
Dan akhirnya Sinta membawa Rudy pulang ke apartemennya.
Pria itu benar-benar tak fit. Suhu tubuhnya saja kembali tinggi. Wajahnya berubah sedikit merah.
Sinta menatap cemas pada Rudy yang tidur di sofa tengah.
"Mas?? apa ada obat penurun panas? dimana??" tanya Sinta.
"Sudah, tidak apa-apa.. kamu pulang saja.." ujar Rudy menolak kebaikan Sinta yang ia rasa akan merepotkan gadis jamu itu.
Namun Sinta tak mengindahkan ucapan Rudy. Ia malah menyentuh wajah Rudy tanpa sungkan. Ia memeriksa dan merasa jika suhu tubuh pria itu benar-benar sedang naik.
Nafas Rudy terhela berat. Dan wajah Sinta cemas.
"Sinta akan kompres mas saja.."
Rudy diam tak bisa menolak, karena setiap sendi tubuhnya terasa sakit.
Sinta mengobati Rudy dengan telaten. Ia mengompres kening Rudy. Pria itu tertidur dengan wajah gelisah.
Beberapa kali Sinta menganti air kompres. Ia mengusap dengan penuh sayang wajah yang terlihat tersiksa karena suhu tubuhnya sendiri.
Sinta menatap lekat.
"Apa sesakit itu??" gumam batin Sinta sembari mengusap kening Rudy. Ia merasa ada sisi yang membuat perasaannya ingin memeluk tubuh pria yang begitu kesepian.
Rudy tidur dengan gelisah. Hingga tanpa di sangka Rudy menyambar tangannya. Lalu kedua matanya terbuka.
"Jangan pergi.." pinta Rudy lirih. "Maafkan aku.." bisik Rudy dengan suara parau.
Sinta menantap sedih. Lalu dengan sayang ia mengusap lembut punggung tangan Rudy.
"Hm.." sahut Sinta bergumam dengan senyum. Perlahan Rudy tertidur kembali dengan tangan yang mengenggam erat jemari Sinta.
Deg..deg..
Entah untuk siapa kata-katanya menyedihkan itu Rudy tunjukkan. Namun rasa-rasanya Sinta hampir tak bisa membedakan lagi kalimat merindu itu.
Kembali teringat obrolan dua karyawan Mahendra yang menertawakan sosok sang Direktur perusahaan yang begitu menyedihkan.
"Apa benar kamu orang yang seperti itu mas??" Sinta bertanya-tanya dengan memandang wajah damai yang rasa-rasanya tak mungkin akan melakukan hal sesakit itu pada seorang wanita.
Namun, entah mengapa wajah Rudy membuat Sinta ingin mengorbankan apa pun untuk pria ini. Dan di dalam hatinya ada satu getaran yang kian tak bisa ia kendalikan.
"Apa yang harus Sinta lakukan, agar mas tidak sesedih ini??"
***
Menjelang malam. Perlahan Rudy terbangun.
Namun ada yang beda. Ia seperti mencium aroma masakan yang membuat perutnya kian terasa lapar.
Rudy membuka mata dan melihat kesekeliling. Dan ternyata ia berada di apartemennya sendiri. Ia merasa lega.
Tapi aroma makanan itu kian mengusik indrapenciumannya. Rudy bangun dengan duduk.
Tatapannya tertuju pada ruang dapur. Dan betapa terkejutnya Rudy ketika melihat sosok seorang wanita tengah berada di dapur apartemennya.
Tak lama sosok wanita itu berbalik. Kening Rudy tertaut.
"Sinta??"
Sinta merespon.
"Eh, mas.. sudah bangun.." ucap Sinta santai dengan wajah tersenyum.
Rudy menantap heran.
"Kamu??"
Sinta meletakkan sebuah mangkuk di atas meja, lalu perlahan berlari kecil menghampiri Rudy yang masih berada di sofa dengan wajah bingung.
"Gimana? masih demam??" tanya Sinta dengan tanpa ragu menyentuh kening Rudy lalu tangan yang satu lagi menyentuh kening dirinya sendiri.
