
Rudy yang telah rapi kini terlihat duduk di meja makan dengan membuka sebuah kotak makanan yang ia order dari aplikasi.
Rudy menantap meja makan yang biasanya kosong kini terlihat 4 kotak makan ada di sana.
Biasanya ia tak pernah lagi sarapan pagi di apartemen, biasanya Rudy akan makan di jam 11 siang saat berada di kantor.
Dan di saat ia melamun, tanpa di sangka Sinta keluar dari kamar tamu dengan telah berganti pakaian dan terlihat lebih segar dengan wajah natural tanpa make up.
Rudy merespon sekilas.
"Ayo sarapan.." ajak Rudy tersenyum.
"Ah, iya mas.." sahut Sinta sembari melihat kesekeliling ruangan yang terlihat mewah dengan interior yang cukup rapi dan bersih.
"Waaah.." decak Sinta yang kagum sembari berjalan mendekat pada meja makan.
Ketika langkah kaki Sinta tiba di meja makan, tangannya meraih satu kursi untuk ia duduk.
"Makanlah, masih hangat.."
"Hm..makasih ya mas.." ucap Sinta malu-malu.
"Kamu mau susu atau?"
"Hm, air putih aja mas yang hangat.." jawab Sinta.
Rudy mengangguk lalu beranjak dari duduknya untuk mengambil segelas air putih hangat dari dispenser otomatis.
Lagi-lagi Sinta di buat terkesan dengan interior dapur yang duh, kayaknya impian para ibu-ibu pecinta dapur.
Tak lama Rudy kembali dengan segelas air putih hangat dan memberikannya pada Sinta. Sinta menyambut dengan sungkan.
"Makasih ya mas, maaf jadi repot.."
Rudy tersenyum simpul.
"Jarang-jarang apartemen ini kedatangan tamu.. jadi sudah seharusnyakan aku melayani tamu.." jawab Rudy yang kembali ke kursi makannya.
Sinta meneguk air putih hangat itu. Dan rasa hangat ia menjalar kerongga mulut dan turun kedalam, hingga membuat dadanya hangat.
Terlihat Rudy sedang makan dengan santai sembari jemarinya berselancar di layar handphone. Sinta pun mulai makan dengan membuka kotak makanan.
Sesekali Sinta melihat mas Rudy yang sekilas fokus pada layar handphonenya dan sesekali kembali makan dari tangan yang satunya.
"Duh.. nie cowok, bisa ya sekeren ini, padahal cuma makan doang.. lah gue yang cuma butiran debu.. mau dari segi mana pun tidak ada aura yang berkesan gitu.. yang ada aura kelaparan.." rutu batin.Sinta pada dirinya sendiri. "Ikh, ini juga nasi goreng ngedukung banget lagi.. enak banget.."
Disaat tengah menikmati sarapan pagi yang endulita. Tiba-tiba tanpa di sangka terdengar suara bunyi bel pintu di depan apartemen Rudy.
Ting..Tong..
Rudy merespon kaget. Begitu juga Sinta yang menantap Rudy heran.
"Ada tamu mas??"
Kening Rudy tertaut bingung.
"Siapa ya?"
"Ya mana Sinta tau?? kata mas kan gak pernah kedatangan tamu di sini.." sindir Sinta.
Rudy tertawa kecil.
"Kamu ini, tajem banget mulutnya.." ucap Rudy sembari menyudahi makannya dan meninggalkan handphonenya begitu saja di atas meja.
Ting..tong.. lagi bunyi suara bel pintu.
Rudy berlalu pergi. Dan Sinta kembali menikmati makanannya.
"Katanya gak pernah ada tamu, lah itu apa coba?? masa iya orang minta-minta sedekah? sekelas apartemen semewah ini memang bisa masuk orang gak di kenal" cibir Sinta menebak-nebak siapakah gerangan tamu itu.
Di depan pintu apartemen ia melihat kaget pada layar monitor pintu.
