Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Jadi



Rudy terkesiap. Dan hanya mematung ketika merasakan bibir gadis jamu itu menyentuh bibirnya.


Tapi tiba-tiba kedua mata sinta terbuka. Ia pun seolah sadar atas apa yang telah ia lakukan.


Dengan rasa canggung Sinta menjauh.


"Ah, maaf mas.. Sinta.." ucap Sinta malu lalu hendak beranjak dari sisi Rudy untuk segera pergi dari hadapan pria yang telah memanggil hasratnya.


Namun entah rasa itu begitu tulus sehingga Rudy ingin merasakannya lagi.


Untuk kali ke dua, Rudy kembali menjatuhkan ciuman di bibir ranum Sinta.


Sinta mematung kaget. Sekujur tubuh yang seolah lemah menerima segatan ciuman Rudy yang spontan. Rasa yang ia miliki akhirnya tak bisa ia bendung lagi. Hingga Sinta pun membalas ciuman bibir sang Direktur Mahendra.


Lengan Rudy menyusup di punggung Sinta, ia ingin mengecup lebih intim.


Sinta menikmati ciuman bibir yang membuatnya merasa di cintai. Saliva keduanya saling bertukar. Derus nafas yang memburu saling bergantian merengkuh kecup manis nan mengelora.


Jemari Sinta menyentuh jenjang leher hingga tengkuk Rudy. Tubuh pria itu benar-benar sedang menahan gejolaknya.


Namun di saat ciuman itu begitu inten, tiba-tiba insting Rudy tersadar. Dan ia menyudahi ciuman yang tak seharusnya.


Sinta menantap kecewa.


"Mas.." lirih Sinta.


"Aku tidak berpikiran untuk minta maaf.. karena aku yakin kau dan aku menginginkan hal yang sama.."


Sinta menatap lekat wajah Rudy yang berjarak beberapa inci.


"Tapi..aku harap, ini yang terakhir.."


Deg..


Kedua bola mata Sinta menantap tak percaya.


Perlahan Rudy melepaskan tangannya dari punggung Sinta.


"Kenapa? mas berkata seperti itu?"


Jakun Rudy turun dengan kasar, ada hal yang mencekik kerongkongannya. Di saat itu Rudy hendak bangun dan Sinta pun turun dari pangkuan Rudy.


Rudy berdiri menatap Sinta. Ada hal yang membuat ia tak pantas untuk sosok gadis jamu yang begitu polos dan baik.


"Sinta.. aku.."


"Sinta suka sama mas.." sela Sinta tanpa ragu yang akhirnya mengungkapkan isi hati yang ingin ia pungkiri.


Deg..


Rudy terkejut.


Lalu tanpa pikir panjang Sinta meraih jemari Rudy dan membawanya kedada.


"Sinta tulus mencintai mas.."


"Sinta.." ucapan yang sulit untuk Rudy ungkapkan tertahan di tenggorokannya.


"Jika mas takut karena tak bisa membuat Sinta hamil, sinta tak akan pernah menuntut itu.."


Jleb..wajah Rudy tercengang mendengar ucapan Sinta yang tepat menancap di hatinya.


"Kamu??"


"Sinta tau, ceria masalalu yang membuat rasa penyesalan mas terhadap mantan istri yang telah mas sakiti. Tapi Sinta tak peduli, bagaimana pun di mata Sinta mas Rudy adalah pria yang baik.. pria yang membuat Sinta nyaman, pria yang membuka pikiran Sinta.. mas juga yang membuat Sinta jadi seperti ini..Mas yang.."


"Cukup.." sela Rudy sedih.


Sinta menahan ucapannya.


Ada perasaan yang membuat dada Rudy sesak.


"Kamu pasti bisa mendapatkan pria yang lebih baik.. yang jauh lebih pantas dan tentunya dapat memenuhi semua impian kamu.."


"Mas?? mengapa menolak?? apa mas tidak punya sedikit perasaan pada Sinta?"


Rudy terdiam. Tatapannya seperti berkata tidak.


"Jika mas mencintai Sinta, maka semua akan Sinta berikan pada Mas.. tanpa menuntut apa pun.. cukup mas menerima Sinta apa adanya dan Sinta juga akan menerima mas dengan apa adanya.." ucap Sinta dengan serius.


Gemuruh hati Rudy bergetar ketika melihat bening air mata Sinta yang jatuh untuk dirinya. Ia sedikit mundur, Rudy tak ingin perasanya akan meluap jika lebih lama lagi di hadapan wanita yang berhasil mencuri hatinya.


Namun tanpa di sangka Sinta memeluk tubuh Rudy dengan cepat. Dan menghamburkan segala asanya di dada Rudy.


"Jangan menghindar mas.. Sinta tulus mencintai mas.." isak Sinta yang lirih memohon pada pria yang mungkin saja sudah tak ada sisa hati untuk dirinya.


Rudy menahan tubuh Sinta untuk beberapa saat. Ia merasa begitu jahat pada Sinta. Bagaimanapun Rudy tak ingin ada wanita yang akan menangis karena dirinya lagi.


