
Berselang hari.
Di satu pagi, Rudy tiba di kantor sedikit telat. Hal itu terjadi karena ia tak bisa tidur dengan nyenyak.
Rudy berjalan santai menuju lift kantor sembari membaca beberapa pesan email dari handphonenya. Tak jarang terlihat beberapa karyawan menyapa dengan wajah tersenyum pada sang Direktur perusahaan.
Namun saat langkahnya akan mendekat pada lift, tiba-tiba sebuah telfon penting masuk.
Rudy langsung mengangkat telfon tersebut.
"Hallo??" sapa Rudy.
Namun suara dari sebrang telfon kurang jelas. Rudy pun memutuskan untuk mencari tempat yang sedikit lebih sepi agar dapat fokus mendengar dan memutuskan untuk keluar gedung.
"Hallo, Ra?" sapa Rudy kembali namun telfon tersebut senyap dan seketika terputus.
Kening Rudy berkenyit heran pada nomor Rara yang tak terdengar suara.
"Apa mungkin sedang susah sinyal?" gumam batin Rudy yang hendak menelfon balik sang adik.
Namun saat ia akan menekan gambar gagang telfon hijau. Tanpa di sengaja ia mendengar satu pembicara yang tak terduga dari 3 orang wanita.
"Yang bener.. gak fair banget gitu ya?? masa jamu perempuan itu bisa langsung lulus tanpa ada seleksi.. dan lo langsung di nyatakan gagal"
"Iya, bener.. gue juga kesel.. padahal kan produk gue jamu juga, tapi kok di tulis gagal.. kecewa.." sahut wanita berbaju gamis kecewa.
"Udah gak udah kesal.." tukas seorang wanita yang berpakaian rapi dengan mengenakan ID perusahaan Mahendra.
Wanita berbaju gamis itu menantap dengan kecewa.
"Dari awal seleksi juga udah gak fair.." timpal wanita yang mengenakan ID. "Dan itu perempuan memang gak bener, dia kayaknya main dengan bos besar.."
Rudy tanpa sadar menguping.
"Gak cuma kamu aja yang kecewa, ada beberapa juga protes tapi kita gak bisa berbuat apa-apa, karena itu perempuan masuk dengan nota khusus Direktur.." jelas wanita beridentitas itu ketus. "Bahkan dikantor sudah tersebar gosip yang gak enak.."
Deg.. Rudy terkejut.
"Gosip apa?" tanya teman wanita itu.
"Ck, biasalah.. kayaknya itu perempuan berhasil merayu pak Rudy, bos besar perusahaan ini, makanya dia bisa dapat nota khusus.. bahkan nie ya, itu perempuan kayaknya gak punya urat malu, dia bisa setiap saat ketemu pak Rudy yang lagi sibuk kerja.. coba pikir, apa perempuan itu gak ada otak sampai mau mengumbar kemesraan di kantor.."
Deg.. Rudy kian terhenyak mendengar gosip yang begitu jahat
"Tapi, kalau di pikir-pikir itu perempuan pasti menang banyak, pastilah dia udah dapat mobil mewah, apartemen.. dan lagian dia juga gak perlu ribet takut hamil, soalnya kan pak Rudy mandul.." cibir wanita beridentitas itu santai. "jelas hidup tuh perempuan kian aman aja.."
Rahang Rudy mengeras. Ia sangat marah.
"Hah? bos besar Mahendra mandul?? serius?" tanya wanita berbaju gamis.
Wanita beridentitas itu mengangguk cepat.
"Iya, udah jadi rahasia umum.."
Deg..Rudy murka. Ternyata kisah lama itu masih menjadi bahan pembicaraan di perusahaannya sendiri.
"Jadi udah, santai aja.. lo boleh gagal masuk mitra Mahendra, tapi lo gak gagal di mata kita.. lo berada di jalan yang benar.. lo gak gabung di mitra Mahendra juga jamu lo masih ada pelanggan.. optimis kalau jamu lo suatu saat nanti bakal lebih sukses dari pada lebih jamu perempuan binal itu.." ucap perempuan beridentitas memberi semangat.
"Tapi kan, program mitra Mahendra cukup bisa buat usaha gue jadi gede.." tukas perempuan gamis itu tetap kecewa.
"Tetap semangat, gue yakin satu saat usaha jamu lo lebih berhasil dari perempuan binal itu yang sudah curang" ucap wanita beridentitas itu memberikan pikiran positif pada temannya.
