Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Ekspektasi Elegan x Realita Zong !!



Keesokan paginya.


Sinta membuat wajah-wajah pelanggannya sedikit kecewa. Dengan informasi yang membuat mereka sedih.


"Jadi mbak Sinta gak jual jamu lagi nie??" tanya salah satu pelanggan wanita yang sedikit gemuk.


"Maaf ya mbak, karena jamunya akan di buat dengan kemasan yang lebih baik lagi..dan sekarang sedang dilakukan uji kelayakannya.." jelas Sinta. "Sinta benar-benar minta maaf mungkin untuk beberapa bulan ke depan Sinta gak bisa jual dulu jamu.."


"Duuh, mbak Sinta kalau kayak gini kita-kita sedih loh.. jamu mbak itu penting banget buat kita ini ibu-ibu.." timpal yang lain.."


"Maaf ya mbak.. sekali lagi maaf, nanti jika jamunya sudah siap produksi Sinta akan kasih test sama mbak-mbak semua.. dan pastinya kasiatnya lebih bagus lagi.." janji Sinta yang ikut sedih dengan reaksi para pelanggannya yang kecewa.


"Sekali lagi maaf ya mbak semua.." ucap Sinta dengan hati yang berat.


Dan satu persatu para pelanggan pergi dari depan rumah Sinta.


Sesaat Sinta menghela nafas panjangnya. Ia kelihatan sedih melihat para pelanggan yang dulu begitu susah ia dapatkan kini harus ia relakan karena kontrak perjanjian dengan mas Rudy.


Namun di saat semua pelanggan pergi, tanpa di sadari sosok Agung berdiri tak jauh dari tempat Sinta berada.


Dan saat tatapan keduanya bertemu, Agung terlihat terkejut melihat paras Sinta yang berbeda.


"Mas Agung.."


Perlahan Agung melangkah mendekat pada Sinta yang masih berada di tempatnya.


"Kamu??"


Sinta berusaha tenang dengan tatapan Agung yang menatapnya berbeda.


"Mas?? ada apa?? tumben?"


"Hm, enggak..kamu?" Agung tak bisa menjelaskan apa yang sedang ia lihat dengan apa yang ingin ia tanyakan pada Sinta yang terlihat berbeda.


"Kenapa, mas??" tanya Sinta memancing.


"Ah, kamu kemana saja??" tanya Agung yang keluar dari konteks awal.


"Sinta?? gak kemana-mana kok mas.."


"Ah, hm.. kemarin mas kesini tapi kamu sudah pergi"


"Oh.."


"Dengan siapa kamu pergi??" tanya Agung.


Namun Sinta langsung terngiyang pesan mas Rudy.


"Stop!! jangan menjawab langsung pertanyaan Agung, gantung dan buat dia penasaran.." wejangan mas Rudy bak titah seorang dosen.


"Oh, itu.. sama teman.."


"Teman?? siapa?? apa mas kenal??" tanya Agung kian penasaran.


"Hm, ya mungkin.. kenapa sih mas??" elak Sinta mengantung jawaban.


Agung menghela nafas.


"Mas yang harusnya bertanya, kamu kenapa? kamu aneh?? kamu bahkan tidak mengangkat telfon mas sampai WA mas tidak kamu baca?" cecar Agung yang sudah di garis batas penasarannya.


Sinta bersikap tenang di luar. Namun jauh didalam hatinya ia bersorak senang bukan kepalang.


Duaaarr.. rasa-rasanya bunyi kembang api bersuara di dalam otak Sinta yang tak percaya baru saja mendengarkan ucapan Agung yang cemas.


"Iyeeeesss, duuuh, ya Allah ini gak mimpikan?? mas.. Mas Agung sepenasaran itu sama aku..padahal baru 1 hari gak di angkat telfonnya" sorak batin Sinta yang senang bukan kepalang.


Dan di saat rasa senangnya itu, sekilas ia mengingat wajah mas Rudy saat memberi wejangan.


"Jangan mengangkat telfon dari Agung lagi.. "


"Jual mahal!! karena yang mahal lebih menantang untuk di dapatkan.." pesan mas Rudy saat itu dengan wajah serius.


Dalam hati Sinta berbunga-bunga.


"Siap, mas Bro.. ternyata jurus anda jitu banget.. Mas Agung kelihatan banget penasarannya.." gumam batin Sinta yang terus menantap sosok Agung yang terlihat gelisah di hadapannya ini.


"Oh, mas ada telfon Sinta yaa?? ehm, maaf mas.. soalnya kemarin lagi sibuk banget.." jawab Sijta sedikit sombong.


"Sibuk? sesibuk apa sampai kamu gak sempat kabari balik??" tanya Agung ia menyudutkan Sinta.


