
Sudah 1 harian Sarah menunggu balasan pesan dari Agung. Dan pria itu tak membalas pesan yang sudah ia kirim 7 jam yang lalu.
Sarah menatap layar handphonenya berpikir dengan cemas.
"Ada apa? tumben mas Agung gak balas pesan.." gumam Sarah bertanya dalam hati.
Sarah kembali mengetik sesuatu di layar pesan dengan cepat. Namun tiba-tiba ia urungkan dan menghapus kalimat pertanyaan yang akan ia kirimkan pada sang kekasih.
Sarah menghela nafas lalu meletakkan handphonenya begitu saja di atas meja. Jemari kanannya memijat kepala yang tidak sakit, namun hanya rasa cemas yang terus menyelimuti hatinya.
***
Sore itu Agung masih berada di ruangannya menantap map milik peserta mitra Mahendra. Namun dari sekian banyak map pendaftaran yang masuk hanya map bernota kuning berada terpisah.
Wajah Agung terlihat tak biasa, ia mengingat bayang sang Direktur membawa sang teman baiknya pergi bersama kedalam lift.
Tangan Rudy Mahendra mengenggam erat jemari Sinta yang ia rasa tak pernah terjamah pria lain.
"Sudahlah, lebih baik bertanya pada Sinta langsung.." ujar Agung memutuskan pikiran piciknya.
Mengingat hal itu, ia merasa pusing sehingga dengan hela kesal akhirnya ia bangkit dan memutuskan untuk pulang.
***
Malam harinya, Sinta tengah mencuci beberapa bahan jamu yang akan ia proses besok pagi.
Dan di sela-sela itu terdengar suara pesan wa masuk silih berganti.
Setelah membereskan bahan rempahan yang sudah bersih. Sinta duduk di meja makan dengan membuka pesan yang masuk sedari tadi.
Setelah membaca ternyata pesan para pelanggannya yang sudah mengirim pesan orderan yang akan di ambil besok.
Senyum sinta terkembang lebar. Ia bersyukur ternyata perjalanan bakulan jamunya kian diminati.
Namun di saat membaca pesan-pesan itu, terlihat satu nomor dengan memiliki 10 digit. Kening Sinta tertaut bingung, dan ia berpikir sangat jarang mendapatkan nomor yang terlihat spesial ini.
Sinta membuka layanan pesan itu dan membaca pesan yang cukup mencengangkan.
"Mbak jamu, besok sediakan 2 botol jamu bugar untuk ku.." baca Sinta sembari berpikir.
"Untuk ku?? siapa?" tanya Sinta pada layar handphonenya.
Lalu ia pun Sinta mengetik pesan dan membalas pesan dari nomor spesial itu.
"Jika ingin memesan mohon tulis dalam format pesanan yang benar, nama dan alamat yang jelas, agar mudah mencatat dan mudah dalam pengiriman jamunya, terimakasih .." balas Sinta lalu tak lama ia mengirim format pesanan yang biasa ia berikan pada para pelanggan.
Setelah pesan terkirim, tak beberapa sebuah balasan kembali di terima kedalam layar handphone Sinta.
Sebuah emoji jempol yang cukup besar. Lalu tak beberapa lama sebuah picture kembali Sinta terima.
Sinta mengamati dengan wajah bingung. Bagaimana tidak picture foto itu hanya menunjukkan tangan seorang pria yang sedang memegang botol kosong jamu miliknya.
Sinta mencoba mengingat dan seketika terserang kaget.
"Mas Rudy!!" seru Sinta yang tak salah menilai jika tangan dengan lengan jas bernuansa biru gelap adalah milik Direktur Mahendra yang tadi siang ia temui.
Karena terlalu penasaran Sinta pun langsung mengetik balasan pada layar handphonenya.
"Ini mas Rudy, benar kan??" tulis Sinta dan mengirim pesan itu.
Dan lagi-lagi sebuah emoji jempol besar terkirim di layar pesan Sinta.
Melihat tanda emoji itu seketika Sinta senang.
"Sampai ketemu besok mbak jamu.." tulis pesan Rudy yang kembali Sinta baca.
