
"Mas Rudy?? atau Jodi??" gumam Sinta yang bingung memilih.
Namun kedua mata Sinta gusar melihat mas Rudy yang kian pergi jauh mengikuti jalan yang entah kemana.
Hingga akhirnya Sinta mengubah langkah kakinya. Ia berlari kecil mengejar mas Rudy yang terus melangkah kejalan yang salah.
"Mas Rudy?? mas Rudy berhenti?" panggil Sinta dengan berusaha membelah semak pohon rendah yang menghalangi jalannya.
Sosok Rudy terus berjalan seolah mengikuti sesuatu yang ia rindukan.
"Mas Rudy!!" panggil Sinta kesekian kali dengan suara keras dan berusaha terus berjalan mengikuti Rudy yang melangkah entah kemana.
***
Hingga beberapa menit akhirnya langkah Rudy berhenti. Ia melihat dengan wajah sendu pada sosok yang kini berbalik tersenyum simpul.
"Apa kau memaafkan aku?" tanya Rudy dengan sakit kepala yang kian menyerang. Namun ia berusaha untuk bisa menantap wanita yang sudah lama tak pernah ia lihat lagi.
"Aku menyesalinya.. sungguh aku menyesal" ucap Rudy dengan sorot mata berkaca-kaca.
Sosok itu tersenyum hangat dan tanpa di sangka ia mengulurkan tangannya pada Rudy.
Deg.. Rudy terpaku sesaat pada tangan yang terulur dengan mudahnya.
Hati Rudy bergejolak, akal pikirannya terbang.
"Alia.." seru Rudy yang perlahan melangkah untuk mengapai jemari itu.
Namun baru dua langkah Rudy berjalan, tiba-tiba sebuah tangan meraih lengannya yang satu lagi dengan kasar.
"MAS RUDY, BERHENTI!!" seru Sinta yang terlihat syok dan seketika menarik Rudy untuk mundur bersama. Namun karena Sinta tak kuat sehingga keduanya terhempas bersamaan di atas tanah.
Brrruk..
Dan tubuh Rudy sukses menindih Sinta.
"Akh!!" erang Sinta kesakitan karena menerima beban tubuh mas Rudy di atasnya.
Di tengah antara sakitnya, Sinta menantap wajah Rudy yang seketika bangun dari atas tubuhnya.
"SIAL, apa yang kau lakukan?" hardik Rudy marah pada Sinta.
Perlahan Sinta bangun dengan menahan sakti di punggung tubuhnya.
Deg.. Rudy terpaku lalu langsung berbalik untuk melihat hal yang di ucapakan anggota timnya.
Dan benar saja, beberapa langkah di hadapannya adalah jurang. Wajah Rudy seketika syok.
"Ti-tidak.. tidak mungkin.." seru Rudy mencoba untuk menyangkal pada apa yang ia lihat.
Sinta mendengar dengan kesal.
"Ck, kalau masih gak percaya juga, silahkan aja tuh terjun.. ayo sana.. gak akan Sinta halangi lagi.." ucap Sinta kesal sembari menepuk-nepuk tangan pada bagian tubuh untuk membersihkan beberapa tanah yang menepel.
Rudy tak bisa berkata-kata. Hatinya masih sulit menerima dan percaya.
"Lalu, kemana Alia?" tanya Rudy seorang diri.
"Hm?? Alia?" Sinta balik bertanya. "Kayaknya dari tadi Sinta gak liat siapapun kok mas"
Rudy berbalik.
"Kamu gak liat?? ada perempuan yang berambut panjang dengan baju warna merah yang kontras?"
Sinta menggeleng bingung.
"Gak ada.." jawab Sinta polos.
Dan Rudy kian syok.
"Udah ah, kita harus balik.." ucap sinta dengan melihat sekitar hutan yang membuatnya bingung.
Rudy masih berdiri di tempatnya, ia masih tak habis pikir.
"Bagaimana mungkin??" ucapnya pelan.
"Mungkin.. mungkin aja mas Rudy digoda hantu.." jawab Sinta spontan.
Deg.. Rudy mematung. Dan begitu juga dengan Sinta yang seketika menjadi batu di tempatnya dengan tiba-tiba bulu romanya merinding.
"Hantu?" ulang Rudy menantap Sinta.
"Iiiikkh, takuuuut.." seru Sinta yang seketika berlari dan merapat pada Rudy.