
Di satu ruang jamuan yang kini bernuansa hangat. Terlihat beberapa orang sedang mengelilingi pak Dewa.
Terjadi diskusi kecil di antara orang-orang kompeten itu yang sengaja di bawa pak Dewa untuk menguji kelayakan Resort.
"Saya menilai konsep Resort ini sangat bagus pak Dewa" ujar seorang pria dengan wajah kesungguhan.
Pak Dewa mendengarkan.
"Letak yang strategis juga view yang sangat bernilai, menjadikan Resort ini begitu pas.. setidaknya kesan menyatu dengan alam begitu terasa..bahkan saya menilai taman ini asli kan?? bukan di dekor oleh tukang kebun??" tanya seorang wanita.
Pak Dewa mengangguk.
"Saya yang meminta.. saya tidak ingin suasana Resort ini terkesan palsu dan di paksakan..sehingga nilai kenangan juga akan hilang.."
Beberapa mengangguk setuju. Banyak orang kota menginginkan kembali suasana asri yang natural yang dapat menenangkan jiwa. Hal yang sangat susah untuk di dapat jika di tengah kota yang super sibuk dan berpolusi.
Sejenak pak Dewa menatap nanar pada bentangan view gelap yang hanya menampakkan satu-satu lampu bercahaya kuning dari rumah warga desa yang jauh.
Ia menatap dengan terbayang berjuta kenangan yang dulu pernah ia lewati di sana. Persis disana, di desa yang menjadi tempat ia bertemu dengan seorang gadis desa yang mengubah hidupnya.
"Apa pak Rudy tidak terlalu lama?? kita sudah menunggu sedari tadi" keluh seorang wanita muda mencibir.
Ucapan itu mengusip renung pak Dewa.
"Pak Dewa, jika saya boleh bertanya, mengapa anda memilih desa ini untuk bangun Resort??"
Pak Dewa merespon.
"Kenapa??"
"Ah, jarak tempuh terlalu jauh dan desa ini sepertinya sulit menerima orang baru.." nilai seorang pria memberi penjelasan.
Pak Dewa sedikit tersenyum lucu.
Pak Dewa menghela nafas pelan dengan menatap kejauhan cahaya lampu yang di hasilkan dari pemukiman warga desa.
"Warga desa sangatlah ramah dan jangan pernah menilai sesuatu dari sudut pandang penilaian orang modern yang penuh dengan pikiran picik.." tukas pak Dewa seolah mengenang masa lalu di saat ia muda dan di temukan oleh warga desa ketika tersesat di hutan.
Mendengar ucapan pak Dewa tersebut beberapa dari mereka merasa tersindir.
***
Di saat yang bersamaan, langkah kaki Sinta dan Rudy kian mendekat pada tujuan mereka.
"Mas jadi penasaran dengan jamu kamu kali ini"
Sinta tersenyum kecil.
"Nanti mas coba ya.." ujar Sinta dengan penuh semangat.
"Pasti.." sahut Rudy yakin dan langkah keduanya masuk pada ruangan yang begitu hangat.
Keduanya melihat sekitar ruangan dan mendapatkan sekumpulan orang tengah berada di tepi teras ruangan yang jendela pintunya terbuka lebar.
"Ayo kesana, kamu harus bertemu dengan pelanggan VVIP kamu" ujar Rudy.
Sinta melihat kumpulan itu dan tersenyum penuh arti dengan tangan mengenggam kuat pada Rudy.
Dan ketika langkah keduanya tiba di dekat kumpulan itu. Keduanya di sambut oleh tatapan para pengikut pak Dewa.
Sinta sedikit heran dengan sambutan para kumpulan itu yang terlihat tidak begitu ramah menyambut kedatangan keduanya.
"Selamat malam.." seru Rudy menyapa sopan pada kumpulan itu.
Dan...