Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Ujian Rudy dimulai



"Mas, tolong peluk Sinta lagi.." pinta Sinta yang tiba-tiba.


Rudy terpaku.


Dengan tatapan sayu Sinta menujukkan tangan kehadapan Rudy.


"Se-ka-liiii la-gi.." pinta Sinta yang perlahan gadis itu jatuh pingsan.


Dan dengan respon cepat, Rudy langsung meraih tubuh lemah Sinta agar tak jatuh lunglai.


Rudy menghela nafasnya. Lalu menantap wajah Sinta yang terlihat tertidur.


"Sinta??" panggil Rudy. Namun tak ada respon dari gadis jamu yang sepertinya telah mabuk berat.


Wajah Sinta terlihat tenang dan Rudy menantap dalam.


"Sekarang kemana aku harus membawa mu??" gumam Rudy pada Sinta yang tak sadar.


Dan akhirnya Rudy pun mengendong tubuh Sinta untuk keluar dari club malam itu.


***


Dan pada akhirnya Rudy tak punya pilihan lain, selain membawa gadis jamu itu pulang bersama ke apartemen miliknya.


Jam sudah menujukkan pukul 2 dini hari. Dan Rudy tiba di parkiran apartemen yang begitu hening.


Lagi, Rudy mengedong tubuh ramping Sinta yang terkulai lemah tak berdaya akibat pengaruh alkohol.


Di sepanjang jalan menuju lantai apartemennya, Rudy menertawakan dirinya sendiri.


Rasa-rasanya seumur hidup ia tak pernah seperti ini pada seorang wanita selain Alia.


Ia bahkan rela menjadi teman tersesat untuk seorang gadis jamu seperti Sinta.


Hingga tiba di depan pintu apartemen mewah milik Rudy. Rudy menurunkan tubuh Sinta dan membuka password pintu.


"Hm, Si-nta salah apa??" rancau Sinta dengan mata terpejam.


Rudy sedikit tersenyum lucu melihat Sinta yang mabuk.


Lalu ia menuntut Sinta untuk masuk kedalam rumahnya.


"Mas Agung.. ja-hat!!" rancau Sinta dengan menunjuk pada Rudy.


"I-iya aku jahat.. " sahut Rudy iseng.


Namun ketika Rudy menuntunt langkah Sinta untuk berjalan menuju ruang tengah, tiba-tiba Sinta beraksi dengan aneh.


"Ugh.."


Rudy merespon panik.


"Sinta..ka-kamu jangan muntah di sini.." ujar Rudy panik dengan hendak menyeret Sinta untuk segera kekamar mandi.


Namun Sinta melawan. Hingga keduanya jatuh bersamaan karena Rudy yang tak seimbang menahan Sinta yang melawan.


Pluk... keduanya jatuh kelantai. Dan Rudy yang menjadi penahan tubuh Sinta.


"Hoek..hoek.."


Hingga pada akhirnya Sinta sukses muntah di atas tubuh Rudy.


Dan Rudy menyesali telah membawa gadis mabuk itu pulang keapartemennya.


Sinta pun merasa nyaman setelah muntah dan ia pun lengser di sisi Rudy.


"Si-ntaaa.." geram Rudy yang berada di atas masalah yang sangat menjijikkan.


***


Setelah membereskan kekacauan yang di lakukan Sinta.


Rudy mandi dengan membersihkan diri dari bekas muntah Sinta.


Dibawah guyuran air hangat. Rudy kembali terbayang ucapan Sinta saat meminta untuk dipeluk oleh dirinya.


Wajah teduh Sinta kembali terbayang. Dan Rudy berdecak dengan mencoba mengontrol pikirannya yang entah kemana-mana.


Setelah mandi dengan segar, Rudy pun yang masih berlilitkan handuk di pinggangnya, berjalan keluar untuk mengecek gadis jamu yang ia tinggalkan di ruang tamu.


Dan ternyata Sinta tertidur tak nyaman di atas sofa.


Karena merasa kasihan, Rudy berinisatif untuk memindahkan Sinta ke kamar tamu.


Rudy merespon. Lalu tak lama berjalan menuju dapur minimalis untuk mengambil segelas air hangat untuk Sinta.


