
Dan setelah puas menangis.
Kini Sinta berada dalam satu mobil bersama Rudy yang membawanya pergi meninggalkan rumah sakit itu.
Di sepanjang jalan Sinta menatap kosong pada jalan yang terlihat masih sedikit padat karena hujan masih belum juga reda.
Sesekali Rudy melihat pada Sinta yang diam.
Hingga arah roda mobil itu pun hampir tiba di jalan menuju rumah Sinta.
"Mas Rudy??" seru Sinta.
"Hm??"
"Sinta tidak mau pulang.." ucap Sinta dengan menoleh pada Rudy yang berada di sampingnya.
Sekilas Rudy menoleh heran pada Sinta dan perlahan roda mobil mewah itu sedikit melambat.
"Bawa sinta kemana pun, asal tidak pulang.." pinta Sinta.
Rudy menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan menantap Sinta.
"Sinta.."
Sinta menantap mas Rudy dengan tatapan sendu.
"Sinta tidak bisa pulang jika kondisi Sinta seperti ini, ibu.. pasti ibu akan sedih.." jelas Sinta apa adanya.
Rudy menghela nafas.
"Sinta tidak mau ibu cemas.."
"Tapi.."
"Kemana pun, untuk kali ini saja.." pinta Sinta. "Sinta tidak sanggup untuk menujukkan wajah sedih ini pada ibu.."
Rudy kembali menghela nafas sembari melihat pada jalan yang di terangi oleh lampu mobilnya.
"Tapi ibu kamu akan lebih cemas lagi jika kamu tidak pulang.." ucap Rudy.
Mendengar ucapan mas Rudy, tanpa pikir panjang Sinta meraih handphonenya dari salam tas. Lalu menekan nomor telepon sang ibunda tercinta.
Dan tak perlu waktu lama, komunikasi itu pun terhubung.
"Hallo, ibu??" seru Sinta menyapa.
Rudy menoleh kaget.
"Ibu, maaf Sinta tidak bisa pulang malam ini.." ujar Sinta tenang.
Dan sekilas terdengar respon ibu kaget.
"Ah, iya buk.. ternyata Sarah jatuh sakit dan dia tidak ada siapa yang jaga.. iya..iya.. Sarah bu.." ujar Sinta tenang.
Dan Rudy berdecak tak percaya dengan alasan yang di gunakan Sinta.
"Hm, iya.. Mas Agung lagi sibuk, jadi dari pada Sarah sendiri kasian.." jelas Sinta beralasan yang sangat natural. "Jadi, Izin Sinta gak pulang ya bu.. hm, iya nanti Sinta kirim salam ibu buat Sarah.." ucap Sinta tenang.
Sekilas Sinta membalas tatapan mas Rudy yang tercengang bukan kepalang.
"Hm, iya bu..hati-hati dirumah.. besok Sinta kabari lagi.. dah ibu.. assalamualaikum.." tutup Sinta mengakhiri komunikasi itu begitu saja.
Sinta mematikan handphonenya.
"Alasan selesai.." ucap Sinta sembari memasukkan kembali handphonenya kedalam tas.
Dan Rudy terkekeh lucu.
"Hahahaha..Kamu benar-benar di luar dugaan, tega-teganya kamu memakai alasan tidak pulang dengan sakitnya Sarah.." celetuk Rudy mencibir.
"Yaa, apa boleh buat, berbohong tipis-tipis masih di perolehkan?" balas Sinta ketus. " Lagian memang si Sarah itu saktian kok.." tukas Sinta sinis.
Rudy tertawa kekeh.
"Hm, oke..oke, jadi kemana aku harus bawa kamu??"
Sinta mengangkat bahu acuh tak acuh.
"Terserah mas Rudy saja.. andai mas bawa ke jalan neraka pun mungkin akan Sinta ikut untuk saat ini.." jawab Sinta pasrah.
Rudy tersenyum simpul, lalu tanpa di sangka tangan Rudy mengelus pelan pucuk kepala Sinta.
Sinta menantap sinis.
"Jalan!!" perintah Sinta bak putri raja pada pesuruhnya.
Rudy lagi-lagi terkekeh melihat tingkah bete Sinta.
"Dasar kamu ini!! Hm, baiklah kalau kamu sudah mengizinkan.." sahut Rudy. "Semoga kamu tidak menyesal" ucap Rudy dengan bersiap menarik gigi mobil mewah itu untuk mundur.
Dan Sinta hanya duduk pasrah bak seorang putri di samping Rudy yang entah akan membawanya kemana. Ia tak peduli, bagi Sinta saat ini ia butuh hal yang bisa melupakan sakit hatinya ini.
***
Dan akhirnya roda mobil Rudy tiba di salah satu gedung mewah.
Terlihat gedung itu gemerlap dengan lampu-lampu yang menyemarakkan pesona gedung di malam hari.
"Ayo, turun.." ajak Rudy dengan membuka sabuk pengamanan mobil.
Sinta pun ikut turun tak lama setelah Rudy menutup pintu.
Kedua mata Sinta menantap kesekeliling parkiran gedung itu.
