Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Ibu = Sinta



Di siang harinya.


Rudy termenung di atas tempat tidur pasien menatap menu makanan pasien yang di hadapkan pada dirinya. Ia kehilangan selera, setelah dokter memberi penjelasan akan sakit yang ia derita.


"Dari hasil lab dan cek lengkap, tubuh pak Rudy sangat sehat.. dan kami tidak menemukan infeksi atau bakteri di dalam tubuh pak Rudy sehingga sampai membuat anda demam tinggi dan sesak.." jelas dokter senior itu.


"Lalu mengapa berulang kali saya sakit seperti ini dokter??" tanya Rudy merasa kesal dengan jawaban sang dokter yang tidak menemukan titik terang akan penyakitnya.


Rudy menghela nafas dan selera makannya benar-benar hilang.


Tak lama terdengar nada dering handphone Rudy. Rudy merespon, ia pun berusaha menarik benda itu. Namun geraknya terhalang oleh tali infus.


Kesal karena tak ada fungsi, tanpa pikir panjang Rudy menarik kasar infus dari tangannya dan karena hal itu ia menyeringai sakit.


"Aw, ck.. " desis Rudy sedikit sakit dengan kaget melihat darah yang keluar dari bekas infus tangannya.


Nada dering kian terus memanggil, dan Rudy membiarkan darah mengalir begitu saja dan meraih handphonenya.


Dan sebuah nama tertera pada layar handphonenya.


Ia mengangkat sembari menarik sedikit selimut untuk menekan pendarahan karena cabut paksa infus.


"Hallo, mas Rudy??" Rara menyapa.


"Ada apa?"


Dan sebuah info mengejutkan telah membuat wajah Rudy gelisah.


"Bagaimana ibu bisa tau?" ucap Rudy kesal.


Lalu Rudy diam, ia hanya mendengarkan ucapan nasihat sang adik.


"Sudahlah, lagi pula aku sudah jauh lebih baik.. jadi tidak usah repot-repot" tukas Rudy yang seketika memutuskan komunikasi itu begitu saja.


Rudy bergegas bangun dari tempat tidur pasien dengan menyingkap selimut tebal.


Ia bersegera turun dengan mengeyampingkan tubuhnya yang masih kurang fit.


Jemari Rudy dengan cepat membuka baju pasien. Dan langsung melepaskan pakaian itu. Ia harus bergerak cepat, ia tak ingin bertemu ibu.


***


Di sisi lain, Sinta tiba di salah satu rumah sakit mewah. Ia turun dari taksi online dengan membawa sebuah kantong tas yang berisi beberapa jamu yang baru saja ia buat.


Setelah tau info di rumah sakit mana Rudy Mahendra di rawat. Sinta memutuskan pulang kerumah. Tujuannya tak lain adalah membuat jamu khusus untuk mas Rudy.


Ia berbelanja bahan terbaik walau harga bahan itu tidaklah murah. Namun karena Sinta bertekat untuk bisa membantu masalah mas Rudy. Ia merasa begitu banyak kebaikan pria yang terlihat baik-baik saja itu, tapi nyatanya menyimpan penuh luka sendiri.


Langkah demi langkah Sinta berjalan masuk kedalam rumah sakit yang terlihat tenang. Hati Sinta berdecak tak percaya. Karena rumah sakit berasa hotel berbintang. Berbeda sekali dengan rumah sakit umum yang lebih mirip terminal stasiun.


Sinta melihat pesan wa sesekali, untuk melihat petunjuk arah yang di berikan mr. Jimmy. Walau tidak detail tapi secara garis besar Sinta mendapatkan petunjuk yang mudah di cari, namun sesekali Sinta bertanya pada perawat yang lewat untuk lebih memastikan.


Hingga akhirnya ia menemukan pintu lift. Terlihat seorang wanita paruh baya yang begitu elegan masuk lebih dahulu. Sinta mengekor dibelakangnya.


Ternyata wanita paruh baya itu hendak menekan tombol lift bersamaan dengan sinta yang akan menekan tombol di angka yang sama, ya itu angka nomor 4.


Keduanya sama-sama kaget. Sinta tersenyum sungkan.


"Ibu duluan.." ujar Sinta sopan.


Dan wanita paruh baya itu menekan tombol lift 4.


Keduanya pun naik bersamaan. Hening. Namun ruang lift yang sedikit berukuran 2x2 itu tiba-tiba tercium aroma hangat dari jamu yang Sinta bawa.


"Seperti bau jamu.." ucap wanita paruh baya itu.


Sinta terkaget.


"Ah, ia maaf bu, saya memang bawa jamu.. maaf jika tidak nyaman aormannya.."


Wanita paruh baya itu mengangguk pelan.


"Tidak, wanginya enak.." sahut wanita paruh baya itu.


Sinta tersenyum kecil merasa lega.


Tak beberapa lama, lift itu pun tiba di lantai yang di tuju.


Dan wanita paruh baya itu turun lebih dahulu dari lift.


Sinta hendak mengekor di belakangnya.


Namun di saat ia baru melangkah tiba-tiba ditabrak oleh seseorang yang terlihat terburu-buru hendak masuk ke lift.


Brak..


"Aduh!!" Sinta sedikit kaget.


"Maaf.. " ucap pria itu namun tanpa di sangka tatapan keduanya bertemu.


"Mas Rudy??" ujar Sinta terkejut.


Dan wanita paruh baya itu mendengar sontak berbalik.


"Rudy!!" serunya yang melihat jika itu adalah anaknya.


Rudy gusar, lalu dengan cepat menekan tombol pintu lift tutup.


"Rudy!! ibu .." ujar Wanita paruh baya yang hendak berbalik untuk mengejar pintu lift yang akan tertutup.


Sinta melihat dengan wajah tak mengerti. Namun ketika pintu lift tertutup. Wajah Rudy berubah.


Dan seketika tubuh Rudy terhuyung.


"Mas Rudy.." Sinta panik hingga dengan cepat meraih tubuh Rudy agar tak jatuh sehingga ia melepaskan bawaannya.


"A-ku..aku tidak apa-apa sinta.."


Wajah Sinta berubah sangat khawatir melihat kondisi mas Rudy yang tak begitu fit.


***


Mini keduanya berada di dalam taksi.


Rudy menyadarkan kepalanya pada jok mobil. Kepalanya terasa berat.


"Mas, kenapa keluar dari rumah sakit? mas belum sehat.."


Rudy tak menjawab, ia memejamkan matanya dan mobil taksi terus membawa penumpang ketujuan yang diminta.