Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Tunggu!! apa ini??



Akhirnya setelah mengitari ibu kota, roda mobil mewah Rudy pun kini terparkir di salah satu rumah kecantikan yang terlihat cukup berkelas.


Rudy berdiri di ruang pelayanan dan tengah berbincang dengan di layani seorang wanita yang terlihat sangat ramah.


Sinta duduk di sofa sembari menikmati ruangan yang sejuk dengan ditambah aroma terapi lavender begitu halus tercium di hidungnya.


Namun tak beberapa lama Rudy kembali dengan di ikuti seorang wanita muda di belakangnya.


"Sinta.." panggil Rudy mendekat.


Sinta bangun dari duduknya.


"Ya mas.."


"Oke, berdiri di situ.."


"Hah??" Kening Sinta tertaut bingung. "Untuk apa??"


"Aku mau foto kamu.." ucap Rudy sembari mengeluarkan handphonenya dan membuka aplikasi foto dan bersiap untuk membidik picture.


"Untuk apa?"


Rudy tak menjawab, namun di detik itu ia mengambil picture Sinta yang super apa adanya tanpa aba-aba untuk berpose.


Ceklek..


"Yup.. oke.."


"Ikh, mas masa udah foto aja..Sintakan belum siap, aduh pasti jelek banget!!"protes Sinta yang merasa penampilannya belum maksimal saat di foto."Untuk apa sih mas?"


Rudy tak menjawab, dia menyimpan kembali handphonenya kedalam saku jas. Sembari menoleh pada sang pelayan wanita yang masih setia menunggu perintah.


"Mbak ini akan membawa kamu bertemu dengan tim yang akan mengurus kamu.. jadi selamat menikmati.." ucap Rudy santai.


"Ta-tapi mas, ini Sinta mau di apain??"


"Sudah tenang saja..oke??" seru Rudy sembari menoleh pada jam tangannya. "Aku harus pergi dulu, jadi nanti aku kembali setelah rapat, dan kita akan bahas lagi nanti.." jelas Rudy sembari hendak berjalan.


"Eh, mas tunggu!!" seru Sinta yang seketika menahan lengan Rudy.


Namun Rudy dengan tenang melepaskan tangan Sinta.


"Mbak tolong di bawa segera, biar cepat.." perintah Rudy pada sang pelayan.


Pelayan itu langsung menggangguk ramah.


"Baik, ayo mbak ikut kita kedalam.." ajak pelayan wanita itu sembari memegang lengan Sinta.


"Mas Rudy.." seru Sinta memelas.


Namun pria itu dengan santai berlalu pergi begitu saja meninggalkan rumah kecantikan itu.


Sinta berjalan sembari di bimbing oleh sang pelayan wanita.


Dengan helan nafas akhirnya Sinta mengikuti wanita yang menuntun jalannya.


"Mbak, memang saya mau di apain sih mbak??"


Wanita itu tersenyum ramah.


"Dari daftar pilihan perawatan tadi, mbak akan di body slimming, filter wajah dan waxing all body.."


Sinta yang berjalan seketika langkahnya berhenti.


"Hah?? apa? wa-waxing seluruh tubuh?" ucap Sinta dengan kedua mata melotot syok.


"Filter wajah?? apa gue sejelek itu sampai harus filter wajah segala!!" rutu Sinta yang tak bisa terucap terang-terangan di hadapan pelayan ramah itu.


Pelayan wanita itu menantap dengan tersenyum simpul.


"Yuk mbak.." ajak pelayan itu tetap ramah.


Sedangkan Sinta kian takut hingga tanpa sadar kakinya perlahan mundur, karena ia sudah dapat membayangkan jeritan saat waxing di lakukan.


"Mas Rudy sebenarnya niat gak sih buat rencana ini?" rutu Sinta yang sepertinya tidak bisa mundur dengan mudah.


Karena di saat ia hendak mundur untuk pergi tiba-tiba dua orang pelayan menahan Sinta yang bergelagat ingin kabur.


"Ayo mbak, kita jamin pelayan ternyaman.." ucap pelayan wanita yang terlihat senior.


Sinta senyum terpaksa.


"Mampus, bulu gue..bulu gue banyak banget!! Siapapun TOLONG SINTA!!" jerit batin Sinta yang tak bisa lepas. "MAS RUDY AWAS AJA KAMU, AKAN SINTA RACUNI JAMU PESANAN MAS!!"


Dan akhirnya Sinta terseret dalam ruang perawatan yang terlihat lux namun sebenarnya tempat menyakitkan untuk wanita-wanita yang gila kecantikan dan menolak kenyataan jika sudah tak muda lagi.


***


Di tempat berbeda, kini Rudy berada di ruang rapat dengan tengah mendengarkan laporan ketua tim lapangan tentang Resort Sadewa.


Sebuah layar besar terlihat sebuah foto visual Resort Sadewa yang tingkat penyelesaian hampir mencapai 85 %.


Rudy dan beberapa anggota rapat memperhatikan ketua tim lapangan tengah menjelaskan panjang lebar tentang proyek tersebut.


Namun didalam rapat itu, terlihat sebenarnya Rudy kecewa. Karena sang rekanan yang bekerja sama dalam proyek ini tidak hadir dan hanya di hadir oleh perwakilannya saja.