Sinta mulai mencari alasan.


"Ya, ya sibuklah.. memang mas saja yang sibuk.." balas Sinta ngeles.


Agung kembali menghela nafas. Ia sedikit merasa sikap Sinta berubah. Tidak biasanya Sinta menjawab dengan berbelit-belit.


Agung menantap Sinta dengan wajah kecemasan.


"Sinta, kamu kenapa sih??"


Sinta membalas tatapan Agung.


"Sinta gak kenapa-napa kok mas, mungkin mas saja yang kenapa-napa" jawab Sinta ambigu.


Agung perlahan ingin mendekat pada Sinta.


"Dengar, mas harus kasih tau kamu satu hal.. kamu.."


Drrr...drrr... Tiba-tiba handphone Sinta bergetar dari balik saku celananya.


Sinta merespon kaget lalu dengan cepat meraih handphonenya itu. Dan ketika melihat nama yang tertera ia langsung kaget lalu dengan langkah mundur menjauh dari Agung, Sinta mengangkat telfon itu.


"Hallo, m.."


"Mundur.. tinggalkan Agung.." perintah Rudy dari sebrang telfonnya.


Sinta mematung dan kedua bola mata Sinta menantap Agung yang masih berada di hadapannya.


"Kenapa?" tanya Sinta berbisik.


"Sudah mundur saja, masuk kerumah..cepat.." perintah Rudy tegas.


"Oh, oke.. " jawab Sinta dan komunikasi itu putus begitu saja.


Sinta menantap Agung ragu.


"Dari siapa?"


Sinta hanya menyeringai kecil.


"Uhmmm, Mas, maaf yaa..Sinta masuk dulu.." ujar Sinta ragu-ragu tak tenang.


Kening Agung tertaut bingung.


"Kenapa??"


"Ah, itu Sinta.."


Wajah Agung kian penasaran.


"Kamu kenapa??"


Sinta gelisah mencari alasan untuk menghilang dari hadapan Agung.


"Duuuh, gue harus buat alasan apa?? Oi, pak Rudy gue buat alasan apa nie!!?" jerit batin Sinta terpojok.


"Sinta?" panggil Agung.


"Sakit perut mas??" seru Sinta terburu-buru.


Jejejeng..


Agung menantap aneh pada Sinta.


"I-iya, iya.. Si-inta sakit perut, jadi bye mas Agung" ucap Sinta yang seketika berlari cepat meninggalkan Agung begitu saja bak pria bodoh.


"Sinta!! Sinta!!" panggil Agung hendak mengejar kedalam pekarangan pagar rumah Sinta.


Namun ternyata gadis itu berlari gesit dan menutup pintu rumahnya dengan cepat.


"Sinta.." desis Agung yang lagi-lagi kehilangan Sinta tanpa bisa menjelaskan apa pun pada gadis yang ia rasa telah berubah aneh.


***


Tanpa di sadari, dari kejauhan. Terlihat sebuah motor sport besar di tumpangi oleh seorang pria yang mengenakan helm hitam berdiri sedari tadi melihat moment Sinta dan Agung.


Senyumnya terkembang lebar.


"Bagus!!" ucap Rudy puas.


Lalu tak lama, ia pun bersiap untuk melajukan motor besar itu untuk berjalan.


Dan ketika suara derum motor terdengar, Rudy pun membawa motor itu dengan sengaja melewati depan rumah Sinta yang terlihat Agung berjalan dengan wajah kecewa.


Druuuummm.. Rudy sengaja mengeber derum motornya sehingga Agung terlonjak kaget.


Namun Rudy puas dan melesat pergi kecepatan sedang karena berada di jalan yang banyak kendaraan lain.


***


Di sisi lain Sinta yang berada di belakang pintu rumahnya terlihat kesal dan mengerutu marah pada dirinya sendiri.


"Ikh, Sintaaaa..lo bisa-bisanya kasih alasan sakit perut!! bodoh banget lo!!" rutu Sinta berulang kali mengingat alasan konyol dan menghancurkan kesal elegan yang sudah sudah payah di bangun.


"Masa sakit perut sih?? jadinya kan mas Agung mikir gue sakit perut mau ke WC..duuuh!! mana tadi pakek adegan lari segala.. bearti bener gue kebelet mati..aAaaah!!" kesal Sinta pada dirinya sendiri.


"Gara-gara mas Rudy ini.. karena mas Rudy nie..!!" rutu Sinta menyalahkan sang mentor yang sudah menghancurkan image elegan Sinta. "Mau elegan jadi malah Zong total kan, aaaahh kesel nya.." rengek Sinta yang jadi kesal sendiri.


"Mas Rudy..kembalikan mas Agung ku!!" jerit batin Sinta yang sudah kepalang dongkol pada sang mentor.