
Rudy menantap Agung.
"Ini tentang Sinta.." ucap Agung tergantung. "Dan juga anda" timpal Agung bernada serius.
Rudy merespon dengan tatapan tenang.
***
Dan kini Rudy dan Agung berada di luar gedung.
"Sebelumnya saya minta maaf untuk kejadian saat itu.." Agung membuka suara.
Rudy tak lihat ekspresi keseriusan Agung, ia menatap jauh luas bidang gedung Mahendra yang kini cukup megah.
"Sejujurnya Saya melakukan hal ini karena Sinta teman baik saya dan anda orang yang sangat saya hormati.." Agung sedikit gelisah.
Rudu mendengar.
"Karena hal itu, saya tidak ingin ada gosip yang tidak pantas tersebar di kantor karena kedekatan anda dan juga Sinta.."
Rudy merespon dengan menoleh pada Agung.
Agung bersiap dengan berbagai reaksi.
"Gosip??"
"Benar pak, saya tidak sengaja mendengar gosip di kalangan karyawati yang sepertinya sangat merusak nama baik teman saya Sinta.."
Kening Rudy tertaut penasaran.
"Apa yang mereka katakan??"
"Saya rasa tidak pantas jika saya mengucapkan kata-kata tidak bermoral itu.." tolak Agung tenang.
Rudy menghela dengan kembali menatap sekitar.
"Dan saya juga ingin berpesan pada anda pak Rudy.."
Rudy kembali menoleh pada sang bawahan.
"Saya berharap anda tidak menyalah artikan sikap Sinta yang polos dan cenderung manja.."
Rudy mendelik serius pada ucapan Agung yang sepertinya jauh dari poin awal.
Rahang Agung sedikit mengeras ketika sang atasan menatapnya tajam.
"Apa maksud kamu??"
Untuk sesaat Agung menelangsa dan kembali mengingat sosok gadis remaja yang menangis di depan rumahnya dengan wajah terluka.
"Saat Sinta beranjak remaja, Ayahnya pergi meninggalkan Sinta dan ibu.. Ayah Sinta pergi untuk menikah dengan seorang wanita kaya dan membuang keluarga.." ucapan Agung tergantung berat. " Dan Sinta mengalami gangguan mental cukup parah dan ia bahkan membenci dirinya sendiri sampai nyaris ingin bunuh diri di saat usianya memasuki 15 tahun.." kenang Agung yang menjadi saksi perjalanan waktu Sinta dalam luka.
Rudy tertegun.
Agung menghela nafas.
"Karena trauma itu ia terobsesi pada pria dewasa yang dapat memberikan rasa nyaman dan pelukan manja seperti saat ia kecil.. dan Sinta akan mengikat pria itu dengan segala caranya agar tak kehilangan sosok yang memberi rasa nyaman"
Deg.. Rudy syok. Sesaat kilas balik sikap Sinta pun terbayang jelas. Pelukan spontan, raut wajah teduh dengan wajah manja kian terputar jelas.
Agung kembali menarik nafas dalam, yang seharusnya ia simpan kini harus ia buka untuk menyelamatkan sang teman, Sinta.
"Saya melakukan hal ini karena saya tidak ingin ada kesalahan pahaman dalam arti sikap Sinta pada anda.. Saya harap setelah pak Rudy mengetahui hal ini, pak Rudy dapat menjaga sikap dari teman saya Sinta.." pesan Agung yang terdengar seperti peringatan posesif.
Sesaat Rudy merespon, namun tiba-tiba ia menyeringai kecil.
"Terima kasih, aku cukup tersanjung dengan perhatian kecil ini.. tapi.." ucap Rudy yang tadinya bernada tenaga.
Namun sesaat Rudy menantap tegas sang bahawahan.
"Tapi apa benar kau melakukan ini karena temanmu Sinta?? atau sebenarnya kau sedang cemburu, karena Sinta kini berpaling pada ku??" tembak Rudy yang tepat sasaran.
Agung mengepalkan tangannya. Namun ucapan sang Direktur terdengar seperti sindiran yang cukup keras.
Sedetik wajah Rudy yang serius berubah dengan senyum misterius.
"Dan jika benar Sinta punya trauma seperti apa yang kau katakan, maka aku tidaklah keberatan.." tukas Rudy tenang.
Agung menantap gusar.
"Jika bagi Sinta aku pantas..maka aku akan rela memberikan segala rasa nyaman dan seluruh kebahagiaan yang ia cari.. sampai ia lupa pernah memiliki rasa sakit yang teramat menyedihkan di dalam hidupnya.." ucap Rudy tajam.
"Pak??"
"Aku tau, jika kekasihmu dr. Sarah sedang sakit parah.. fokuslah pada calon istrimu Agung.. Soal Sinta.. cukup aku yang akan bertanggung jawab untuk gadis jamu itu.." potong Rudy memberi peringatan cukup posesif. Dan tak lama Direktur Mahendra itu pergi meninggalkan sang Brand Manajer begitu saja dengan wajah sanga terkejut.
