
Ke esok pagi menjelang siang di sebuah kediaman mewah. Terlihat sebuah paket tiba di rumah pak Dewa.
Sang Tuan rumah terlihat hendak sarapan, namun seorang ajudan datang memberi bingkisan parsel yang didalamnya terdapat 5 botol jamu yang telah di kemas dengan botol yang menarik.
"Pak, ini parcel dari pak Rudy Mahendra.." jelas ajudan sopan.
"Hm? dari nak Rudy??" tanya pak Dewa terkejut. Ia menatap parcel itu dengan wajah penasaran. "Apa ini??" gumam batin pak Dewa sembari menarik sebuah kartu kecil yang tersemat di atas parcel tersebut.
Pak Dewa meraih dan membaca isi kartu kecil itu.
"Assalamualaikum pak Dewa .. selamat pagi.. Maaf jika saya mengirim parcel ini langsung kekediaman pak Dewa.. Saya sangat senang mendengar pak Dewa antusias akan minuman jamu kemarin, oleh karena itu saya berinisatif untuk langsung mengirim jamu hangat yang saya rasa cocok untuk menjaga kebugaran kesehatan pak Dewa.. Dan sedikit cerita dari minuman jamu ini adalah usaha dari orang terkasih saya yang sedang merintis usaha jamu.. Dengan segala kerendahan hati, saya berharap pak Dewa bisa jadi pelanggan pertama kami.. Salam Hormat Rudy Mahendra.."
Pak Dewa membaca dengan wajah terkesan. Isi kartu surat itu cukup membuat sisi Pak Dewa sedikit tersentuh dan pandangannya terhadap sosok Rudy Mahendra sedikit berubah.
Selesai membaca isi surat itu, Pak Dewa melihat lebih jelas pada isi parcel yang di tata cantik. Ia membuka parcel itu dan meraih satu botol kaca yang telah di beri label produksi.
"Rajamu?" ucap Pak Dewa dengan wajah serius menatap desain botol dan nama jamu yang terdengar berkelas. "Hm, nama mereka yang cukup unik.." ucap pak Dewa menilai. Ia pun membaca beberapa komposisi bahan yang terbuat dari bahan rempah alami.
Pak Dewa melihat botol kaca itu dengan teliti. Dan ia cukup tertarik dengan ingin mencicipi jamu tersebut. Botol kaca itu di buka lalu minum dengan tanpa ragu jamu itu.
"Glek..glek.." Hanya dua kali teguk, seketika pak Dewa tertegun. Ia terpaku akan rasa yang sudah lama ia lupa.
"Ini??" ucap Pak Dewa dengan memandang botol kaca jamu itu. "Ini, sangat mirip.." decak pak Dewa lalu kembali meneguk minuman jamu itu hingga habis.
Dan rasa yang dulu seolah kembali terasa jelas. Seketika wajah pak Dewa bernelangsa jauh.
***
Di sisi lain, Sinta yang berada di luar pagar rumah pak Dewa pun aku saja mengirim pesan pada sang kekasih.
"Mas, jamunya sudah Sinta anter yaa.." kirim sinta pada Rudy.
Dan tak butuh waktu lama, pesan itu pun langsung bercentang biru, tanda jika pesan itu telah di baca oleh sang kekasih.
Tak lama terlihat ada tulisan mengetik.. Sinta menunggu respon mas Rudy.
"Kenapa kamu langsung antar?? kan mas suruh lewat gojek saja.." balas Rudy telak.
Sinta tersenyum.
"Iya gak papa, soalnya pelanggan pertama mas, hihi.. Sinta mau yang terbaik untuk kesan pelanggan pertama.. 🤩.. tapi mas, mau lapor dulu nie, tapi janji jangan marah ya?? 😚" ketik Sinta cepat membalas langsung pesan Rudy.
"??" balas Rudy.
"Sinta ada tulis sepucuk surat.." Ketika Sinta gesit.
Rudy tak membalas.
Sinta tak tenang dan kembali mengetik pesan dengan cepat.
"Tadi, Sinta nulis sebagai tanda cinta untuk pelanggan.." balas Sinta usil dan mengirim cepat.
Dan pesan itu langsung bercentang biru. Namun lagi-lagi mas Rudy tidak membalas. Sinta jadi khawatir.
Hingga memutuskan untuk telfon namun diluar dugaan nomor Rudy sibuk.
"Duh, kok sibuk sih? kan jadi gak tenang nie.." rutu Sinta yang jadi menyesal telah mengakui perihal kartu kecil itu.
Namun ternyata tiba-tiba Rudy mengirim pesan.
"Kenapa nomor kamu sibuk?? kamu tulis apa?"
Sinta membaca dengan mata terbelalak.
"Lah, bukannya nomor mas Rudy yang sibuk??" rutu Sinta kesal. Lalu kembali menelfon. Namun lagi-lagi nomor mas Rudy bernada sibuk.
"Tuh kan , nomor mas Rudy kok yang sibuk.." gumam Sinta gelisah.
Di saat hatinya yang jadi ketar ketir, tiba-tiba layar handphonenya pun tertera nama sang kekasih. Sontak tanpa pikir panjang Sinta langsung menjawab telfon tersebut.
"Hallo mas??"
"Kamu tulis apa sayang??"