Namun gadis jamu ini, semakin ia menghindari kenyataan rasa hati, tapi nyatanya malah rasa itu emakin besar rasa akan gadis jamu ini.


"Sinta takut untuk kehilangan lagi.. " bisik Sinta tersedu.


Deg.. lagi ucapan Sinta membuat Rudy merasa sakit. Padahal ia bersumpah untuk tak lagi mengusik hatinya yang sudah lama kosong sejak berpisah dengan Alia.


Perlahan dengan wajah penuh harap Sinta mererai pelukannya dari tubuh Rudy.


"Tidak bisakah, sekali saja.. Mas beri kesempatan pada Sinta?" tanya Sinta sungguh.


Rudy terkesima dengan wajah tulus Sinta.


Jemari Sinta menyentuh garis wajah Rudy.


"Kita belajar tentang cinta kita, mas dan Sinta.." ucap Sinta meneguhkan hati Rudy yang ragu.


"Sinta.." bisik Rudy dengan suara berat.


"Tolong, terima cinta Sinta.." balas Sinta berbisik dengan bening air mata tulus.


Rudy seolah tak bisa berkutik.


Hingga tanpa Rudy bisa menahan lagi. Akhirnya Rudy kembali menjatuhkan ciuman bibir pada sang gadis jamu yang berhasil menbuatnya goyang.


"Aku tidak bisa berkata tidak, karena entah sejak kapan, kau masuk dan mengusik relung hati yang aku sangka tak bernyawa lagi.." guman batin Rudy yang akhirnya meluapkan segala rasa didalam hatinya.


Ciuman bibir itu kian tertaut intim. Sinta pun menikmati ciuman penuh cinta dari sosok yang luar biasa. Dan ia merasa yakin jika ini adalah jawabannya.


Jika mas Rudy adalah cintanya, ia tak ingin kehilangan pria yang sudah hampir masuk kedalam seluruh hidupnya.


Di saat luapan rasa cinta itu terus berlangsung.


Tiba-tiba terdengar nada dering dari handphonen Sinta.


Dan hal itu membuat kedua sejoli yang akhirnya pecah. Tersadar.


Ciuman terrerai.


"Mas, itu suara handphone Sinta.."


Rudy tersenyum simpul.


"Heem, Sepertinya itu dari ibu kamu.." tebak Rudy.


Sinta terkaget.


"Wah bener tuh.." ucap Sinta yang tiba-tiba sadar dari dunia percintaannya. Lalu dengan sedikit berlari kecil meraih tas yang ia taruh di atas meja dekat meja makan.


Dan ketika layar datar itu berada di genggaman. Kedua mata Sinta terbelalak. Lalu dengan cepat menjawab telfon dari nama yang tertera " Ibu Negara Api"


"Hallo?"


"Assalamualaikum, sinta?? kamu dimana??" cecar ibu bernada cemas.


Sinta mengigit bibir bawahnya.


"Ah, iya bu, maaf Sinta masih diluar nie, sebentar lagi Sinta balik ya bu.." jawab Sinta sembari menoleh pada jam dinding di ruangan itu.


"What? udah jam 10 aja?? biasa-biasanya kamu gak sadar Sinta.." rutu batin Sinta yang mengutuk dirinya sendiri.


"Oh, ya sudah.. cepat pulang ya. ibu tunggu.."


"Oh, iya bu.. otw nie otw.." jawab Sinta cepat.


Komunikasi terputus dan Sinta menghela lega.


"Huuffft, hampir aja.." hela Sinta bergumam dalam hati.


Rudy masih di tempatnya, namu perlahan ia berjalan menuju Sinta.


Sinta merespon.


Namun yang diluar dugaan Rudy malah memeluk tubuh Sinta lagi.


Sinta sedikit kaget. Dan perlahan ia menikmati pelukan hangat itu.


"Mas hanya ingin mengatakan satu hal.."


Sinta menanti.


Lalu perlahan Rudy menarik diri dari pelukan itu. Dan menantap wajah Sinta dalam.


"Jika suatu saat kamu lelah, kamu bisa meninggalkan mas.. kamu berhak bahagia.."


Raut wajah Sinta seketika kecewa.


"Jadi maksud mas? kita jalan tanpa status?? tanpa tepi??"


Rudy menyentuh wajah Sinta. Ada rasa ingin membuat wanita ini terus tinggal di sisinya, namun Rudy tak ingin egois.


"Mas tidak ingin kamu terluka seperti Alia.. kamu pasti akan mengerti jika mas hanya ingin yang terbaik.. untuk wanita yang sudah begitu menujukkan rasa tulusnya pada mas.." ucap Rudy penuh arti.


Lalu perlahan Rudy kembali menarik Sinta dan membuat wajah gadis itu mendekat hingga kembali bibir ranum Sinta dapat ia kecup.


Sinta memejamkan matanya.


"Apa pun, akan sinta lakukan, sinta yakin mas tak akan bisa melepaskan sinta dengan mudah..Mas pasti akan berjuang untuk cinta ini.." ucap batin Sinta yang penuh harap pada sosok yang masih merasa tidak cukup pantas ia miliki.