Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Kenangan



Rombongan tamu pun datang. Rudy menyambut dengan wajah ramah. Seorang pria tua turun dengan dalam mobil bersama para tamu.


Rudy bersikap layaknya tuan rumah.


"Selamat datang pak Dewa" sambut Rudy.


Sebuah tangan terulur. Dan di sambut oleh pak Dewa.


"Ternyata Resort ini tidak mengecewakan" puji pak Dewa basa basi.


Ucapan pak Dewa seolah menguji mental Rudy. Namun Rudy hanya menyeringai kecil.


"Saya yakin tak lama lagi Resort ini akan membuat pak Dewa terkejut dengan keuntungan yang raih nantinya akan melampaui ekspektasi anda" balas Rudy terang-terangan.


Pak Dewa mengangguk dengan senyum terkembang. Sungguh sosok Rudy adalah pengusaha sejati, ia pantang menjatuhkan usahanya walau sedang di ujung tanduk.


"Mari pak masuk, semua sudah menunggu" Rudy mempersilahkan pak Dewa dan para tamu untuk masuk kedalam Resort yang du sambut oleh beberapa staf dengan senyum ramah.


Temu sore itu begitu berkesan. Obrolan bisnis itu bergulir dengan sangat hangat.


Hingga saat para tamu mencicipi hidangan yang di sediakan. Rudy dengan khusus memanggil seorang pelayan untuk membawakan minuman yang sengaja ia berikan khusus untuk pak Dewa


Seorang pelayan wanita membawa nampan yang berisi dua botol jamu segar yang telah di simpan dalam kulkas setiba Rudy kemarin.


Pak Dewa terkaget.


"Apa ini jamu yang waktu itu?"


Rudy mengangguk membenarkan tebakan pak Dewa.


"Kali ini saya sengaja membawa beberapa botol jamu yang saya pesan khusus untuk pak Dewa nikmati"


Pak Dewa langsung meraih cangkir hangat itu dan hendak menghirup aroma hangat dari jamu tersebut.


"Wanginya sangat pekat dan hangat"


Rudy tersenyum.


"Jamu ini memang di buat dari rempah terbaik, dan di proses beberapa jam lamanya hingga menghasilkan extrak jamu yang begitu berkhasiat"


Pak Dewa tersenyum tipis.


"Dan itu butuh sampai 3 atau 4 jam lamanya"


Rudy merespon.


Dan sorot mata pak Dewa pada cangkir itu pun berbeda. Pria paruh baya itu menyerut jamu hangat itu yang kemudian menjalar keseluruh rongga mulut.


"Waah, ini benar-benar nikmat" ucap pak Dewa memuji.


Rudy berhasil.


Namun pak Dewa tidak melepaskan rasa jamu itu begitu saja, ia menikmati kembali jamu itu untuk kedua kali. Seolah ada rasa kenangan yang membekas yang kembali terpanggil.


"Siapa pembuat jamu ini?" tanya pak Dewa penasaran.


"Seorang gadis muda.."


"Gadis muda?"


Rudy mengangguk.


Pak Dewa sedikit kecewa.


"Benarkah? saya sempat berpikir jika yang menbuat jamu adalah seorang yang cukup tua sehingga dapat membuat jamu seenak ini?"


Rudy terkekeh kecil.


"Bukan pak.. gadis muda, dan usianya sekitar 26 tahun"


"26 tahun?? wah muda sekali, lalu dari mana ia mendapatkan ilmu membuat jamu ini?"


Rudy menantap.


"Dari neneknya"


Sesaat pak Dewa terdiam. Seolah mendengar penjelasan yang ternyata jauh dari pikirannya.


"Jarang ada gadis muda yang mau membuat jamu?? apa lagi jamu identik dengan kuyit yang dapat membuat tangannya menguning.." ujar pak Dewa sembari meneguk habis jamu miliknya.


Rudy mencerna.


"Bagaimana pak Dewa tau?"


Pak Dewa meletakkan cangkir kosong itu dengan senyum.


"Hanya tebakan" sahut pak Dewa santai.


Rudy mengangguk.


"Benarkah??"


"Ya, jika bapak tak sibuk nanti akan saya kabari"


Pak Dewa mengangguk senang.


"Saya akan tunggu dan mungkin.."


Rudy menantap.


"Saya ingin jadi pelanggan khusus" ujar pak Dewa berseloroh dengan tawa yang garing.