"Rara??" seru Rudy kaget ketika melihat wajah sang adik berada di depan pintu apartemennya.
Lalu tak lama Rudy membuka pintu. Dan terlihat sang adik berwajah tak biasa berdiri menatap sang kakak kandung.
"Ra??"
"Mas?? bisa gak, mas Rudy hancurkan perusahaan mas Hendra?" ucap Rara yang terdengar tak main-main.
Deg.. Rudy mematung.
Namun di saat Rudy mencoba mencerna, tiba-tiba terdengar suara Sinta memanggil namanya.
"Mas Rudy.. ada telfon masuk.." seru Sinta dengan suara manja dari dalam apartemen.
Glek.. Rudy terkejut, begitu juga dengan sang adik, Rara yang super kaget mendengar ada suara wanita di dalam apartemen sang kakak yang ia yakin tinggal sendiri.
"Mas Rudy??"
"Ra??"
Rara tak mengindahkan sang kakak, Rara langaung mendorong pintu dan membuat Rudy mundur.
Rara masuk dengan berjalan menuju tengah ruang apartemen sang kakak yang kosong. Ke dua mata Rara mengedar mencari sosok suara wanita itu.
Rudy menyusul dari belakang dengan hendak menahan. Namun tampaknya Rara sudah menemukan sosok yang membuatnya kaget.
Rara menantap lurus pada sosok yang tengah duduk di meja makan.
Rudy berdiri di samping Rara.
"Mas?? kamu??" tanya Rara tergantung sulit.
Rara melangkah tepat pada Sinta yang duduk di meja makan dengan wajah ramah.
Dan ketika langkah Rara berdiri di beberapa meter depan Sinta. Tatapan curiga Rara langsung tertuju pada bekas yang tak biasa pada leher Sinta. Dan instingnya langsung berubah marah.
"Apa kamu baru saja tidur dengan mas Rudy??"
Sinta syok.
"Hah?? tidur dengan mas Rudy? maksudnya??"
"Ra?" tahan Rudy.
Sinta kian tak bisa berkutik di tuduh dengan hal yang ia tak mengerti.
"Ra?? kamu salah!! Sinta ini temenan mas" potong Rudy menarik lengan sang adik.
Rara menyegir sinis.
"Mas?? Rara tuh gak bodoh, rara tau banget perempuan licik kayak ular begini, coba perempuan mana yang sepagi ini ada dirumah laki-laki dan itu.. Rara tau itu bekas apa??" tunjuk Rara pada leher Sinta.
Rudy panik, langsung menarik sang adik dengan kasar.
"Kalau kamu datang cuma buat keributan, mending kamu pulang Ra.. jika soal Hendra dan pernikahan kamu.. lain waktu telfon mas dulu baru kamu datang.." cecar Rudy marah.
Rara menepis lengan sang kakak dengan kasar.
"Mas?? Rara ini adik mas.. adik perempuan satu-satunya tapi..Mas segitu gak pedulinya dengan Rara, apa? apa karena kesalah Rara dulu yang jahatin mbak Alia? iya?? apa karena itu mas dendam dan gak peduli sama Rara??" cecar Rara yang akhirnya pecah dengan menangis di hadapan sang kakak kandung. Dan tubuh Rara jatuh berlutut di hadapan Rudy.
Rudy hanya bisa menghela nafas kesal. Hal yang seharusnya tidak di ketahui oleh orang lain, akhirnya kini terlihat jelas di hadapan Sinta sisi rusak keluarganya.
Sinta hanya bisa melihat moment tanpa mengerti tentang hal apa yang terjadi pada kakak adik itu.
***
Dan setelah kehebohan itu.
Kini Rara dan Rudy duduk di ruang sofa tengah. Terlihat Rara tengah mencoba untuk menguasai dirinya sendiri.
"Mas Hendra ternyata berselingkuh dengan seorang model majalah dewasa.." Rara mulai bercerita.
