Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
7



Keesokan paginya. Sinta dan beberapa peserta gagal move on pun berkumpul di halaman.


Wajah-wajah asing pun terlihat kikuk satu sama lain. Namun beberapa dari mereka terlihat ada yang sudah menjadi akrab.


Teman sekadar Sinta mendekat.


"Ternyata rame juga yaa.."


Sinta kaget dan menoleh.


"Oh, hm iya.."


Namun tak lama, terdengar suara dari salah satu pengeras suara yang menarik perhatian.


"Assalamualaikum, salam bahagia untuk semua teman-teman yang pagi ini sudah berkumpul dengan jiwa yang sehat untuk bersama move on di camp ini.."


Semua terpaku pada sosok wantia paruh paya namun terlihat begitu bersahaja.


"Perkenalkan, saya ibu Reni.. saya di sini sebagai sahabat, teman duka teman curhat dan teman untuk memberi motivasi pada teman-teman semua.."


Semua tertegun.


Ibu Reni tersenyum hangat pada wajah-wajah yang penuh arti.


"Disini, kita akan sama-sama berusaha belajar untuk memeluk luka.." ucap Ibu Reni jeda dengan menantap seluruh peserta. "Luka sanubari karena kegagalan..kekecewaan, kesedihan dan luka di khianati.."


Semua yang mendengar seolah terhipnotis. Ucapan ibu Reni mengusik hati mereka yang terluka.


Tak terkecuali Sinta, ia pun merasa pilu. Dadanya seolah sesak mengingat betapa sakit hati yang cukup perih karena pengkhianatan sang teman juga cinta yang kandas sebelum terucap.


Ibu Reni menanatap sendu.


"Saya percaya, kalian adalah orang-orang pilihan.." ucapnya tergantung. "Karena kalian adalah sosok yang kuat dan di percaya Tuhan untuk melewati ujian ini.."


Hening. Dan seketika atmosfer di sana berubah sedih. Ketika beberapa peserta tanpa sadar menangis.


Wajah-wajah kecewa tergambar jelas beban hati yang mereka rasa.


"Peluk diri kalian, dan ucapkan terima kasih karena telah bertahan sejauh ini.. kalian luar biasa.." ucap Ibu Reni dengan nada haru.


Dengan instruksi itu, maka tak beberapa lama beberapa dari peserta memeluk diri mereka sendiri dengan wajah tertunduk pilu.


Sinta pun melakukan hal yang sama, ia berharap bisa kuat. Kuat untuk merelakan semua.


***


Sungguh pagi yang luar biasa, dengan di sambut ucapan selamat yang berbeda.


Setelah sambutan pagi, maka para panitia camp pun menjamu peserta untuk sarapan bersama.


Sinta dan teman sekadar Dela pun mengantiri id meja prasmanan.


"Ibu Reni itu luar biasa banget yaa, kata-katanya itu bikin baper.."


Sinta mengangguk.


"Iya hebat, padahal cuma ucapan gitu aja tapi jadi kayak nusuk langsung kehati.."


"Iya, aku tuh tadi sampai nangis banget.." timpal seorang di depan Dela yang tak sengaja mendengarkan pembicaraan Dela dan Sinta.


Dela terkaget mendengar ucapan wanita di depannya.


"Hay, maaf yaa aku Fika.."


"Oh, hai.. aku Dela.. dan ini Sinta kami satu kamar.."


Fika memberikan tangannya. Sehingga Dela dan Sinta pun menyambut saling bergantian.


"Pasti seru ya, temen kamar ku gak asik..,jadi bolehkan Fika gabung.."


Dela tersenyum bias. Dan Sinta hanya mengangguk.


Dan akhirnya ketiganya pun menjadi teman. Sarapan pagi pun menjadi sedikit ramai.


***


Di ruang berbeda. Terlihat kini ruang kamar Rudy yang tak terlalu besar itu berantakan, sebagai bukti jika semalam Rudy benar-benar mengeluarkan emosinya yang terpendam.


Kini ia berdiri dengan menantap luar jendela yang bercuaca cerah.


Ia kembali merenung ucapan ibu Reni yang telah sedikit membuatnya tersadar.


"Hidup bukan hanya untuk menyesali tapi juga harus memperbaiki semua hal yang sudah terlanjur menjadi takdir .."


"Benar, mungkin saja.. ini kesempatan .. untuk bisa memperbaiki walau sudah terlambat.." gumam batin Rudy.


Dan ia pun mencoba yakin lalu perlahan ia berbalik untuk menuju pintu kamar itu.


Tangannya terlihat ragu ketika hendak meraih pedal pintu.


Bisikan sisi gelapnya seolah menghasut Rudy untuk berhenti. Namun di sisi lain hatinya ingin bisa sembuh.


Hingga dengan wajah yakin, Rudy pun meraih pedal pintu dan membukanya.


Kakinya melangkah pasti.


"Rudy, semoga kau tak menyesal" ujar batin Rudy pada dirinya sendiri dengan melangkah keluar meninggalkan kamar itu.