Beberapa detik Sinta menimbang.
"Ehm, sudah jauh lebih baik.." ucap Sinta dengan senang.
Rudy menatap Sinta.
"Kenapa?? kenapa kamu masih ada di sini??"
Kedua mata Sinta berdelik usil.
"Karena..sayang.."
Deg..Rudy mematung.
Namun tak lama, Sinta tersenyum usil.
"Mas kan lagi sakit, ya Sinta sebagai teman seperjuangan yang baik, Sinta merasa punya kewajiban untuk merawat teman yang sedang sakit.." jelas Sinta dengan wajah berseri. Dan dengan wajah tenang, Sinta mengusap bekas infus yang berada di punggung tangan Rudy.
"Tapi, aku masih bisa sendiri Sinta..kamu jangan jadi repot.. "
Sinta menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Ah, enggak kok mas.." sahut Sinta. "Oia, mas makan dulu yuk.. tadi maaf yaa Sinta pinjem dapurnya buat masak.." ucap Sinta malu-malu.
"Ka-mu masak??"
Sinta mengangguk cepat. Lalu tanpa aba-aba Sinta langsung meriah jemari mas Rudy untuk ikut dengan dirinya.
"Yuk, mas pasti bakal ketagihan sama masakan sinta.." kata Sinta percaya diri.
Keduanya berjalan menuju meja makan. Sinta melayani Rudy dengan sangat baik. Sekilas Rudy menatap tiap piring yang tersusun di mejakan.
"Tumia toge, gorengan toge, dan apa ini?? sup toge?" seru batin Rudy yang menatap heran pada jajaran menu yang berbahan utama toge.
Sinta melihat reaksi Rudy yang beda.
"Ayo mas, di makan, mumpung masih hangat.." ajak Sinta dengan membuyarkan pikiran Rudy tengan toge.
Sinta tanpa ragu meraih piring makan Rudy dan menaruh satu persatu menu andalan malam ini toge.
"Ini pasti mas suka deh, tumis toge udang.. coba mas rasa.."
Rudy menerima piring itu dengan sungkan.
Ia kembali menerima sendok makan dari Sinta.
Rudy hanya menurut saja. Karena sudah lama ia tak pernah di sambut sehangat ini. Dan tak pernah ada yang berada di sampingnya ketika sakit bahkan sampai memberi masakan yang hangat untuk dirinya.
Rudy menatap menu tumis toge di piringnya. Tatapan kosong dengan kesedihan. Ia mengingat kembali jika dulu bersama sang matang istri, ia akan sangat di layani dengan kasih sayang.
"Mas.. kok bengong, ayo dimakan.." seru Sinta membuyarkan lamun Rudy.
Dan Rudy pun mulai makan masakan toge tumia itu.
Sinta tersenyum kecil.
"Mas tau gak?? Sinta cemas dengar mas Rudy sakit.. jadi jangan sakit lagi ya mas.. tetap sehat karena semua berharap mas selalu sehat.." ujar Sinta spontan yang membuat degup jantung Rudy bergetar.
Ucapan yang biasa, namun tak biasa bagi Rudy yang sudah lama tak memiliki seseorang yang begitu memperhatikan dirinya.
Sinta terus berceloteh, seolah membuat suasana hening itu berubah hangat.
Sesekali Rudy tersenyum.
Suasana ini, ia ingin kembali mengulang suasana seperti ini.
"Lagian mas secapek apa pun, tolong untuk jaga kesehatan.. Mas tau kan kesehatan itu mahal? yaa walau pastilah tubuh mas sudah aman karena sudah di asuransikan, tapi tetap saja.. sakit itu gak enak.." kata Sinta memberi petuah.
Rudy tersenyum simpul.
"Iikkh, di kasih nasihat malah senyum-senyum, gimana sih??" cecar Sinta yang tiba-tiba sadar ada satu hal yang ia lupakan. "Ah, iya bener lupa.." seru Sinta sembari bangun dari duduknya.
Rudy heran.
