Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Reparasi mobil x Reparasi orang



Deg..


"Mas Rudy" desis Sinta mematung dengan mulut terbuka karena terkejut melihat sosok Direktur Mahendra berada di depan rumahnya sepagi ini.


Rudy berjalan santai dengan satu langkah lebih dekat pada Sinta yang mematung.


"Ckckck.. jadi ini penampilan kamu hari-hari?? dudududuh.." cibir Rudy dengan lirik mata yang memandang Sinta dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan wajah miris.


Sinta menatap dirinya dengan bingung.


Lalu Rudy dengan santai mengeluarkan handphonenya dan membaca sesuatu pada layar datar itu.


"dr. Sarah Amelia.." baca Rudy.


Kening Sinta berkerut bingung mengapa pria di hadapannya ini menyebut nama penghianat itu sepagi ini.


"Oh, jadi dia dokter.. hm, pantas saja.." celetuk Rudy lalu ia menantap Sinta dan tak lama layar handphonenya pun ikut ia perlihatkan pada Sinta.


"Lihat.." perintah Rudy.


Sinta menatap layar handphone Rudy dengan wajah cemberut tak senang. Dan Foto Sarah terpajang dengan wajahnya yang sudah jelas cantik dengan make up minimalis dan sytle yang memang sangat pas.


"Dia cukup modis.." ujar Rudy.


Dan dua bola mata indah Sinta berpindah menantap Rudy dengan bibir kian manyun.


"Lalu apa hubungannya??"


"Jelas ada hubungannya, dari riset yang aku baca, pria menilai seorang wanita 80% dari penampilan mereka saat pertama kali bertemu.. dan aku pikir aku juga seperti itu" jelas Rudy santai. "Kamu pasti pernah mendengar pepatah yang mengatakan, dari mata turun ke hati.." timpal Rudy.


Sinta mendengar dengan sepele.


"Jadi, kita mulai dari yang sangat dasar sekali.. "


"Hah?? maksudnya.."


"Kamu harus berubah.."


Rudy menarik handphonenya lalu dengan santai menyimpan smartphone itu kedalam saku jasnya.


"Cepat minta izin pada ibu kamu" perintah Rudy.


"Untuk apa??"


"Ck, cepat karena ini terakhir kalinya dia melihat kamu seperti ini.." sahut Rudy menatap wajah Sinta yang terkejut dengan memeluk dirinya.


"Ma-mas Rudy mau ngapain aku?"


Rudy menyeringai kecil.


"Ya mau reparasi kamulah.." sahut Rudy. "Cepat!! aku hanya punya waktu 3 jam, sebelum rapat Resort.." perintah Rudy yang seketika tegas.


Sinta hanya bisa terbengong tidak percaya mendengar ucapan pria terhormat di hadapannya ini.


"Reparasi?? emang gue mobil bekas apa??" rutu batin Sinta protes.


***


Namun pada akhirnya Sinta berada di dalam mobil mewah seorang Direktur Mahendra.


Seorang supir membawa mobil itu dengan sangat mulus.


Terlihat Rudy duduk dengan gaya santai kaki menyilang sembari membaca layar handphonenya dengan serius.


Sedangkan Sinta duduk dengan canggung didalam mobil mewah yang tak pernah terbayangkan oleh dirinya sendiri.


Lalu di saat ia masih mencoba merasa nyaman di mobil mewah itu, sekilas ia melihat mas Rudy yang tenang tengah menatap layar datar di hadapannya itu.


Untuk sesaat Sinta menatap sosok yang ia pikir seorang yang memiliki sifat yang buruk namun kenyataannya setelah kejadian di hutan itu. Namun pada akhirnya Sinta baru menyadari jika ternyata pria ini adalah orang baik.


"Mas Rudy sebaik ini, tapi kenapa bisa gagal dua kali yaa??" gumam batin Sinta bertanya-tanya sembari memandang Rudy secara diam-diam.


Untuk beberapa detik Sinta menikmati wajah pria yang terlihat teduh itu.


"Berhenti menantap aku?? aku tidak selera.." celetuk Rudy yang tiba-tiba.


Sinta tersadar dan langsung salah tingkah.


"Ikh, ge-er banget sih, orang lagi liat keluar jendela sana kok.. ikh.. lagian ini hati memang hanya ada mas Agung kok, hanya Mas Agung yang memiliki hati ini.." cecar Sinta ngeles berbagai macam alasan.


Rudy mendengar dengan terkekeh.