Memang hal yang wajar saja jika pimpinan perusahaan sekelas Sadewo yang cukup terkenal di wakilkan oleh orang kepercayaannya. Namun bagi Rudy yang baru pertama kali berkecimpung di dunia property dan Resort sangat berpengaruh.


Membangun sebuah Resort bukanlah hal yang mudah bagi Rudy yang masih awam. Berbeda jika ia membangun perusahaan makanan yang memang sudah menjadi ranah bisnis yang Rudy geluti.


Hingga rapat selesai, terlihat Rudy merasa bosan. Tak ada yang menarik jika rapat penting ini hanya di hadir oleh perwakilan pak Ali. Karena yang Rudy inginkan adalah ingin lebih mendekatkan diri dengan pak Ali Sadewa yang merupakan pemilik perusahaan Sadewo. Dan menjadi penanaman modal terbesar di Resort Sadewa.


Sampai rapat selesai, Rudy tak terlihat antusias hingga tak banyak berkomentar. Dan Jimmy mengerti jika sang atasan kecewa.


Setelah perwakilan Sadewo pulang dari perusahaan Mahendra.


Rudy hanya menatap punggung para perwakilan Sadewo dengan wajah dingin.


"Lain kali, jika pak Ali tidak bisa datang.. jangan pernah membuat rapat lagi.." perintah Rudy.


Jimmy hanya diam tak menjawab.


Rudy menghela nafas panjangnya.


"Mungkin cukup sekali aku bermain di dunia property, dan sepertinya pak Ali bukan orang yang mudah untuk didekati.." ujar Rudy.


Jimmy lagi-lagi hanya diam mendengarkan keluh sang atasan.


"Kau tau kan? jika seperti ini kesannya aku yang mengemis untuk bekerja sama dengan mereka.." kesal Rudy yang mengeluarkan unek-uneknya ketidak senangnya pada rapat yang ia anggap penting, namun di kecewakan oleh sikap sombong rekan bisnis.


Untuk sesaat Rudy berdiri diam. Namun tak beberapa lama ia melirik pada jam tangannya. Tiba-tiba saja ia ingin ada tugas lain yang pasti sudah selesai.


"Jimmy dimana surat perjanjian mitra Mahendra yang aku minta??"


Jimmy dengan cepat merespon sembari membuka satu map hitam yang ia bawa sedari tadi. Lalu memberikannya pada sang atasan.


Rudy menerima dan membaca sekilas surat itu.


"Oke.. untuk sementara ini cukup.." ucap Rudy menyetujui syarat yang tertulis dalam surat perjanjian kerja sama itu.


"Aku akan pergi, jika ada sesuatu hal penting hubungi aku segera.." ucap Rudy pada Jimmy.


Jimmy hanya mengangguk paham.


"Oke, terima kasih Jimmy.. kau selalu bisa di andalkan.."ucap Rudy lalu tak lama ia meninggalkan sang sekertaris begitu saja.


***


Setelah hampir 4 jam lamanya.


Akhirnya Sinta keluar dari dalam salah satu kamar perawatan dengan hati lega. Ternyata tempat perawatan waxing itu tak seperti yang ia bayangkan. Walaupun ada sedikit sakit namun masih bisa di toleransi oleh tubuhnya.


Perawatan filter wajah juga hampir membuatnya pingsan ketika mengetahui ternyata ada beberapa suntikan di bagian wajah yang dianggap kurang cantik. Bahkan slimming tubuh pun benar-benar sangat nyaman dan kini ia merasa lingkar pinggang sedikit ramping.


Sinta terkagum-kagum dengan inovasi kecantikan yang benar-benar luar biasa. Hingga rasa-rasanya ia ingin berterima kasih dengan pencipta mesin slimming body itu, yang dapat menciptakan mesin sebagus itu dengan hasil yang luar biasa.


Disaat ia masih terkagum dengan kenyamanan ruang perawatan tadi. Tiba-tiba seorang pelayan wanita mendekat pada Sinta.


"Mbak Sinta.. pak Rudy sudah datang.."


"Oh.. ya oke.. " ucap Sinta cepat. Lalu dengan senyum ramah Sinta mengikuti sang pelayan itu berjalan meninggalkan ruang perawatan.


***


Di ruang tunggu bawah, Rudy duduk santai di sofa ruang kecantikan itu.


Sudah lama ia tak pernah kesini, 2 tahun yang lalu mungkin dalam 2 bulan sekali ia akan membawa sang mantan istri, Alia dan sang ibunda tercinta untuk perawatan yang pastinya dengan nominal yang tidak sedikit.


Namun di saat ia tenggelam mengingat bayang masa lalu, tiba-tiba sebuah suara merdu memanggil namanya.


"Mas Rudy.." panggil sinta lembut.


Rudy yang duduk membelakangi arah Sinta datang seketika berbalik untuk melihat pada rekan mitra barunya.


Sinta berdiri dengan senyum hangatnya.


Deg..


Dan Tatapan Rudy terpaku di detik itu.


"Tunggu..!! apa ini??" gumam batin Rudy yang tanpa sadar, seolah merasa berbeda.