Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Harus sehat untuk kamu



Dan ternyata Sinta bertemu mas Rudy di salah satu rumah sakit ternama di ibu kota.


Ternyata Rudy melakukan medical cek up rutin yang sengaja ia lakukan.


Sinta menunggu dengan sabar di salah satu ruang tunggu VVIP.


Dan tepat di jam 11 siang akhirnya rangkaian pemeriksaan itu usai. Rudy kembali setelah berganti pakaian medis dengan pakaian biasa.


"Maaf, karena kamu harus tunggu lama" ujar Rudy sembari menjatuhkan satu kecupan di kening Sinta.


Sinta memejam kaget karena mendapatkan kasih sayang yang begitu hangat. Lalu pria itu duduk di samping Sinta dengan hela nafas lega.


"Apa mas lagi sakit?"


"Hm, enggak, cuma mas lupa ada jadwal cek up rutin dan semalam baru di kabari oleh tim rumah sakit"


"Oh"


"Pemeriksaan ini sengaja mas lakukan rutin, dan sepertinya memang bermanfaat" jelas Rudy.


Sinta menatap Rudy.


Rudy tersenyum simpul.


"Dan memang mas harus sehat, untuk kamu"


Sinta tersenyum malu.


"Ikh, kesehatan itu juga harus di jaga bukan untuk Sinta, tapi untuk diri mas sendiri" sahut Sinta sembari mencubit gemes pipi Rudy.


Rudy pasrah saja dengan tingkah Sinta. Dan tak lama keduanya saling melepas senyum.


"Oia, apa kamu bawa jamu??"


Sinta mengangguk.


"Bagus"


"Dan ada untuk mas juga kok, Sinta khusus buat untuk mas" ujar Sinta dengan mengeluarkan 1 botol jamu dari dalam tasnya lalu ia berikan pada Rudy.


Rudy meraih dengan sedikit enggan.


"Terima kasih, mbak jamu..anda sungguh perhatian" ujar Rudy bergurau.


Sinta tertawa lepas sembari memberi tanda jempol pada sang kekasih. Melihat raut wajah Sinta yang tertawa membuat sisi Rudy terpaku. Ia menatap lekat wajah itu seolah tak ingin kehilangan moment yang berharga.


"Aku tak tau, berapa lama aku bisa membuat mu tertawa secantik ini, tapi jika disatu masa kau bosan dan rasa cinta mu pudar, maka maafkan jika rasa egois yang aku miliki akan memenjarakan kamu di dalam istanaku , walau aku harus rela melihat mu menangis, tetap aku tak akan bisa melepaskanmu lagi" lirih batin Rudy yang menyimpan sisi prosesif karena takut akan kehilangan Sinta.


Sinta menatap Rudy yang hanya tersenyum simpul dalam diam.


Sinta menyentuh wajahnya sendiri.


Namun jemari Rudy menahan. Dan ia seketika menggeleng.


"Gak, kamu sangat cantik" puji Rudy.


Sinta tersipu malu.


Sinta menyentuh wajah Rudy yang membuatnya gemas.


"Ngomong cantik aja bikin sinta gemes" ucap Sinta dengan memberikan satu kecupan bibir pada Rudy yang hanya pasrah menerima sifat manja Sinta.


Cup..


Dan sesaat keduanya saling menantap lekat.


"Apa kita bakal di rumah sakit terus hingga hasil keluar?" tanya Sinta menyadarkan moment.


Rudy menggeleng.


"Gak, hasil cek up akan di kirim lewat email" jawab Rudy.


"Oh"


Lalu Rudy mengecek jam tangannya.


"Kita jalan sekarang yuk" ajak Rudy.


Sinta mengangguk bersemangat dengan meriah tasnya.


Namun terlihat Rudy menghabiskan isi botol jamunya dengan cepat.


Dan Sinta berharap semoga suatu saat ada hal baik dengan jamu yang ia berikan pada sang kekasih.


Setelah isi jamu habis, Rudy menutup dan beranjak bangun untuk membuang botol kosong tersebut.


Lalu ia kembali dan mengulurkan tangannya pada Sinta.


Sinta meraih dengan senyum senang.


Dan keduanya pun berlalu keluar dari ruangan itu dengan saling bergandengan tangan. Sesekali terjadi obrolan ringan yang terkadang membuat hal itu begitu berarti.


💗💗💗



"Pada akhirnya, aku mengerti mengapa seseorang butuh pasangan hidup. Bukan karena untuk romantis-romantisan, tapi sesimpel ingin memiliki seseorang yang mengerti dan dapat menjadi rumah untuk berbagi sebuah cerita dan berbagi tiap rasa yang membuat kita utuh satu sama lain" Rudy Mahendra.