Agung masih berdiri di tempatnya dengan mencerna setiap ucapan sang atasan yang baru saja pergi.
"Apa mungkin? Sinta dan pak Rudy??" Agung terlihat syok menerka-nerka ucapan pak Rudy yang terdengar sangat mengistimewakan sosok Sinta.
***
Setelah rapat mitra Mahendra selesai. Rudy kembali ke dalam ruangannya.
Ia menghabiskan waktu untuk membunuh segala pikiran buruk yang ia dengar dari Agung tentang Sinta.
Hingga sore harinya. Pikiran Rudy tak bisa tak berpikir akan Sinta.
Gadis yang selalu dapat memberikan rasa semangat nyata ia juga punya luka yang tak biasa.
Rudy menatap luar jendela gedung Mahendra. Pikirannya terbang mengingat ucapan malam saat Sinta mengakui cintanya.
"Sinta tau, ceria masalalu yang membuat rasa penyesalan mas terhadap mantan istri yang telah mas sakiti. Tapi Sinta tak peduli, bagaimana pun di mata Sinta mas Rudy adalah pria yang baik.. pria yang membuat Sinta nyaman, pria yang membuka pikiran Sinta.. mas juga yang membuat Sinta jadi seperti ini..Mas yang.." ucap Sinta saat itu dengan mata penuh harap.
"Jika mas mencintai Sinta, maka semua akan Sinta berikan pada Mas.. tanpa menuntut apa pun.. cukup mas menerima Sinta apa adanya dan Sinta juga akan menerima mas dengan apa adanya.." ucap Sinta dengan serius.
"Sinta takut untuk kehilangan lagi.. " ucap Sinta saat itu yang kian membuat Rudy tak bisa menutupi resah di hatinya.
Kini Rudy mencerna dengan jelas, sikap Sinta memang terlihat seperti gadis pada umumnya yang jatuh cinta. Namun dari sikap manjanya, tiap pelukan dan kepolosan gadis itu, jelas jika ia tengah mencari sosok penutan yang harusnya membuat ia tumbuh menjadi anak penuh cinta dari seorang pria yang bertitel, ayah.
Rudy menghela nafas panjang sembari menenangkan pikiran dari pikiran yang terhaeus oleh Agung.
"Sinta mencintai aku, dan aku juga mencintai dia.. terlepas dari hal apa yang membuatnya jatuh cinta padaku.. maka aku tidak peduli, karena ia sudah menerima seluruh kekurangan ku tanpa pernah bertanya atau mengukit hal kelam itu .." gumam batin Rudy meneguhkan hati.
"Jika satu saat ia menemukan orang yang lebih pantas dari ku, dan lebih baik dalam memberi rada bahagia pada dirinya..maka aku akan relakannya untuk kebahagiaan Sinta.." Rudy berjanji pada dirinya sendiri jika ia juga harus siap jika di satu waktu Sinta berpaling dari dirinya.
Namun di saat pikirannya tenggelam akan hal itu.
Tiba-tiba terdengar nada dering handphone Rudy yang berada diatas meja kerja.
Rudy merespon dan ia pun segera meraih beda elektronik itu.
Dan sebuah nama yang tengah menari di pikirannya kini sedang memanggil.
Tanpa ragu Rudy menjawab.
"Hallo??"
"Hallo mas Rudy?" sambut Sinta dengan suara khas gadis jamu yang terdengar manja dari sebrang telfon.
"Hm, kamu dimana??"
"Masih diruko mas, para pekerja baru, udah selesai test mesin hari ini.."
"Oya??" respon Rudy.
"Ehem, dan alhamdulillah mereka cukup cepat paham mas.."
Rudy tersenyum simpul mendengar nada riang Sinta.
"Oia, mas tadi mas Gamal sudah kirim daftar harga dari tengkulak.. gimana?? Sinta kurang paham.."
Rudy kembali tersenyum, hal sekecil ini mungkin Sinta bisa namun dari nadanya ia seolah membutuhkan saran dari Rudy.
"Ehm, 35 menit lagi, mas ke tempat kamu.. oke?"
"Oke mas.." sahut Sinta senang.
Dan komunikasi itu pun terputus.
Rudy menantap layar nada Sinta.
Gadis ini, benar-benar membuat rasa percaya dirinya sebagai laki-laki kembali. Saat Sinta yang selalu berharap dukungan dari dirinya adalah rasa yang tak bisa Rudy jelaskan jika kehadirannya benar-benar di hargai tanpa celah.
Rudy tersenyum penuh arti. Ia tau, ia akan membalas semua rasa Sinta dengan rasa yang tak akan pernah Sinta bayangkan.
Bahkan ia bersumpah akan membawa gadis ini berada di jajaran wanita yang akan membuat iri siapapun yang melihat kesuksesan Sinta.
"Sinta.. mas tidak akan pernah menyia-nyiakan kamu.. Mas pasti akan buktikan semua ini sayang.."