Mr & Ms Second Lead

Mr & Ms Second Lead
Nyaris



"Mas Rudy.." panggil suara Sinta yang terdengar merdu.


Secara respon Rudy berbalik untuk melihat Sinta. Namun sesaat kedua matanya terpaku pada sosok yang nyaris membuatnya terserang syok.


Deg..



Wajah Sinta kian tersenyum malu. Bagaimana tidak wajah pria yang tadinya terlihat santai kini berubah dengan tatapan yang tak biasa.


"Tuh mas Rudy aja sampai bengong begitu.. pasti deh gue cantik banget kan" gumam batin Sinta berbangga diri. "Pasti respon mas Agung bakal begini nanti, kaget setengah mati pas liat aku yang sekarang berubah cantik.." timpal Sinta yang tak sabar mendengar pujian.


Namun tak ada kata-kata komentar pujian atau semacamnya, tak lama raut wajah Rudy berubah sendu dan ia seolah mengalihkan tatapannya pada pelayan wanita di sebelah Sinta.


"Mana billnya.." pinta Rudy dingin lalu ia kembali duduk.


Sinta bengong.


"Loh??" seru batin Sinta yang heran pada sikap cuek mas Rudy . Lalu dengan cepat ia mendekat pada mas Rudy.


"Mas, gimana?? segini udah cantik belum??" tanya Sinta yang jadi penasaran sendiri dengan penilaian mas Rudy.


Rudy menoleh sekilas.


"Hm, ya cukup lah.." sahut Rudy tenang.


Sinta kecewa dengan respon Rudy yang biasa-biasa saja.


"Ikh, masa gitu sih mas..udah 4 jam loh, masa ia nilainya cuma cukup.." protes Sinta tak puas.


Rudy menyeringai kecil.


"Kenapa kamu peduli dengan penilaian ku?? harusnya yang menilai itu si Agung.."


"Oh? oh iya ya.. Bener juga mas" sahut Sinta setuju. Lalu ia duduk di kursi sofa yang berhadapan dengan sofa Rudy.


Tak lama pelayan wanita datang membawa sebuah kertas lalu dengan sopan meletakkan kertas itu di antara mas Rudy dan Sinta.


"Silahkan di lihat dulu pak Rudy.." ujar pelayan itu sopan.


Karena hal itu, Sinta pun melihat jelas nominal akhirnya pada kertas putih.


"30 juta" desis Sinta mematung dengan kedua mata terbelalak kaget.


Rudy dengan santai mengeluar dompet dari balik sakunya.


Sinta panik laku dengan cepat bergerak dari duduk untuk menahan tangan Rudy yang sedang mengeluarkan kartu masternya.


"Mas!!" seru Sinta menahan.


Pelayan wanita kaget begitu juga dengan Rudy melihat tingkah Sinta yang tiba-tiba.


Rudy menatap dua bola mata Sinta yang cemas.


"Bisa tinggalkan kami sebentar??" pinta Rudy pada sang pelayan wanita.


"Oh, iya baik pak Rudy.." sahut pelayan itu yang dengan sungkan mundur meninggalkan area tamu itu.


Setelah wanita itu pergi, Sinta menantap sinis pada Rudy.


"Mas, apa-apa sih? ini semua total 30 juta?? mau mas bayar??" tanya Sinta tak bisa terima dengan biaya yang sangat tak masuk akal hanya untuk perawatan tubuhnya.


"Memang kamu ada uang?? ya silahkan, tuh.. bayar 30 juta" jawab Rudy santai dengan hendak menyimpan kembali kartu masternya.


"Hah?? Si-sinta bayar??" Seketika lutut Sinta lemes. Bagaimana tidak jika ia yang bayar uangnya tetap tidak cukup juga, karena di rekeningnya hanya ada 12 juta. Itu juga dari hasil berjualan jamu selama 2 tahun ini. Dan sekarang harus ludes untuk membayar perawatan sialan yang tak ia butuhkan.


Sinta gelisah menantap Rudy dengan wajah ragu-ragu, namun mau ia utarakan juga tidak mungkin.


Rudy tersenyum licik.


"Kenapa?? tidak punya uang??" tanya Rudy to the poin menyindir pedes Sinta.


Sinta tertunduk lesu. Tak bisa menyangkal ucapan sang pemilik perusahaan Mahendra yang sudah pasti uang bak air mengalir di rekeningnya itu.


Rudy tertawa kecil seolah menikmati wajah kemiskinan Sinta yang tak bisa berkutik.


Sinta menantap sinis.