Rudy pun ikut tertawa garing, namun hal itu kian memperbaiki hubungan aneh Rudy dan pak Dewa.


Obrolan kian panjang, dua rekan bisnis itu pun kian dekat.


***


Sore harinya, Sinta kembali dengan wajah puas. Ia mendapatkan bahan rempah yang di cari. Di tambah lagi ia sudah mendapatkan tempat pemesanan jahe merah dan kencur terbaik sesuai keinginannya dari penjual tangan pertama.


Sehingga harga bahan bisa jadi lebih murah.


Sinta berjalan menuju kamarnya. Ia ingin mandi sebelum bertemu dengan kekasih yang ia ketahui sedang bersama teman bisnisnya.


Ketika tiba di kamar, Sinta melepaskan diri hingga jatuh di atas tempat tidur yang bersih dan wangi.


Suasana kamar Resort benar-benar romantis.


"Ah, andai sudah menikah, pasti akan menghabiskan banyak waktu didalam kamar ini bersama mas Rudy.." gumam batin Sinta berhayal.


Namun, sekilas entah mengapa ia teringat ibu. Siang tadi ia sempat menelfon ini untuk memberi kabar. Dan ternyata karena kemarin ia Last contak dengan ibu, akhirnya membuat ibu kian marah dan kian tak suka mendengar nama mas Rudy.


"Ibu harap, ini kali terakhir kamu jalan dalam urusan dengan nak Rudy" pesan ibu yang masih menjadi momok di pikiran Sinta.


"Duh bu, kenapa sih?? sentimen begitu sama mas Rudy?" rutu Sinta kesal. Namun ia juga tak bisa menyalahkan ibu yang tidak tau kondisi situasi kemarin itu sangatlah aneh.


Sinta menarik tangannya yang tersemat cincin pemberian mas Rudy.


"Ibu, ibu harus bisa nerima mas Rudy, dia adalah pria yang Sinta pilih" lirih Sinta menatap cincin itu penuh sayang.


Namun di saat ia sedang tenggelam dengan pikirannya. Tiba-tiba terdengar suara notifikasi pesan masuk.


Sinta merespon cepat dengan meraih handphonenya yang berada di dalam tas.


Dan ketika benda datar itu berada di tangannya, kedua matanya tertuju pada pesan yang ternyata dari sang kekasih hati.


"Maaf sayang, mas masih sama pak tua.. malam nanti, dandan yang cantik, kita akan makan malam sama-sama..oke 😘"


Sinta membaca dengan wajah tersipu malu namun juga senang.


Ia pun segera membalas.


"Apa tidak apa-apa?" tanya Sinta membalas pesan.


Pesan di terima dan centang itu berubah hijau.


Tak lama, pesan balasan Sinta terima beberapa detik kemudian.


Kedua bola mata Sinta membaca cepat dan ternyata hanya satu simbol emoji yang mengemaskan.


"😘"


Sinta tersenyum, ia benar-benar tergila-gila pada sikap dan perilaku lelaki yang sangat membuatnya begitu di ratukan.


Sinta tak membalas. Dan ia menjatuhkan handphonenya itu di samping.


Rona senang Sinta berubah sendu.


"Semoga ibu gak salah menilai mas Rudy.. Mas Rudy tidak sama dengan ayah.. Mas Rudy benar-benar laki-laki yang berbeda" gumam batin Sinta sembari mengingat kenangan sang ayah yang tiba-tiba kembali muncul ketika mendengar cerita pak Supir mobil yang tadi membawanya.


Ternyata Resort ini dibuat oleh seorang pria tua yang sangat kaya. Ia sengaja membeli tanah ini untuk bisa mengenang seseorang yang ia buat kecewa karena kesalahannya.


Dan entah mengapa Sinta jadi mengingat sang ayah.


Tapi Sinta tau, pria yang ia panggil ayah mungkin sudah melupakan ibu dan dirinya. Dan hidup bahagia dengan wanita yang ia pilih.


***


Di sisi lain, terlihat pak Dewa menikmati pemandangan yang dapat di lihat dari kamar spesial yang ia miliki.


Pemandangan desa yang mengukir kenangan. Sejauh mata memandang adalah hamparan hijau kebun warga yang di garap tiap bulan dengan hasil panen yang melimpah.


"Sudah puluhan tahun, tapi aku masih saja tak bisa melupakan kalian.." lirih batin pak Dewa. "Maafkan aku Sa.."