Rudy terkejut.
"Dari mana kamu tau??"
"Rara, utus orang untuk mengikuti mas Hendra selama 1 minggu.. dan ternyata mas Hendra selamat ini sedang berpacaran dengan model itu.." ucap Rara sembari mengeluarkan handphonenya dan memperlihatkan satu buah foto pada sang kakak.
Rudy mengambil, lalu mengamati foto tersebut. Ia mencoba zoom foto yang terlihat di bidik dari jarak jauh.
Rudy mengeram marah, ketika melihat adik iparnya itu tengah berpelukan manja dengan perempuan sintal dengan pakaian minim di salah satu Cafe remang.
"Dan kabarnya, perempuan ini akan dijadikanodel untuk produk kosmetik yang akan di luncing bulan depan.." isak Rara pilu.
Rudy mengepalkan tangannya, ingin rasanya ia membunuh pria yang sudah menyakiti hati sang adik.
"Mas, tolong rara mas.. Rara gak ikhlas jika mas Hendra bersenang-senang dengan perempuan itu.." Rara memelas. "Tolong mas, selama ini mas Hendra gak pulang, Shila dan Jibran selalu tanyai papa mereka yang sepertinya sudah tak ingat keluarga lagi.." tutur Rara pilu.
Rudy menghela nafas panjangnya.
"Sebentar apa penyebab sampai Hendra seperti ini??"
Rara menggeleng lemah.
"Rara gak tau mas, Rara udah berusaha jadi istri yang baik, Rara fokus jaga anak-anak.. dan rara juga berusaha senengin mas Hendra di ranjang tapi..dia selalu ogah-ogahan.." curhat Rara yang apa adanya.
Di sisi lain, tanpa di sangka Sinta mendengar curhat Rara pada mas Rudy.
"Duh, kasian ya.. kenapa suaminya begitu yaa?"
Hingga tanpa di duga, tiba-tiba satu ide Sinta muncul. Lalu dengan menghabiskan sarapannya.
Sinta meneguk habis air putih yang sudah tidak hangat lagi. Sinta pun memberanikan diri.
Ia berjalan ragu-ragu menuju ruang sofa tengah itu.
"Ehm, maaf mas Rudy, maaf mbak Rara.." potong Sinta yang tiba-tiba mengalihkan obrolan serius itu.
"Sinta??"
"Ehm, maaf mas jika Sinta tidak sopan tapi.. tadi.."
"Eh, kamu jangan ikut campur yaa.. ini urusan keluarga.." potong Rara tak senang.
Namun Sinta terlihat tak peduli.
"Sinta pun satu solusi jika di izinkan membantu.."
Kening Rudy tertaut bingung.
"Solusi??"
Sinta mengangguk.
"Sinta akan bantu masalah mbak Rara.."
Rara mencibir kesal.
"Kamu siapa sampai bisa bantu aku.."
"Jamu khusus wanita.." potong Sinta tanpa peduli protes Rara yang ketus.
Rudy berdecak.
"Sinta memang bukan siapa-siapa mbak, tapi.. dari permasalahan yang gak sengaja Sinta dengar, mungkin suami mbak Rara butuh kepuasan ranjang yang lebih.." jelas Sinta.
Rara diam.
"Apa lagi mbak sudah pernah melahirkan kan??"
Tanpa sadar Rara mengangguk membenarkan pertanyaan Sinta.
Sinta tersenyum tipis.
"Ya, jadi Sinta rasa jamu khusus wanita bisa membantu masalah mbak.."
Rara menghela heran.
"Jamu?? jamu wanita??" ulang Rara dengan rasa tak yakin.
Namun Rudy menyukai ide Sinta.
"Coba saja.. apa salahnya.. mungkin saja bisa berhasil untuk menarik kembali perhatian suami kamu.." ujar Rudy mendukung Sinta.
Rara menantap sang kakak tak yakin.
"Jamu wanita??" ulang Rara ragu.