Terlihat beberapa insan saling berjalan bersama dengan canda tawa cekikikan dengan intim.
Seketika radar Sinta ragu.
"Ayo.." ajak Rudy menoleh pada Sinta yang terpaku menantap insan yang sedang berbisik intim.
"Oh.. hm, ya.." jawab Sinta jadi ragu-ragu. Namun kakinya belum melangkah.
Rudy menoleh pada arah tatap Sinta. Lalu melihat dua insan yang sepertinya sedang kasmaran.
"Jika kamu melihat mereka seperti itu, mereka akan marah.." ucap Rudy lalu ia berlalu pergi meninggalkan Sinta.
Sinta tersadar.
"Eh, mas tunggu.." seru Sinta dengan berlari kecil di belakang langkah Rudy.
Rudy melangkah santai dan ia melewati beberapa tamu yang masuk kedalam club malam itu.
Terdengar suara memekakan telinga yang membuat Sinta kaget. Suara jedang-jedung dengan lampu yang begitu berkelap-kelip di tambah suasana yang sarat akan dunia malam begitu terasa.
Tanpa sadar Sinta menarik ujung jas Rudy, ia takut hilang di tengah keramaian diskotik malam itu.
Rudy terus melangkah menuju jalan lorong berbeda. Ketika langkah Rudy berhenti tiba-tiba di depan satu lift yang terlihat disambut oleh tersenyum ramah seorang petugas lift.
Rudy mengeluarkan satu kartu sakti dari balik dompet kulit miliknya, lalu tanpa terduga sang pelayan merespon dengan langsung menekan tombol lift dan pintu steinless pun terbuka.
Rudy masuk kedalam lebih dahulu dan Sinta mengekor dibelakangnya.
Didalam Lift Rudy terlihat santai dengan mengecek sesekali email yang masuk dari layar handphonenya.
Tak beberapa lama, lift itu pun berhenti di lantai nomor 10.
Pintu lift terbuka, dan pemandangan berbeda pun terlihat jelas. Suasana tenang dengan lampu remang dan hanya ada alunan instrumen musik yang begitu menenangkan.
Rudy turun dari lift, dan Sinta lagi-lagi mengikuti langkah Rudy.
Mata Sinta mengedarkan pandangan penuh penasaran pada tempat yang baru pertama kali ia masuki.
Di beberapa sudut terlihat kumpulan orang-orang yang tengah menikmati minuman dengan ditemani wanita-wanita seksi.
Saliva Sinta turun dengan kasar, radar was-wasnya pun muncul.
"Mas Rudy bawa aku kemana sih??" guman batin Sinta penasaran namun ada rasa takut yang tak biasa.
Hingga tak lama, Rudy pun duduk di satu sofa dengan jendela besar di sebelahnya.
Sinta berhenti dan terpaku.
"Ayo duduk.." ajak Rudy yang telah lebih dahulu duduk di sofa dengan santai.
Sinta ragu-ragu.
"Santai saja, disini privasi setiap pengunjung sangat di rahasiankan.." ujar Rudy sembari melihat pada sekitar ruangan yang menurutnya sedikit sepi.
Perlahan Sinta duduk di Sofa yang berhadapan dengan Rudy.
Rudy menyadari jika Sinta terlihat tak was-was. Namun ia tak peduli, karena ia sudah membawa Sinta ketempat yang ia minta.
Rudy memesan hal yang terdengar asing di telinga Sinta. Dan pelayan wanita itu pun pergi setelah menerima pesanan sang pelanggan prioritas.
Rudy melonggarkan dasi dari kerah kemejannya.
"Apa mas Rudy sering ketempat ini??"
Rudy mengangguk.
"Dulu sering, bahkan hampir tiap malam, tapi belakangan sudah jarang.."
"Waah, jadi mas konsumsi minuman begitu??"
Rudy kembali mengangguk.
Dan Sinta terkaget.
Rudy tertawa kecil.
"Aku tau tempat ini setelah bercerai, jadi ini tempat healing yang menurutku sangat cocok untuk menghilangkan stres.." jelas Rudy apa adanya.
Sinta tidak berkomentar setelah mendengar jawaban Rudy.
Dan tak beberapa lama pelayan wanita seksi itu datang dengan membawa beberapa minuman dan makanan kecil keatas meja.
Sinta memperhatikan setiap menu yang terjajar di atas meja.
Sang pelayan wanita pergi dengan senyum penuh goda pada Rudy. Namun terlihat Rudy cuek dan hanya meraih botol minuman yang ia pesan.
Botol minum berwarna putih itu Rudy tuang kedalam gelas sloqi kecil. Lalu membawa gelas itu kehadapan Sinta.
"Coba ini.."
Sinta menantap ragu.
"Ini, cocok untuk pemula.."
Perlahan Sinta meraih sloqi kecil itu.
Rudy menyeringai kecil. Lalu ia pun menuangkan satu botol minuman lain kedalam gelasnya.
Gelas Rudy terisi dan Rudy tersenyum simpul.
"Ayo minum.." ajak Rudy yang lebih dahulu meneguk minuman yang merupakan level tertinggi.