"Tapi sayangnya di hati Agung hanya ada dr. Sarah" balas Rudy telak.


Sinta langsung lemes mendengar balasan ucapan yang cukup tajam.


Sinta kesal.


Rudy tersenyum licik.


"Uang, aku menyuruh uang yang bekerja.." jawab Rudy sombong.


"Ikh, sombong.." celetuk Sinta yang menyesal bertanya ketika mendengar jawaban terpamer dari Rudy yang memang orang kaya.


Rudy kembali tersenyum kecil melihat wajah kesal Sinta.


Namun tanpa sengaja Rudy melihat pada kedua jemari Sinta yang kuning.


"Kenapa tangan kamu bisa sekuning itu?"


Seketika Sinta melihat pada kedua tangannya yang menang berwarna kuning kentara.


"Ah, ini.. ini karena parut kunyit.. jadi warnanya kena tangan.."


Kening Rudy tertaut.


"Kamu parut langsung??"


Sinta mengangguk polos.


"Sebagian bahan jamu adalah rempah yang harus di parut, jadi ketika di rebus extrak dari bahan jamu itu keluar.." jelas Sinta apa adanya.


Rudy terlihat berpikir.


"Oia, mana jamu pesanan ku?" pinta Rudy yang tiba-tiba mengingat pesananya.


Sinta merespon.


"Oh, ini.." sahut Sinta dengan membuka tas yang ia bawa lalu mengambil 2 botol jamu yang ia bawa milik Rudy.


Rudy mengambil dua botol itu dari tangan Sinta. Lalu ia membuka dan langsung meminum jamu yang ia rasa masih hangat.


Sinta menatap Rudy yang sedang meneguk habis jamu dari botol itu hingga habis.


"Hm, ternyata enak diminum hangat-hangat.." ujar Rudy menilai.


Sinta mengangguk.


"Dan ada efek bagus jika di konsumsi ketika masih hangat.." jawab Sinta.


Rudy mengerti.


"Aku akan konsumsi ini selama 1 minggu, dan aku akan menilai sendiri semanjur apa minuman ini di tubuh ku.." jelas Rudy. "Jadi kirimkan 2 botol jamu ini tiap pagi kekantor mengerti??" perintah Rudy.


"Kenapa dua botol?? 1 hari cukup 1 botol saja kok mas.."


"Oh, gitu yaa??" sahut Rudy baru mengerti.


Namun tiba-tiba nada dering handphonenya Sinta berbunyi. Sinta merespon lalu dengan cepat kembali merogoh isi dalam tasnya dan meraih handphonenya yang terus berdering.


Ketika handphonen itu di genggaman Sinta. Sinta terpaku dan langsung mengangkat telfon yang ternyata dari Agung.


"Ha..??" sapa Sinta terpotong ketika tiba-tiba dengan cepat handphonenya di ambil oleh tangan Rudy.


Sinta kaget dan menoleh heran pada Rudy yang dengan cepat mematikan telfon tersebut.


"Loh mas Rudy?? kok di matiin??" protes Sinta.


"Jangan mengangkat telfon dari Agung lagi.. "


"Hah?"


"Jangan terlalu murah dengan mudah mengangkat telfon dari Agung.." perintah Rudy tegas.


Sinta kian bingung dengan ucapan pria yang mulai banyak mengatur gerak gerak-geriknya.


"Jual mahal!! karena yang mahal lebih menantang untuk di dapatkan.." ucap Rudy menantap Sinta yang benar-benar kaget.


Sinta kian tak bisa berkata-kata.


"Jadi buat dia penasaran, karena dengan itu dia akan terus mencari kamu, bukan kamu yang mencari dia.. mengerti!!" Rudy memberi peringatan pada Sinta yang tak bisa protes.


Terlihat nama Agung Perdana kembali tertera di layar handphonen Sinta.


Dan Sinta tak bisa mengangkat telfon itu lagi karena benda elektronik pribadi itu kini berada di genggaman pria yang terlihat santai menikmati perjalanan yang entah dibawa kemana.


***


Di tempat lain, Agung yang kini berada di depan rumah Sinta terlihat tengah menunggu jawaban dari telfon yang sedari tadi ia hubungi. Namun sang pemilik tak kunjung menjawab.


"Sinta??" desis Agung yang cemas. Karena baru saja mengetahui info yang cukup aneh dari ibu Sinta.


Jika gadis jamu itu di jemput pergi oleh seorang pria yang berpakaian jas rapi dan mobil mewah.