Dan Sinta hanya tersenyum lucu. Lalu tak lama ia menghela nafas panjang.
"Benar-benar pria aneh!!" gumam Sinta sembari menulis nama pada nomor kontak Rudy dengan tulisan "Pria Sesat, mas Rudy".
Sinta pun jadi tertawa sendiri membaca nama pada kontak mas Rudy. Lalu ia menutup pesan milik Rudy dan mencatat kedalam buku orderan.
Sinta menghitung berapa jumlah pesanan yang harus ia siapkan besok pagi.
***
Butuh waktu 2 jam lebih untuk mendapatkan ekstrak rempah yang sangat banyak manfaatnya.
Dengan telaten Sinta mempersiapkan botol-botol jamu yang siap ia isi dengan air rebusan jamu yang sudah sedikit dingin untuk di kemas.
Ibu Sinta ikut membantu pekerjaan sang anak. Ia setia menjadi asisten sang putri yang giat dalam. berjuang untuk usahanya.
Tepat di pukul 8 pagi akhirnya semua botol kosong sudah siap terisi.
Kini tinggal Sinta memberi label satu persatu botol jamunya.
Sembari melebeli botol jamu, beberapa pelanggan sudah menjemput pesanan jamu mereka langsung kerumah Sinta. Di antara pelanggan juga ada yang mengirim lewat jasa Gojek.
Namun di saat pagi yang sibuk itu, satu hal tak terduga pun datang kerumah Sinta.
Ibu yang berada di depan rumah karena baru memberikan paket jamu pada sang Gojek terkafet ketika seorang pria berpakaian rapi datang kerumahnya.
"Permisi.. maaf apa benar ini rumah jamu mbak Sinta??" tanya pria misterius itu pada ibu.
Ibu reflek mengangguk.
"Iya benar, anak saya Sinta di rumah ini.."
Pria itu tersenyum ramah.
"Oh, syukurlah saya benar.. bisa saya bertemu dengan putri ibu, Sinta??"
"Oh, iya sebentar yaa.." sahut ibu ragu-ragu, namun perlahan meninggalkan depan rumah untuk masuk kedalam memanggil sang putri.
"Sintaaaa.." panggil ibu lembut. "Sinta?"
Sinta berjalan keluar dari dapur dengan membawa botol jamu dari belakang.
"Iya bu, ada apa?"
"Ada pelanggan cari kamu"
Sinta mendengar dengan wajah biasa.
"Oya? siapa namanya, biar Sinta liat di buku catatan, dia pesan jamu apa bu?" tanya Sinta santai dengan berjalan pada meja yang sudah berjejer plastik-plastik yang berisi jamu pelanggan.
"Ibu gak tau, dia minta ketemu kamu diluar.."
Sinta menoleh heran pada ibu.
"Hah? siapa?"
Ibu mengangkat bahu.
"Ibu gak kenal, coba kamu samperin aja, mungkin orang penting, pelanggan baru.."
Sinta hanya menimbang sesaat lalu akhirnya pergi menuju luar rumah untuk melihat siapakah pelanggan yang tidak mengetahui sistem proses penjemputan jamu langsung.
"Siapa sih??" celetuk Sinta berbisik sembari berjalan langkah demi langkah. Hingga akhirnya menuju pintu pagar.
Namun ketika kaki berada di pintu pagar, seketika Sinta terpanah pada sosok pria yang mengenakan kacamata dan berstelan jas tapi sedang bersandar di mobil sedan mewah.
Sinta memantung dan pria itu tersenyum hangat sembari melepaskan kacamatanya.
"Selamat pagi mbak jamu" sapa Rudy dengan senyum khasnya. "Sudah siap dengan rencana kita??"
Deg..
"Mas Rudy" desis Sinta mematung dengan mulut terbuka karena terkejut melihat sosok Direktur Mahendra berada di depan rumahnya sepagi ini.
Dan di saat yang bersamaan mobil milik Sarah lewat dengan berpas-pasan dengan mobil Rudy yang terparkir di depan rumah Sinta.
"Siapa pria itu??" gumam Sarah dengan memperlambat laju mobil yaris silver miliknya.