
Setelah heboh kejadian di aula pendaftaran mitra Mahendra selesai.
Kini Sinta telah kembali kerumahnya tepat di jam 2 siang.
Ia sampai dirumah dengan perasaan lelah yang bercampur aduk dengan rasa senang.
Ibu menyambut dengan senyum hangat.
"Gimana Sin??"
Sinta yang tadinya rebahan di sofa seketika bangun melihat ibu datang dari dapur.
Wajahnya berubah senang.
"Bu, tau gak?? tadi.. tadi ada kejadian luar biasa yang ibu pasti enggak nyangka.."
Ibu menantap dengan penasaran.
"Apa? ada kejadian apa?" tanya ibu tak sabar.
Wajah Sinta bersemangat saat menceritakan pertemuannya dengan sosok yang ia selamatkan saat tersesat di hutan waktu itu.
Panjang lebar ia menceritakan proses pertemuan yang benar-benar tak terduga itu.
"Ja-jadi dia itu Direktur perusahaan Mahendra??"
"Iya buk, duh Sinta aja sampai mau pingsan waktu tau kalau ternyata itu orang bukan orang biasa buk.. dan yang lebih mengejutkan lagi.. ibu tau apa??"
"Apa?"
Wajah Sinta tersenyum sangat lebar.
"Jamu sinta bu, masuk perusahaan Mahendra!!" seru Sinta sumbringah.
Terlihat ibu sangat terkejut.
"Yang, yang bener kamu??"
Sinta mengangguk pelan.
"Pak Direktur.. eh maksudnya pak Rudy itu langsung setuju gitu sama produk jamu Sinta bu, bahkan bakal masuk lab riset untuk di uji kelayakannya jika di jual dalam jumlah besar.."
Ibu tak bisa menutupi rasa terharunya yang luar bisa mendengar kabar bahagia ini.
"Alhamdulillah, ya Allah.." seru ibu harus dengan memeluk sang anak yang akhirnya dapat meraih impiannya.
Sinta juga ikut terharu di saat pelukan ibu menghantarkan tubuhnya.
"Kamu benar-benar beruntung.."
"Doain Sinta selalu ya bu, ini baru awal dan pasti ada tahap selanjutnya yang harus Sinta lewati.." ucap Sinta dengan mengusap punggung ibunya.
Ibu mererai pelukan dan ia menatap wajah sang anak dengan haru.
"Selalu.. selalu ada nama kamu di doa ibu.." ucap Ibu haru sedih.
Sinta jadi ikut sedih. Dan tak lama ibu dan anak itu kembali berpelukan senang.
Namun di tengah haru bahagia itu, tiba-tiba rumah mereka kedatangan tamu.
"Assalamualaikum, mbak Sintaaa" panggil suara perempuan di depan rumah.
Keduanya kaget.
"Wa'alaikumsalam.." sahut ibu. "Pas bu Reni..mau ambil jamu untuk anaknya.." kata ibu sembari beranjak dari duduknya. "Kamu istirahat aja, biar ibu yang samperin.." ujar ibu berlalu.
Sinta hanya bisa tersenyum tipis. Ia benar-benar beruntung karena memiliki seorang ibu yang kuat seperti ibunya yang telah merawat dan membesarkan dirinya seorang diri.
Untuk sesaat Sinta menenangkan dirinya dengan memejamkan mata. Ada rasa lelah dan rasa yang tak bisa ia jelaskan untuk hari luar biasa ini.
Namun saat kedua matanya terpejam, terbayang sosok sang Direktur Mahendra yang saat itu memegang tangannya ketika di dalam lift.
"Pilihan yang tepat Sinta, kamu berhasil membuat dia cemburu.." ucap Rudy saat itu.
Dan Sinta tak akan bisa melupakan tawaran tak terduga dari pria yang membuatnya takut untuk percaya akan keputusannya.
Kedua mata Sinta terbuka dan ucapan itu terus terngiang di pikirannya.
"Merebut mas Agung?? apa aku bisa??" tanya Sinta pada dirinya sendiri, lalu ia bangun karena merasa gerah dan ingin segera mandi.
***
Di waktu siang yang berbeda. Terlihat Rudy sedang duduk bersama sang adik Rara.
Rara menikmati makan siangnya bersama kakak tertua. Sudah lama rasanya ia tak bertemu dengan mas Rudy, mungkin sudah 4 bulan lamanya sang kakak susah untuk di temui.
"Gimana keadaan dirumah??"
"Ibu sakit.." jawab Rara to the poin.
Sendok di tangan Rudy berhenti. Ia memperhatikan sang adik yang sedang menikmati makanannya dengan santai.
"Darah tingginya naik dan ibu jadi susah tidur.." sambung Rara tenang.
Rudy merasa gelisah namun ia menutupi hal itu dengan kembali melanjutkan makannya yang sudah kehilangan selera.
"Sudah telfon dr. Maimun?"
Dan kali ini Rara yang berhenti makan dan menantap sang kakak.
"Mas sudah taukan kalau itu juga percuma, ibu berharap mas pulang.. dia tidak butuh yang lain selain mas anaknya yang paling di sayang"
Rudy menguyah santai dengan menahan perasaan sakit hatinya pada sang ibu.
"Apa mas gak bisa maafin ibu?? itu ibu mas sendiri, apa segitu susahnya memaafkan ibu sendiri??" tutur Rara kesal.
Rudy meraih gelas putih dan meminumnya dengan perlahan.
"Semua pasti bisa berbuat salah dan ibu sudah mengakui dan menyesalinya mas.." timpal Rara mencoba untuk melunakkan rasa marah sang kakak.
"Tapi penyesalan ibu tidak bisa membuat Alia kembali.." potong Rudy tegas.
Dan Rara pun bungkam. Raut wajahnya seketika sedih.
"Mas masih belum bisa melupakan mbak Alia??"
"Kamu pikir mudah? setelah apa yang sudah kita lakukan untuk Alia??" tandas Rudy marah.
Rara terkejut dengan nada marah sang kakak yang masih sangat kentara walau sudah hampir 1 tahun berlalu rumah tangga
Rudy sadar lalu menghela nafas panjang dan ia menyudahi makannya yang baru 3 suap itu.
"Jika kamu datang hanya untuk membahas soal ibu, lebih baik mas balik kantor..jika kamu perlu sesuatu kabari Jimmy atau Delon.." ucap Rudy hendak beranjak pergi.
"Mas tunggu.." tahan Rara cepat. "Tunggu, ada hal penting yang ingin Rara sampaikan sama mas.."
Rudy menahan diri lalu kembali duduk.
Rara terlihat gelisah.
"Ada apa?? katakan??"
Rara menghela nafas berat.
"Rara.. mau bercerai"
Deg.. Rudy terpaku.
"Apa?"
Rara tak berani menantap wajah sang kakak yang sangat terkejut.
"Se-sepertinya.. Rara, tidak sanggup lagi.." ucapan Rara bergetar dengan kedua matanya berkaca-kaca. "Untuk terus di acuhkan mas Hendra.." ucap Rara dengan jatuhnya air mata.
Rudy mematung ketika mendengar berita yang cukup mengejutkan bagi dirinya.
"Hendra?? apa yang kau lakukan pada adikku!!" gumam batin Rudy yang geram dengan tangan terkepal kuat dibawah meja sembari mendengarkan isakan tangis pilu sang adik.