasti..bersama"


Rudy menepis tangan sinta dengan tenang terakhirnya.


"Pergi.. jangan sesali, kamu masih punya kesempatan untuk mengubah langkah kaki kamu.. sedangkan aku, sudah tak punya pilihan selain mengakhiri semua disini.. aku memang sudah tak punya kesempatan apapun jika aku kembali" ucap Rudy.


"Sintaaaa!!" panggil suara itu lagi yang kian mengusik moment emosional Sinta dan Rudy.


Sinta menangis tak terkendali dan Rudy membalas dengan mengangguk pelan seolah memberi keyakinan pada Sinta bahwa semua sudah menjadi jalan cerita mereka berakhir disini.


"Mas Rudy.."


"Terimakasih Sinta.. kamu masih mau menangis saat terakhir orang seperti aku ini.." ucap Rudy dengan senyum simpul.


***


Dan akhirnya Sinta pergi meninggalkan Rudy seorang diri di hutan.


Rudy berharap Sinta yang sudah pergi sedari tadi. Pasti sudah bertemu dengan tim relawan.


Rudy menatap lama pada langit yang berwarna sedikit mendung.


Kesadarannya kian menurun karena demam tinggi yang menyerang dirinya akibat dari kaki yang keseleo hebat.


Rudy menatap lama pada langit sembari mengenang masa-masa keemasaannya saat bersama keluarganya. Tak lama wajah kedua adik kandung Rudy, Rara dan Radit pun ikut terbayang. Bahkan sosok ibu dan almarhum sang Papa juga masih bisa ia ingat jelas.


Hingga saat masa kebahagiaan Rudy seakan untuk dengan kehadiran Rudy yang kian mewarnai hari-hari terbaik Rudy saat itu. Sesaat tanpa sadar air matanya jatuh.


"Ibu, Rara, Radit.. maafkan mas Rudy.. maafkan semua kesalahan mas yang tak bisa menjadi contoh yang baik untuk kalian.." lirih batin Rudy perih.


"Ibu..maafkan putramu" ucap batin Rudy sakit.


"Alia, aku sangat berterima kasih karena kau berhasil membuat aku menyesal begitu dalam..hapus aku dan berbahagialah dengan Topan.." doa tulus Rudy di antara sadarnya yang kian tipis.


Rintik-rintik hujan turun membasahi Rudy yang tak mampu lagi bergerak.


Seolah kepergiannya ditemani oleh hujan.


Namun di saat kesadaran Rudy mulai hilang tiba-tiba terdengar suara memanggil namanya.


"Mas Rudyyyy!!"


Rudy yang tak bisa berkata-kata hanya sekilas melihat jika ada seorang wanita kembali kepadanya di tengah hujan yang kian lebat.


"Sin-ta.." ucap Rudy dengan kedua mata akhirnya terpejam.