Sinta yakin tidak yakin untuk mencoba minuman yang berada di tangannya. Namun pada akhirnya ia pun meneguk minuman itu.
Dan rasa yang diluar dugaan, begitu keras dan sedikit pahit.
Rudy tersenyum.
"Gimana?? kamu kuat?"
Sinta menyeringai ragu.
"Oke, berarti kamu cukup itu saja.." ucap Rudy sembari menatap Sinta.
Dan seiring perjalanan waktu, pada akhirnya Sinta berhasil minum alkohol itu tanpa ragu.
Sinta mulai menerima rasa minuman itu dan mulai menyukai tempat yang benar-benar membuatnya sedikit melupakan rasa sakit hatinya.
Rudy menantap Sinta.
"Apa lebih?"
Kedua bola mata Sinta berpindah menatap Rudy.
Lalu perlahan sebuah senyum terbingkai hangat.
"Hm, jauh lebih baik.." jawab Sinta.
Rudy sedikit lega.
"Mas??"
"Hm??"
"Apa arti cinta buat mas??"
Rudy menyeringai kecil.
"Tiba-tiba sekali??"
Sinta tersenyum renyah.
"Hanya penasaran, mas begitu mencintai mantan istri mas bahkan sampai saat ini.. dan mas pasti punya pengalaman dalam mencintai.."
Rudy respon dengan senyum simpul. Namun sekilas Rudy menimbang.
"Cinta adalah saat kamu ingin selalu bersamanya, membahagiakannya dan.." ucap Rudy tergantung. "Dan disaat kamu tau bahwa ternyata tidak ada yang bisa mengerti kamu selain dia.. dia yang dapat melengkapi segala kekurangan kamu.." jawab Rudy penuh arti.
Untuk sesaat Sinta menantap lekat pria melankolis di hadapannya ini.
"Irinya.." sahut Sinta.
"Hm?? iri??"
Sinta mengangguk.
"Pasti mantan istri mas adalah wanita terspesial, sehingga bisa membuat mas semenyesal ini.."
Rudy tersenyum pahit. Ucapan Sinta tak meleset sedikit pun.
"Dan aku menyadari semua itu ketika aku tak bisa mememilikinya lagi.." ucap Rudy dengan kembali meneguk minuman miliknya hingga habis.
Untuk sesaat Sinta terpesona akan sosok mas Rudy.
"Sinta tidak pernah merasakan cinta sehat itu.." tukas Sinta dengan senyum biasa namun itu adalah arti yang mendalam. Bahkan ia ingin di cintai.
Di saat itu, suara alunan instrumen piano yang begitu melow seolah mengiringi suasana itu menjadi lebih romantis.
"Jadi?? Agung tetap memilih Sarah??" tanya Rudy.
Sinta seketika sadar. Lalu perlahan mengangguk sembari menghela nafas panjangnya.
"Mas Agung benar-benar mencintai Sarah.." Sinta menjawab dengan meraih botol minuman Rudy dan menuangkannya kedalam gelas miliknya. " Dan rasa-rasanya, memang sudah tidak ada tempat lagi untuk Sinta berharap.. walau Sarah memiliki penyakit serius, mas Agung tetap ingin bersama Sarah.."
Dan tak lama, ia meneguk habis minuman itu. Respon Sinta cukup kentara akan rasa yang luar biasa keras dari minuman itu.
Rudy tersenyum kecil.
Namun entah mengapa Sinta menyukai rasa keras minuman itu. Hingga ia ingin menuangkan lagi minuman itu.
Tapi tiba-tiba lengan Rudy menahan.
"Berhenti!!" seru Rudy lembut dengan menahan botol yang si pegang Sinta.
Namun Sinta menatap sendu.
"Mas, kali ini aja.. hm.. boleh ya.. jangan halangi Sinta.." pinta Sinta setengah pengaruh alkohol yang mulai bereaksi. "Sinta sediiih banget.. rasanya masih sakit.." ucap Sinta dengan memelas.
Rudy merasa sedih dan akhirnya mengalah.
Sinta berhasil meneguk minuman itu kembali.
Rudy menantap Sinta.
Ternyata gadis jamu ini benar-benar terluka, terlihat bening air mata kembali jatuh dengan sendirinya.
Rudy yang melihat hal itu ikut terrenyuh, hingga tanpa sadar ia beranjak dari duduknya. Dan perlahan mendekat pada sofa duduk Sinta.
Ketika Sinta hendak menuang minuman untuk gelas ke 3, Rudy menahannya lagi.
"Cukup.." seru Rudy pelan.
Sinta menoleh dengan tatapan sendu.
"Kamu jangan minum lagi.." ucap Rudy dengan memindahkan botol minuman dari tangan Sinta.
Sinta menantap Rudy dari jarak dekat.
"Mas, tolong peluk Sinta lagi.." pinta Sinta yang tiba-tiba.
Rudy terpaku.
Dengan tatapan sayu Sinta menujukkan tangan kehadapan Rudy.
"Se-ka-liiii la-gi.." pinta Sinta yang perlahan gadis itu jatuh pingsan.
Dan dengan respon cepat, Rudy langsung meraih tubuh lemah Sinta agar tak jatuh lunglai.