
"Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan sopan santun saya.. Saya berniat untuk menikahi putri ibu, Sinta Ramanithia untuk menjadi istri saya.." ucap mas Rudy yang terdengar jelas.
Dan Sinta yang berdiri di balik pintu depan rumah syok. Tidak, lebih tepatnya ia hampir di buat pingsan mendengar lamaran mas Rudy langsung pada saat ibu yang sedang menolak.
"Mas Rudy" desis Sinta gelisah. Dan jantungnya jadi tidak tenang mendengar pembicaraan serius itu yang harusnya di lakukan saat moment yang tepat.
Di sisi luar rumah Sinta, ibu masih berdiri mematung mendengar ucapan sang tamu yang baru saja mengajukan permintaan untuk menikahi Sinta putrinya.
Wajah Rudy menujukkan keseriusan.
Ibu tak bergeming, ibu butuh waktu dan sesaat ia dapat merasakan detak jantung yang berdebar kuat. Ucapan sang tamu telah membuat serangan pada jantungnya yang tak siap.
"Saya akan menjaga Sinta dan membahagiakan putri ibu.." timpal Rudy dengan kesungguhan.
Namun wajah ibu kian tak bisa menerima.
"Cukup.." ucap ibu Sinta yang merasa tubuhnya seketika lemas. Dengan menahan tubuhnya, ia berusaha kuat.
Rudy dapat melihat jika raut wajah wanita paruh baya itu berubah. Dan itu membuat khawatir.
"Ibu, apa anda baik-baik saja??" cemas Rudy dengan hendak menahan tubuh yang sepertinya akan jatuh.
Sinta yang dapat mendengar seruan Rudy pun, seketika membuka pintu dan betapa kagetnya ia ketika melihat ibu sedang menopang tubuhnya di dinding.
"Ibu!!" seru Sinta menahan tubuh ibu dari belakang. "Ibu?? apa jantung ibu sakit lagi?" cecar Sinta cemas.
Rudy pun melihat situasi yang sulit.
"Sebaiknya bawa ibu ke rumah sakit.." saran Rudy yang seketika cemas melihat wajah ibu kekasihnya pucat.
"Tolong tinggalkan putri saya?" pinta ibu di sela lemahnya menahan sakit di jantung dan seketika ibu pingsan di pangkuan sang putri.
Bruuuukk.
"IBU!!" pekik Sinta panik yang ikut jatuh menahan tubuh sang ibu. Dan ia menangis panik. "Ibu!" Sinta berusaha menyadarkan ibu yang tak bergeming.
Rudy sama terkejurnya sehingga ia pun segera membantu dan mengambil alih tubuh ibu Sinta.
"Kita bawa kerumah sakit sekarang!!" seru Rudy yang berhasil membawa tubuh lemah ibu Sinta bersamanya.
Karena hal tak terduga itu, para tetangga yang kebetulan berada di sekitaran itu pun jadi ikut penasaran. Dan mereka jadi kian penasaran ketika melihat tubuh ibu Safura yang pingsan di bawa oleh teman pria sang anak.
"Duh, kenapa tuh??"
"Wah, sakit jantung bu Safura kumat lagi!!"
"Pasti tuh!!" seru yang lain menimpal dengan tatapan luar biasa curiga pada Sinta yang berlari di belakang pria yang membawa tubuh ibunya.
"Pasti ibu kaget, karena Sinta bawa kabar aneh kali!!"
"Wah, kasihan.. baik-baik di jaga malah sekarang buat masalah si Sinta!!" cibir yang lain.
Di sisi lain, Sinta dengan derai air mata khawatir, ia masuk kembali ke dalam mobil sang kekasih dan menjadi tempat bersandar tubuh ibu yang pingsan.
Rudy bersiap membawa kembali mobilnya.
"Ibu!!" seru Sinta dengan cemas memangku kepala sang ibu.
Rudy tak bisa berkata, ia pun melakukan mobil dengan segera.
***
Sinta membawa ibu ke rumah sakit yang memiliki jarak dekat dengan rumahnya.
Sinta yang cemas dan kalut menunggu hasil pemeriksaan dari dokter.
Tak lama, seorang dokter yang mengenali Sinta pun menghampiri.
"Dokter??"
"Sudah pada batasnya??"
"Apa??"
"Jantung ibu Safura harus segera di operasi dan tidak bisa di tunda lagi.."
Deg..Sinta mematung dan sedetik kemudian tubuhnya jatuh terduduk lemah.
Brukk.. Dokter yang melihat hal itu panik.
"Sinta??"
Tepat di saat bersamaan Rudy juga tiba setelah markirkan mobil.
"Sinta!!" seru Rudy setengah berlari dan langsung menghampiri sang kekasih.
Seketika Sinta menangis hancur. Bagaimana ia tidak menyadari kondisi ibu.
Rudy melihat dengan wajah khawatir.
"Bagaimana kondisi ibu? apa ada hal yang serius??" tanya Rudy pada dokter wanita paruh baya.
"Ibu Safura harus segera melakukan pemasangan ring jantung.."
"Apa?"
Sinta dengan tangis yang berderai menatap Rudy.
"Ini salah Sinta mas.." tangis Sinta penuh penyesalan. "Sinta gak memperhatikan kondisi ibu, padahal ibu sudah menahan sakit bertahun-tahun.." isak Sinta menyesal.
Rudy menenangkan sang kekasih yang terlihat kalut.
"Jadi bagaimana dokter, apa tindakan yang harus segera ibu terima.."
"Kondisi ibu harus segera operasi, hanya itu jalan untuk menyelamatkan beliau.."
Rudy langsung mengangguk.
"Lakukan dokter, lakukan semua yang terbaik untuk menyelamatkan ibu.."
Sinta menantap Rudy.
"Baik, jika begitu prosedur rumah.."
"LAKUKAN SAJA!!" perintah Rudy dengan arogan. "Segala biaya akan saya bereskan sekarang juga.." timpal Rudy kesal pada dokter yang masih saja mementingkan prosedur dari pada tugas menyelamatkan nyawa manusia.
Dokter pun terkesiap dan langsung merespon ucapan Rudy. Ia pun segera memanggil perawat dan melakukan segala pekerjaan yang sudah harus ia tangani.
Sinta masih terguncang didalam dekapan Rudy.
Pikiran Rudy pun ikut terpecah, sungguh situasi berubah drastis. Dan ini juga menjadi salahnya karena tidak bisa menahan diri saat berbicara dengan ibu Sinta.
"Tenang Sinta, ibu.. pasti akan baik-baik saja" ucap Rudy menenangkan sang kekasih.