
Di Ruko tempat produksi jamu. Sinta yang baru saja mendapat telfon dari kekasih. Terlihat bingung mencerna permintaan mas Rudy yang menyuruhnya untuk datang kekantor Mahendra dengan dandan cetar.
Sinta memandang layar handphonenya yang masih memperlihatkan komunikasi terakhir.
"Ada apa ya??" guman Sinta berpikir. Namun di saat rasa penasaran Sinta bertanya-tanya.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu ruang Sinta.
Sinta merespon dan sedikit mengenali sosok yang berdiri di depan pintu ruangannya.
"Pak Jito??" seru Sinta mengenali sosok supir pribadi sang kekasih.
Pria itu hanya tersenyum sungkan.
"Saya dapat pesan untuk mengantar mbak Sinta.."
Sinta hanya membalas dengan senyum kecil. Namun ia tak mengerti ada hal apa sampai sang kekasih mengirim mobil untuk menjemput dirinya.
***
Di sisi lain Rudy yang berada di meja kerjanya terlihat sibuk membereskan beberapa tugas yang memerlukan pengesahan dari dirinya.
Tak lama terdengar suara pintu di ketuk.
Tok..tok..
Jimmy masuk dengan membawa sebuah bingkisan di tangannya.
"Ini hadiahnya.."
Rudy menyelesaikan paraf terakhir dengan senyum. Lalu menantap sebuah kado di atas mejanya.
"Kerja bagus, terima kasih.." ucap Rudy.
Jimmy mengangguk dengan hendak berlalu.
"Jimmy.."
Langkah pria itu pun terhenti.
"Apa perempuan tadi sudah di pecat.."
"Sore ini adalah hari terakhirnya.."
Rudy merespon puas
"Bagus.." Dan akan jadi lebih seru jika terjadi bersamaan dengan rencananya, pikir Rudy yang tak sabar.
Jimmy berlalu.
Sedangkan Rudy malah bersenandung kecil sembari menyelesaikan tugas dan menunggu waktu yang di nanti.
***
Waktu pun berlalu. Kini Rudy sudah menyelesaikan semua tugasnya.
Ia melirik jam tangan. Tak terasa sudah 2 jam berlalu.
Ia pun meraih handphonenya dan mengetik satu nama, pak Jito.
Sebuah komunikasi singkat pun terjadi. Dan ternyata mobil mewah itu sedang berjalan menuju gedung Mahendra.
Rudy senyum terkembang.
Lalu tak lama, terdengar pintu ruangannya di buka dengan kasar.
Jimmy masuk dengan wajah cemas.
"Pak, ada keributan di bawah.."
Rudy merespon. Lalu tak lama senyum licik pun terbingkai di wajahnya.
***
Didalam perjalanan. Sinta duduk dengan gelisah. Bagaimana tidak, ternyata pak Jito membawanya ke satu butik dan tanpa di duga ia di sulap bak putri oleh para wanita butik.
Rambut tergerai indah, riasan yang sempurna bahkan dress yang terlihat merah sangat kontras dengan kulitnya yang putih.
"Sebenarnya ada apa sih?? kenapa harus begini banget?" gumam Sinta dalam hati.
Ia sudah mencoba mencari tau dari pak Jito, apakah ada satu acara penting sehingga ia harus di dandan sesempurna ini??.
Namun pria paruh baya itu hanya menjawab dengan senyum. Dan membisu di sepanjang jalan.
Sinta menatap dress merah juga sepatu tinggi yang ia kenakan. Beberapa bulan ini ternyata ia sudah banyak berubah. Baik penampilan dan juga tentang pergaulan. Semua berkat mas Rudy yang menarik Sinta untuk keluar dari zona nyaman. Jika dulu ia selalu terpaku pada mas Agung juga Sarah.
Kini Sinta banyak berubah. Ia melewati fase itu dengan sosok mas Rudy yang selalu berada di sampingnya. Sinta mengenang masa itu, dan rasanya bagaikan mimpi bisa melewati itu semua dengan banyak hal-hal positif yang kian mendekat.
Sekilas Sinta kembali melihat jalan, dan ternyata mobil mewah ini kian dekat menuju kantor Mahendra.
"Mas Rudy?? sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan??" gumam batin Sinta bertanya-tanya.
***
Di kantor Mahendra terjadi keributan yang sangat serius. Seorang karyawan wanita marah dengan pemecatan dirinya yang sangat tidak masuk akal dan tiba-tiba.
