
Di ruang berbeda, Rudy masuk dengan paksaan ke satu ruang terlihat melawan.
"Lepas!!" perintah Rudy dengan suara arogannya.
Dan sesuai perintah kedua pria itu pun langsung melepaskan tangan Rudy.
Karena hal itu, Rudy langsung bertindak hendak memukul salah satu orang yang sudah membawanya masuk dengan paksa.
Namun pukulan Rudy dengan cepat di tahan oleh pria berbaju hitam sebelah kiri.
"Tenangkan diri anda.." seru pria itu terlihat tenang dengan wajah bersahabat.
Rudy terkejut.
"KAU PIKIR AKU AKAN MENURUT!!" balas Rudy dengan hendak menyerang kembali dengan tangan yang sudah siap menyerang.
Namun di luar dugaan pria tenang itu kembali dapat menahan serangan Rudy dan seketika lengan Rudy terkunci lalu tak lama dengan satu kerakan pertahanan. Pria itu membalikkan Rudy dan mendorong tubuh Rudy hingga terhimpit pada dinding ruangan itu.
"Ukh.." erang Rudy yang terdorong kuat hingga tubuhnya membentur dinding. " Sialan!!" umpat Rudy yang kian marah karena berhasil di bekuk dengan ilmu bela diri yang cukup hebat dari dirinya.
Namun tak lama seorang masuk kedalam ruangan itu.
"Assalamualaikum.." ucap seorang wanita yang kini berdiri tak jauh dari tempat Rudy berada.
"Wa'alaikumsalam.." sahut kedua pria berbaju hitam, namun tidak dengan Rudy yang berusaha lepas dari pria yang masih menekan tubuhnya ke dinding.
Terlihat wanita tenang dengan mendekat pada Rudy.
"MasyaAllah.. maafkan kami pak Rudy jika kami harus menggunakan cara seperti ini.." ujar wanita itu menatap sang calon anggota baru.
Rudy menantap dengan marah.
"Ini sudah keterlaluan, saya akan laporkan camp sialan ini!!" ancam Rudy dengan marahnya.
Wanita itu hanya tersenyum simpul.
"Silahkan, saya tidak bisa menahan jika anda masih berkeras.. tapi.." ucap wanita paruh baya itu tergantung. "Kami disini hanya ingin menyembuhkan mental pisikis anda dan kecanduan anda pada alkohol.."
Rudy menatap tajam.
"Sejujurnya, kami tidak menerima lagi pesakit dengan riwayat seperti anda, tapi.. teman anda begitu baik sehingga kami mencoba untuk membantu kali ini saja.."
Rudy menyeringai kecil.
Wanita paruh baya itu hanya tersenyum.
"Kesembuhan itu hak milik Allah, kami hanya perantara yang mencoba membantu.. tapi itu semua juga tergantung dari niat anda, jika anda berkeinginan untuk sembuh.. atau masih terus bertahan di kondisi yang jika saya katakan cukup menyedihkan dengan menyia-nyiakan sisa umur hidup anda.."
"Apa anda tidak takut mati dalam keadaan yang sia-sia??" tanya wanita paruh baya itu tenang.
Rudy terdiam.
"Anda sudah sangat dewasa, mungkin pengalaman hidup anda juga cukup banyak, namun sungguh menyedihkan jika anda terus terpuruk seperti ini.. hidup bukan hanya untuk menyesali tapi juga harus memperbaiki semua hal yang sudah terlanjur menjadi takdir .."
Sekilas Rudy kembali mengingat perceraiannya dan sosok sang mantan istri Alia.
Wanita paruh baya itu memberi kode pada pria berbaju hitam yang menahan Rudy. Dan tak lama pria itu melonggarkan tenaganya.
Rudy berbalik dengan wajah marah dan langsung beraksi dengan hendak berlalu.
"Silahkan anda pergi jika itu pilihan anda.."
Langkah Rudy tertahan.
"Keputusan tetap ada di tangan anda, disini untuk sembuh?? atau pergi untuk kembali terjerumus pada penyesalan anda yang sudah jelas akan menghancurkan diri anda.."
Ucapan wanita paruh baya itu mengusik pikiran Rudy.
"Saya percaya, anda orang yang cukup bijaksana dalam mengambil keputusan.."
Rudy masih tertegun di tempatnya, kalimat itu seolah membuatnya bimbang.
"Sudah terlalu malam, jika anda ingin tetap pergi saya sarankan untuk besok pagi.. jadi untuk beberapa jam kedepan anda bisa di sini, selamat beristirahat pak Rudy.. Assalamualaikum.." ucap wanita paruh baya itu pamit dan kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan dengan Rudy yang masih berdiri di tempatnya.
Pintu di tutup dan kini Rudy menghela nafas. Namun ucapan wanita paruh baya itu telah mengusik gemuruh hatinya yang sudah susah payah untuk di tahan.
Hingga akhirnya Rudy kesal sendiri pada dirinya sendiri.
Ia pun dengan marah mencari apa pun yang berada di kamar itu untuk membanting hingga terdengar suara benturan yang cukup kuat.
Ibu Reni yang mendengarkan suara berisik dari kamar khusus itu pun hanya bisa menghela nafas panjang.
Ini akan jadi pasien terakhir yang akan ia terima untuk berada di camp move on.