"Kenapa?"
"A, gak papa..Mas lanjut makan.. itu ditambah mas sup togenya enak kok, Sinta ada nambahin daging juga biar lebih manis.." tutur Sinta dengan sedikit berbalik dan kembali berjalan menuju dapur.
Rudy tersenyum kecil, ia pun mencoba menu sop toge yang ia rasa tak pernah ada yang membutuhkan menu seaneh ini selain Sinta.
Di depan kompor sinta menyalakan api untuk menghangatkan kembali jamu yang akan ia berikan pada Mas Rudy nanti sebelum pulang.
"Mas Rudy harus minum ini dan semoga manjur.." doa Sinta berharap.
***
setelah makan, Rudy duduk di ruang sofa. Ia meraih beberapa obat untuk ia minum.
Tak lama Sinta kembali dengan telah selesai urusan dapur.
Ia membawa satu cangkir jamu hangat untuk Rudy yang telah ia hangatkan.
"Mas, ini jamu.."
Rudy merespon.
"jamu lagi?"
"Ya biar tubuh mas lebih baik.."
Namun Rudy menatap sendu pada cangkir jamu itu.
"Tubuhku memang sudah lemah.."
Sinta menoleh.
"Bahkan dokter saja sudah menyerah.."
Sinta merespon sedih. Lalu ia duduk di samping Rudy.
"Kata almarhum nenek dulu, kalau kamu sakit cari obat sampai ketemu, karena setiap penyakit pasti ada obatnya.. tapi jika gak sembuh juga.." ucap Sinta tergantung.
Rudy menoleh mendengar Sinta.
"Itu berarti sakitnya sebagai pengugur dosa.."
Rudy merenung. Dan berpikir mungkin ucapan sang nenek ada benarnya. Ia tak mengerti dengan masalah medis yang mengatakan ia mandul, dan tak lama fisiknya juga cepat lemah.
Rudy menghela nafas.
"Nenek benar.. dan mungkin sakit ku yang tak mendapatkan hasil apa pun adalah sebagai pengugur dosa.." sahut Rudy sedikit tertunduk.
Sinta menatap lekat sisi wajah mas Rudy dari samping.
"Setiap hari, aku merasa bersalah pada diriku sendiri dan orang di sekeliling ku, tak ada yang bisa aku banggakan dari diriku.." ucap Rudy bernelangsa. "Aku merasa seperti manusia gagal.."
Rudy menghela nafas.
"Ah, kenapa aku jadi bercerita dengan kamu??" sergah Rudy tertawa lucu.
Sinta merespon bias.
"Kamu pasti tidak akan tau beratnya jalan hidup ku.."
Sesaat Sinta merasa satu hal yang tak dapat ia tahan, ya itu ingin menyelami hati pria sendu ini.
"Berbagilah.." ucap Sinta lembut.
Rudy menoleh bingung.
Untuk beberapa detik tatapan keduanya bertemu.
Hingga tanpa Sinta sadari, ia melakukan keinginan yang sengaja ia tahan.
Dengan tak terduga, Sinta menjatuhkan satu kecupan di bibir Rudy.
Rudy terkesiap. Dan hanya mematung ketika merasakan bibir gadis jamu itu menyentuh bibirnya.
Tapi tiba-tiba kedua mata sinta terbuka.Ia pun seolah sadar.
Lalu dengan rasa canggung Sinta menjauh.
"Ah, maaf mas.. Sinta.." ucap Sinta malu lalu hendak beranjak dari sisi Rudy untuk segera pergi.
Namun entah rasa itu begitu tulus sehingga Rudy ingin merasakannya lagi.
Dengan gerakan cepat Rudy menahan lengah Sinta dan menahan gadis itu pergi.
Sinta terkejut. Ia menatap wajah Rudy dengan hati bergetar.
Dan satu tarikan kuat, Rudy menjatuhkan tubuh Sinta di atas panguannya.
Hingga tanpa bisa Sinta menolak, Rudy menjatuhkan ciuman di bibir gadis jamu itu untuk kedua kalinya.