Pintu lift yang membawa Rudy pun terbuka.
Lantai Lobby jadi ramai dengan para karyawan-karyawati yang menyaksikan kemarahan teman mereka.
"PAK RUDY!! APA SALAH SAYA?? ANDA SUNGGUH TIDAK BERPRIKEMANUSIAAN!!" teriak wanita itu lantang di tengah ruang lobby.
"SAYA TIDAK BISA TERIMA, SAYA TIDAK AKAN MENINGGALKAN PERUSAHAAN SAMPAI ADA PENJELASAN TENTANG PEMECATAN SAYA!! SAYA DIPECAT TANPA TAU SALAH APA!! HEY PAK RUDY, KELUAR!!" teriak wanita itu bak kesetanan dan sangat marah.
Beberapa penjaga Security sedang berusaha menarik wanita yang membuat keributan.
"PAK RUDY!! SAYA BUTUH KEADILAN!! ANDA SUNGGUH TIDAK PUNYA HATI, JIKA MEMECAT SAYA SEPERTI SAMPAH!!" teriak wanita itu menangis frustasi.
Di tengah keramaian yang mulai berbisik-bisik. Rudy pun muncul.
Beberapa karyawan terkejut melihat sosok sang Direktur berada di tengah mereka.
Rudy berdiri beberapa langkah dari wanita yang terlihat sangat kacau.
"Pak Rudy!!" seru wanita itu yang langsung berlari kehadapan Rudy dengan tangisan yang menyedihkan. "Pak, tolong jelaskan, apa salah saya sampai bapak memecat saya?" tangis wanita itu sesegukan.
Rudy menantap dingin.
"Saya sudah bekerja 6 tahun di perusahaan bapak, mengapa bapak memecat saya tanpa ada satu kesalahan pun yang saya perbuat.." Wanita itu menantap dengan wajah kecewa pada sang atasan.
Rudy menyeringai kecil mendengar ucapan karyawan wanita yang terlihat seolah dia sangat teraniyaya.
Rudy menghela nafas santai dan wajahnya berubah.
Para karyawan lain yang berada di sana syok mendengar ucapan sang Direktur Mahendra yang terkenal sangat baik itu.
"Kau Vika bukan??"
Wanita itu menatap sulit.
"Yang tadi pagi berbincang riang dengan dua teman mu.. dan kau dengan mudahnya mengolok-ngolok tentang orang yang sudah memberikan kamu makan selama ini??" tuding Rudy dengan nada tegas sehingga sekeliling dapat mendengar jelas.
Wajah Vika berubah.
"Ma-maksud pak Rudy?"
Rudy tersenyum mengecek.
"Kau masih berpura-pura tidak ingat atau kau sedang mencari jalan keluar dari masalah yang berasal dari mulut sampahmu itu!!" Rudy meluap marah.
Vika mematung.
"Aku tidak tuli!!" tuding Rudy tegas.
Vika pucat.
Bisik-bisik terdengar rendah.
Rudy mengambil kesempatan dan beralih melihat pada kerumunan yang mengelilingi ruangan itu.
"DENGAR SEMUA!! INI ADALAH CONTOH YANG HARUS KALIAN LIHAT"
Seketika hening.
"DETIK INI JUGA AKU TIDAK AKAN MEMAAFKAN SIAPAPUN YANG MEMBICARAKAN URUSAN PRIBADIKU DAN MENJADIKANNYA BAHAN OLOK-OLOK KALIAN!!" tegas Rudy lantang.
"SIAPAPUN DARI KALIAN YANG INGIN IKUT JALAN VIKA, AKU PERSILAHKAN DENGAN JALAN TERBUKA.. SILAHKAN KELUAR DARI PERUSAHAAN YANG SUDAH MEMBERI KALIAN MAKAN!!"
Suasana berubah tegang. Beberapa karyawan wanita menelan ludah mereka. Beberapa berubah pucat.
"AKU, RUDY MAHENDRA TIDAK AKAN MEMAAFKAN SIAPAPUN, JIKA SEKALI SAJA KALIAN MEMBICARAKAN KEHIDUPAN PRIBADI KU, ATAU WANITA YANG BERSAMAKU.. MAKA KALIAN HARUS SIAP DENGAN SURAT PEMECATAN!!" ancam Rudy serius.
Para karyawan bungkam. Baru kali ini mereka melihat kemarahan sedang Rudy Mahendra yang terkenal tenang dan ramah.
