
Setelah pagi yang menggemparkan. Kini Sinta turun ke lantai bawah lobby di temani Rudy.
Dan ketika langkah Sinta berada di luar gedung apartemen, terlihat sebuah sedan mewah milik Rudy telah siap di sana bersama supir.
"Bagaimana perasaanmu??"
Sinta sedikit menoleh.
"Hm, sedikit lebih baik.. tapi.."
"Tapi apa?"
"Sinta mau tanya, berapa harga 1 apartemen seperti punya mas Rudy?"
Rudy bereaksi sedikit terkejut.
"Ehm, sekitar 6 atau 7 miliar, lupa sih pastinya berapa, kenapa?"
Wajah Sinta mematung tercengang.
"Tu-tujuh miliar??" ucap Sinta dengan kedua mata membulat sempurna. "duh, ginjal ku jadi insecure dengernya.." tukas Sinta miris.
Rudy menyeringai lucu.
"Kenapa ginjal kamu jadi insecure??"
"Ya jelas insecure dong mas, 7 miliar itu mau berapa tahun juga Sinta jual jamu gak akan terkumpul.." celetuknya kesal sendiri mendengar mas Rudy yang sepertinya tidak memikirkan nominal yang sangat fantastis bagi rakyat jelata seperti Sinta.
Rudy jadi terkekeh lucu mendengar celotehan Sinta yang apa adanya.
"Ikh, ngejek ya mentang kaya??" celetuk Sinta tambah kesal mendengar tawa Rudy yang begitu senang melihat penderitaannya.
Rudy mencoba menahan tawa.
"Kamu pasti bisa kok"
Sinta mendengar dengan ekspresi sinis.
"Bisa, tapi di dunia mimpi.. " celetuk Sinta ketus.
Rudy tersenyum manis.
"Jika kamu gigih, mas percaya gak ada usaha yang mengkhianati hasil.."
Sinta menantap Rudy.
"Kamu pasti bisa beli apartemen ini, percaya.. dan berjuang.." ucap Rudy penuh aura positif.
Sinta menghela nafas.
"Atau?? kamu cari saja pria kaya yang bisa kasih kamu apartemen.." ujar Rudy tertawa kembali.
"Iikkh, amit-amit mas.. kalau dapat kaya cakep alhamdulillah, eh tapi.. rupanya dapat kaya malah bandot tua, uwaaah no deh mas.. makasih, mending hidup miskin begini, apa adanya, gak makan hati.."
Rudy tertawa lepas. Dan sesaat Sinta terpesona.
"Yaa, kalau pria kayanya kayak mas sih, oke, gak bakal malu-maluin dan makan hati.." gumam batin Sinta yang entah mengapa jadi tertuju pada Rudy.
"Ya, sudah pulang sana.. istirahat yang cukup.. jika sudah baikan datang kekantor, kita bahas proyek jamu 7 miliar kamu itu.."
Bibir Sinta manyun.
"Ya deh mas Tuan Mahendra.. sekali lagi terima kasih banyak untuk usaha tenang yang susah mas sisih kan untuk Sinta kemarin.. semoga di balas oleh Allah berkali-kali lipat.."
Rudy terkekeh.
"Perasaan mas gak sedekah deh.." sahut Rudy.
"Ooh, iya iya deh..amiin " sahur Rudy menurut sembari satu tangan mengusap kepala Sinta bak anak kucing manja. " Sudah pulang sana, dan jangan lupa kamu sudah janji buat jamu untuk Rara.."
"Oh, iya lupa.. Sip mas.." sahut Sinta dengan satu jempol teracung mantap. "Nanti Sinta kirim langsung ke mbak Rara.."
"Oke.." sahut Rudy.
Dan tak lama Sinta berbalik untuk meraih pedal pintu mobil mewah Rudy yang sudah sedari tadi menunggu.
Sinta masuk kedalam mobil lalu perlahan roda mobil itu pun pergi.
Terlihat Rudy menatap kepergian mobil mewahnya yang membawa gadis jamu yang hampir saja ia jamah kesuciannya tadi malam.
Sesaat Rudy menghela nafas.
"Sialan kamu Rudy, hampir saja kamu jadi penjahat kelamin..ah, untung saja.." helanya yang hampir masuk kemasalah baru dengan wanita.
Tak lama Rudy berbalik untuk kembali menuju apartemennya.
***
Rudy kembali dan di sana terlihat Rara masih duduk di sofa tengah apartemen.
"Dimana mas ketemu gadis jamu itu?" tanya Rara yang sudah siap menjadi interpol untuk sang kakak.
"Di hutan.."
"Hah? hutan??" kening Rara tertaut bingung.
"Sudahlah, itu tidak penting.. sekarang kamu punya rencana apa?"
Rara sedikit terdiam dan berpikir.
"Rara mau merebut mas Hendra lagi lalu membuat hidup dia hancur.." jawab Rara dingin.
Rudy duduk sembari menantap sang adik.
"Apa hati kamu akan puas?" tanya Rudy bernada serius.
Rara menimbang.
"Kamu jangan mengulang egois yang pernah mas lakukan.. dia salah oke dia salah, tapi apa hati kamu benar-benar membenci Hendra?"
Rara merenung. Lalu Rara menghela nafas.
"Rara gak tau apa yang salah, karena mas Hendra gak pernah bilang.. tapi dia main perempuan Rara sakit hati mas.. itu udah batas yang tak bisa di toleransi.."
Sesaat Rudy merasa berada di saat wajah sang mantan istri, Alia kecewa.
"Secinta apa pun, tapi ketika suami sudah membawa wanita lain, rasanya sulit untuk bisa memanfaatkan itu artinya dia gak bisa menerima diri Rara yang bisa menerima dia apa adanya.." tutur Rara sedih.
"Mas taukan?? gak mudah bagi Rara saat nerima mas Hendra, perusahaannya nyaris bangkrut dan semua kesuksesan mas Hendra itu dari bantuan saham Rara.."
Rudy menghela nafas.
"Mungkin itu, salahnya kamu.."
Rara mendelik.
"Rara salah??"
"Kamu masih menganggap dia rendah, dia insecure, dan kamu masih memgungkit tentang pertolongan kamu saat dia susah.."
Rara tercengang.