Tak lama ia kembali dan melihat jika tidur Sinta berubah. Dan hal yang membuat ia lebih menyesal adalah ketika rok Sinta kian tersingkap.


"Sial!!" desis Rudy geram ketika melihat halnyabf tak seharusnya ia lihat.


Rudy mencoba menahan diri dengan menarik nafas panjang. Ia pun membangun Sinta untuk minum.


"Sinta..Sinta bangun.. ini minuman.."


"Hm?? a-pa mas?? capek?"


"Minum, kamu haus.."


Sinta mengibas tangan dan mulai mengeliat tak nyaman.


"Pa-nas.." ucap Sinta dengan hendak membuka pakaian yang ia kenakan.


Ujian Rudy dimulai. Dengan cepat Rudy menahan tangan Sinta.


"Sinta.." ujar Rudy menahan. " Ayo, bangun kamu masuk kamar saja.."


"Hm?? eng-gak.." tolak Sinta.


"Ayo.." Rudy memaksa. Namun Sinta menolak.


"Gendong.." pinta Sinta yang tiba-tiba.


Rudy kian jengkel.


"Gak.."


"Gendong.." rengek Sinta manja.


Kesabaran Rudy di uji. Rudy tak bisa berkata-kata dengan menghadapi gadis mabuk ini.


"Gendooong, mas gendooong.." regek Sinta.


Rudy kehabisan akal. Hingga akhirnya mau tak mau ia pun mengalah dan berakhir dengan kembali mengendong tubuh Sinta.


Sinta tersenyum manja. Lalu tanpa sadar kembali terlelap tidur di dada bidang Rudy yang tak berpakaian.


Rudy membawa Sinta ke dalam kamar tamu.


Ia merebahkan tubuh Sinta perlahan di atas tempat tidur. Dan Sinta pun terlihat nyaman.


Namun ketika Rudy akan beranjak pergi, tiba-tiba jemari Sinta menahan.


"Jangan pergi.." ucap Sinta yang kini kedua matanya terbuka.


"Jangan pergi, mas.." ucap Sinta lagi.


Namun Rudy mencoba untuk melepaskan tangan Sinta. Tapi ternyata Sinta malah terbangun dan menyentuh dada bidang Rudy.


Ia meraba tubuh Rudy dan melihat ada satu bekas luka lama, yang masih terlihat. Namun dengan cepat Rudy menahan jemari Sinta yang hampir turun menyentuh perutnya.


"Kenapa??" tanya Sinta dengan tatapan mengoda namun terlihat jelas ada kesedihan di mata bening itu. "Apa Sinta tak pantas??" bisik Sinta pelan.


Rudy menatap lekat Sinta. Dan tatapan Sinta begitu berbeda.


Jemari Sinta yang lain perlahan menyentuh wajah Rudy. Ia menyentuh garis wajah pria yang begitu mempesona dan wangi segar.


Jemari Sinta turun pada bibir Rudy, ia mengusap lembur bibir itu.


"Bagaimana rasanya bercinta?" tanya Sinta dengan tatapan sendu menantap dua bola mata Rudy yang tengah berusaha mengontrol dirinya.


"Apakah? benar akan melayang sampai kesurga??" tanya Sinta yang kian memancing.


Untuk beberapa saat insting kelaki-lakian Rudy di uji, namun Rudy kian tak bisa menahan diri lagi ketika sudut bibir Sinta tersenyum mengoda seolah ingin pembuktian.


Hingga dengan mengikuti naluri kelaki-lakiannya. Rudy pun menjatuhkan satu ciuman hasrat pada bibir Sinta.


Sinta mengerjap kaget.


Bibir Rudy ******* bibir Sinta dengan intim. Sinta di buat melayang dengan permainan bibir Rudy yang begitu mahir.


Jemari Sinta mengusap dada bidang Rudy. Ada rasa bergejolak bak sengatan listrik di setiap saraf sensitif Sinta.


Rudy merengkuh tubuh Sinta, ia menbawa tubuh gadis itu untuk lebih intim kedalam dekapannya.


Perlahan namun pasti, suasana atmosfer pun berubah.