Terlihat wajah-wajah tertunduk dalam penuh takut. Rudy menantap kesekeliling dengan wajah marah.
"Pak Rudy, tolong..tolong maafkan saya pak..!!" tangis Vika bersimpuh di kaki sang Direktur.
Rudy tak bergeming.
"Tolong pak Rudy, saya orang tua tunggal dengan dua anak.. tolong pak.. saya harus bekerja pak.. tolong pak!! maafkan saya pak, saya menyesal!!" tangis Vika terisak memohon hingga nyaris menyembah.
Agung melihat drama terheboh yang pernah terjadi di perusahaan Mahendra.
Namun di tengah drama tangis Vika. Di saat itu Sinta pun tiba dengan wajah penuh heran pada situs yang tak bisa ia jelaskan.
"Loh?? ada apa nie??" Sinta bertanya-tanya sembari mendengar suara tangisan menyayat hati dari seorang wanita.
"Tolong pak Rudy, tolong maafkan saya pak..saya menyesal telah berkata-kata buruk..hukum saya pak, tapi tolong jangan pecat saya.." tangis Vika kian frustasi karena Rudy tak bergeming.
Sinta yang mendengar nama sang kekasih seketika berubah gusar.
Sinta pun berjalan dengan mencoba menerobos kerumunan yang sepertinya tak peduli dengan tangis wanita itu.
Kedua bola mata Sinta tercengang dengan pemandangan yang sungguh miris. Ketika seorang wanita berusaha lepas dari dua orang Security yang menyeretnya dengan tak manusiawi . Dan hal yang membuat Sinta kian terkejut adalah sosok mas Rudy yang bahkan tak bergeming untuk menolong.
"Tolong jangan pecat saya pak, tolong..!!" tangis Vika menyayat hati.
Mendengar jelas rintihan Vika tanpa pikir panjang Sinta pun bertindak.
"Berhenti!!" seru Sinta yang setengah berlari untuk menolong wanita muda itu. "Lepasin!!" perintah Sinta yang berusaha menolong.
Rudy merespon dengan tatapan tertuju pada wanita berpakaian warna merah terang.
Agung pun terkejut melihat sosok Sinta yang tiba-tiba berada disana dengan dandan yang sangat berbeda.
Sekeliling kerumunan pun tak kalah kaget melihat sosok wanita berpakaian merah yang sangat berani mengambil tindakan menolong Vika.
"Pak!! tolong lepasin!! kenapa kalian menariknya sekasar itu!!" protes Sinta dengan mencoba melepaskan tangan kasar Security.
Namun diluar dugaan, Rudy malah menahan lengan Sinta.
Sinta kaget dan menoleh dengan wajah bingung.
"Mas??"
"Biarkan dia.." ujar Rudy dingin.
Sinta syok.
"Mas?? kenapa gitu?? kasian mbak ini!!" seru Sinta.
Rudy menggeleng pelan.
"Biarkan dia, karena dia pantas untuk mendapatkan hukuman.."
Sinta tercengang melihat sikap sang kekasih yang begitu kejam.
Rudy menarik Sinta dengan kasar. Lalu dari jauh menantap Jimmy dan memberi kode perintah yang harus segera di bereskan.
Sang tangan kanan pun langsung bertindak.
Sekeliling berubah dengan rasa takut masing-masing.
Tangis Vika terdengar menyayat hati, wanita itu terus meronta.
Rudy terus membawa Sinta bersama.
Beberapa karyawan menundukkan pandangannya ketika Rudy lewat bersama sang kekasih.
Agung menantap gusar pada Sinta yang terus dibawa oleh sang Direktur.
"Sinta.." seru Agung yang seketika mengikuti langkah keduanya yang berlalu menuju luar gedung.
Sedangkan di sudut lain, Rara sang adik ternyata ikut melihat drama pemecatan yang sangat mengerikan. Dan Rara terdiam bak patung melihat perubahan signifikan sang kakak kandung.
"Apa mas Rudy sudah melupakan mbak Alia??" dan dua bola mata Rara dapat melihat jelas sosok wanita yang di bawa oleh sang kakak, gadis jamu yang tak pernah ia sangka.
💗💗💗
"Awas kalau gak kasih like dan comment, tar mas Rudy marah nie.. sama ayank-ayank !!"😅😅
Ampun pak Rudy, marah aja gak papa, soalnya marah aja gumus begini..🤣🤣