Deg.. Sinta terdiam.
"Duh, gue lemes banget kalau udah dengar kalimat sayang.. sumpah mas ku ini bikin hati ku tak kukuh.."
"Sinta??" panggil Rudy dengan nada khawatir.
Sinta merespo dengan kaget.
"Eh, iya mas.. ini tadi tulisnya gak aneh-aneh kok, hanya ucapan terima kasih dan penghargaan atas kebaikan pak tua itu karena mau menjadi pelanggan pertama jamu Sinta." jawab Sinta secara garis besar berbohong.
"Hm, syukurlah..kalau hanya itu.." sahut Rudy dari sebrang telfon.
Sinta tersenyum usil.
"Mas lagi kerja ya? maaf jadi terganggu.." ucap Sinta merasa tak enak.
"Tak masalah.." sahut Rudy santai. "Sekarang kamu mau kemana lagi..??"
"Hm, mungkin ke ruko, mau cek anak baru yang akan dilatih pakai mesin yang sudah siap di pasang.."
"Oh, ya sudah hati-hati.. ingat kabari mas jika sayang sudah sampai.." pesan Rudy.
Deg..
"Duh, bulu roma gue bisa rontok gak bersisa kalau begini.." lirih Sinta yang benar-benar merasa tersanjung atas panggilan sayang yang sesekali keluar dari bibir seksi sang kekasih.
"Oke, bye?"
"Ah, iya mas..bye..selamat bekerja lagi" balas Sinta tersadar dan komunikasi itu pun terputus.
Sinta menarik handphonenya dari sisi telinga dan kembali memandang nama sang kekasih dengan wajah kesemsem.
Namun di saat ia memandang nama mas Rudy dari layar handphonenya.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk atas nama pria itu. Dan betapa terkejutnya Sinta ketika membuka pesan itu. Sebuah simbol hati mas Rudy kirim.
"💗"
Perasaan Sinta langsung ambyar melihat gambar hati yang dikirim mas Rudy untuk dirinya.
"Aaahh, mas Rudy.." ucap Sinta manja dihadapan layar handphonenya. "Kan jadi tambah kangen kalau begini.." tutur Sinta yang tak bisa memungkiri jika tiap hari ia jadi kecanduan untuk bertemu sang kekasih.
***
Di luar ruang rapat kantor Mahendra. Terlihat sang Direktur tersenyum memandang layar handphonenya setelah sukses mengirim tanda hati pada sang kekasih.
Kini hatinya sudah tenang. Dan ia pun siap masuk kembali keruang rapat yang akan membahas tentang proyek mitra Mahendra yang akan masuk semi final pemilihan produk ukm yang akan di ajak kerjasama.
Di saat bersamaan pintu ruang rapat terbuka. Dan disaat itu Rudy yang hendak masuk pun bertemu dengan sang Brand Manajer, Agung yang terlihat menantapnya tajam.
Tatapan keduanya bertemu ada isyarat yang cukup kuat dari kontak mata itu.
Rudy menyimpan kembali handphonenya kedalam saku.
Agung berjalan mendekat pada sang Direktur. Namun Rudy tak perasan ia hendak berlalu masuk kedalam ruangan.
"Pak Rudy.. bisa kita berbicara sebentar??" Agung bersuara sehingga langkah Rudy pun terhenti.
Rudy setengah menoleh sebagai tanda respon.
"Jika masalah mitra Mahendra sepertinya lebih baik di utarakan di ruang rapat.. " saran Rudy tegas.
"Ini tentang Sinta.." kata Agung.
Rudy menatap.
"Dan anda.." timpal Agung dengan tatapan serius pada sang Direktur.
💗💗💗
Hallo, Assalamualaikum semua teman-teman mas Rudy..
Apa kabar??
Semoga sehat kapan dan dimana pun berada yaa. Izin menyapa di sela part yang kian gumus.. 🤣🤣
Yang nulis juga gak kuat bayangin..hihihi tapi kudu dia buat biar teman-teman tambah cinta sama mas Rudy yang dulunya Fakeboy kini jadi Goodboy.
Terima kasih ya untuk segala perhatiannya atas tiap part yang up.. makasih juga buat komentarnya yang bikin gemes..hihi terima kasih semua 🙏🙏
Maafkan jika update, telat yaa, biasa emak Ria ini adalah sejatinya Ratu dapur dan Ratu gojek di kala anak sekolah dan kudu di bagi waktu dengan menjadi cinderella sejati 🤣🤣 aka nge biktum.
Tapi dari semua-semuanya maafkan karena banyak typo hihi 🙏🙏 semoga mata teman-teman tetap sehat terjaga dan kepemahaman yang udah level Dewi Fortuner bisa lebih di pahami yaa akan maksud tulisan emak Ria yang recehini.. amiin..😅😅
Dan di mohon dengan segala kerendahan hati yang gak kalah dari harga minyak dan bawang untuk sudi kiranya menyisihkan gift atau koin guna mempertahankan hubungan bilateral kita agar lebih kuat terjaga.. 😅😅🤣🤣
maafkan tulis di malam yang sebentar mau romantis tapi ya mak harus akhir dengan next part lagi yaa.. 🤣🤣 semoga sabar menanti sayang-sayang mak Ria.. 💗💗 love nusantara teman-teman