"Udah, pulang sana.. nanti jika tahun depan ada lagi, gue pasti kasih tau sama lo, Nar.."
Wanita berbaju gamis itu hanya bisa menghela nafas kecewa. Ia pun beranjak dari duduknya di tepi taman gedung Mahendra.
"Ya udah gue pulang ya Vika.." seru wanita yang berbaju gamis bernama Dinar.
Namun saat kumpulan itu hendak bubar, tiba-tiba sosok Rudy keluar dari persembunyiannya.
Vika yang merupakan karyawati perusahaan Mahendra, sontak kaget dan reflek memberi salam hormat pada pemilik perusahaan.
Rudy berwajah tenang dengan berpura-pura memainkan handphonenya.
"Pagi pak Rudy.."
Rudy datar.
Dua temannya terlihat kaget namun juga terpesona pada sosok yang di sapa sang teman dengan hormat.
Vika mematung grogi.
"Nama kamu siapa??"
Vika kaget.
"Sa-saya pak? Vika pak.. Vika Amanda.."
Rudy mengangguk.
"Berikan ID kamu.." perintah Rudy.
Vika kaget.
"ID saya pak?"
Rudy mengangguk.
Vika bingung namun ia tak mungkin menolak permintaan sang pemilik Perusahaan. Lalu perlahan Vika melepaskan kalung ID dan menyerahkan pada sang Direktur.
"Oke, terima kasih.." ucap Rudy dengan tersenyum manis. "Tolong selesaikan semua tugas kamu hari dengan baik.."
Vika mengangguk canggung karena jadi salah fokus dengan senyum sang Direktur.
Rudy kembali berjalan meninggalkan tempat itu.
Kedua teman Vika langsung merapat.
"Tadi siapa Vik?"
"Itu tadi pak Rudy!! yang punya perusahaan.." seru Vika hampir kehilangan roh.
"Hah??" sahut kaget kedua teman Vika. "Buset, muda banget.. terus ganteng lagi.. " puji teman Vika yang masih melihat sosok sang Direktur yang berjalan menjauh mau kedalam gedung.
"Muda apaan, udah mau 40 loh.."
"Hah? 40? awetnya.. pantes tuh perempuan mau ngerayu pak Direktur orangnya aja keren gitu.."
Vika menantap sinis.
"Buat apa keren kalau gak menghasilkan bibit.. rugi dong cuma botol kosong" sindir Vika ketus.
***
Di lain sisi, Rudy berjalan dengan langkah marah menuju meja kerja Jimmy.
Sang sekertaris terlihat sedang fokus pada tugasnya.
Rudy mendekat lalu dengan kasar mencampakkan ID nama itu di atas meja Jimmy.
Brak..
Jimmy terkaget ketika ID itu mendarat kasar di atas mejanya.
"Pecat dia dan jangan beri pesangon!!" perintah Rudy marah. Dan langsung masuk tanpa memberi penjelasan lain pada sang sekertaris.
Jimmy meraih ID card karyawati yang bernama Vika Amanda, SE.
Dan langsung meraih gagang telfon menghubungi pihak kepegawaian untuk mengurus ID yang sudah membuat sang Direktur marah di pagi hari.
***
Diruang kerja Rudy duduk termenung mengingat semua ucapan sang karyawan wanita bernama Vika itu.
Dan ia kembali mengingat ucapan Agung.
"Jadi ternyata gosipnya separah ini? luar biasa.." rutu Rudy tak habis pikir dengan mulut para perempuan.
"Tapi, kalau di pikir-pikir itu perempuan pasti menang banyak, pastilah dia udah dapat mobil mewah, apartemen.. dan lagian dia juga gak perlu ribet takut hamil, soalnya kan pak Rudy mandul.." cibir wanita beridentitas itu santai. "jelas hidup tuh perempuan kian aman aja.." Rudy mengingat jelas ucapan tajam wanita bernama Vika itu.
"Mobil?? apartemen?? gila? Sinta bahkan tidak pernah menyinggung soal harta.." tukas Rudy yang kian geram mengingat gosip yang beredar.
Lalu tiba-tiba sebuah ide pun muncul. Dan Rudy punya ide yang akan membuat semua iri.
"Baiklah, demi para netizen yang maha benar.." Rudy meriah gagal telfon untuk memerintahkan Jimmy melakukan sesuatu hal yang sangat penting.