"Nie orang ya.. niat gak sih nolong, atau cuma mau mainin gue??" rutu batin Sinta yang kesal.


Rudy kembali menarik kartu master card miliknya dan memanggil sang pelayan kembali. Sang pelayan langsung mengambil kartu card master itu dengan membawa kembali kertas bill bersamanya. Dan kembali meninggalkan sang pelanggan prioritas.


Sinta masih tertunduk kesal. Dan Rudy masih santai menikmati kekesalan wajah Sinta.


"30 juta itu uang kamu kok.." ujar Rudy sembari mengeluarkan sebuah kertas dihadapan Sinta yang melirik sinis.


"Ck, jangan bohong mas.. gimana ceritanya itu uang punya Sinta?? kan gak mungkin sinta dapat hadiah dari hantu kan??" nyinyir sinta yang ketus.


Rudy tertawa mendengar celotehan Sinta yang sepertinya sangat marah.


"Ketawa lagi, gak lucu.." balas Sinta ketus.


"Apa nie??"


"Surat perjanjian??" jawab Rudy tenang.


Kening Sinta berkenyit sembari menantap mas Rudy curiga.


"Perjanjian apa?? perjanjian jual ginjal buat lunasi hutang 30 juta itu.." celetuk Sinta sinis.


Sontak Rudy tertawa kekeh. Ia tak mengira bahwa Sinta masih sepicik itu menilai dirinya.


"Kamu ini, makanya baca dulu.." perintah Rudy dengan mencoba menahan tawa yang masih terus mengelitik.


Dengan berat hati Sinta membaca surat itu. Sebenarnya ia malas, ia takut terjebak lagi. Namun ketika kedua bola matanya membaca isi surat . Seketika raut wajah yang tadinya sinis kini berubah total dengan raut super terkejut.


"I-ini bener mas? 500 juta" tanya Sinta tak percaya dengan apa yang ia baca. Kontrak perjanjian mitra kerja Mahendra dengan membayar lisensi jamu di awal 500 juta.


Rudy tersenyum simpul.


"Apa kurang??" tanya Rudy tenang menantap wajah Sinta. "Jika kamu menjual semua resep jamu kamu pada perusahaan, mungkin nilai kontrak perjanjian bisa lebih tinggi lagi" jelas Rudy


Salivanya Sinta turun dengan rasa syok yang masih belum bisa ia atasi. 500 juta sungguh nominal yang tak pernah termimpikan oleh Sinta.


"Nominal itu di nilai dari 1 produk jamu kamu, untuk jamu bugar 250 juta dan jamu khusus wanita 250 juta.. maka jika di total menjadi 500 juta.. dan jika kamu menandatangani surat perjanjian ini, maka kamu tidak bisa lagi menjual bebas jamu kamu seperti biasa tanpa sepengetahuan perusahaan..karena semua hak penjualan jatuh di tangan perusahaan dan hasil akan di bagi menjadi rata antara kedua belah pihak.."


Sinta syok. Seketika ia mengingat para pelanggannya yang setia pasti akan kecewa jika jamu miliknya tidak bisa dijual bebas seperti biasa.


Sinta berpikir lama. Dan tak lama pelayan kembali dengan mengembalikan master card Rudy.


"Terima kasih pak Rudy.."


Rudy meraih master card itu dengan biasa dan menyimpannya kembali di dalam dompet.


Pelayan berlalu pergi. Dan Sinta masih berpikir di hadapan kertas kontrak.


Melihat Sinta yang tak tenang berpikir Rudy mengeluarkan sebuah pulpen mewah di hadapan Sinta untuk membuatnya tak berubah pikiran dengan tawaran yang di berikan.


"Setiap keputusan pasti ada yang harus di korbankan.." ucap Rudy menantap wajah tegang Sinta.


Dua bola mata indah Sinta menatap wajah pria yang terlihat teduh namun menyimpan rahasia yang tak bisa tertebak.


"Dan kamu juga harus tau, jika ini adalah kesempatan yang mungkin saja tidak akan datang dua kali.. dan pastinya kesempatan ini dapat membungkam semua orang yang dulu memandang rendah kamu.. " ucap Rudy penuh arti mendalam.


Sinta terkesima. Tatapan Rudy seolah menghipnotis diri ya. Pria ini bagai magnet yang keberadaannya sukar untuk di tolak.


"Bagaimana??" tanya Rudy yang kian menbuat Sinta gelisah di ujung kebimbangannya.


"Duh, bu.. Sinta harus gimana?" gumam batin Sinta galau.


***


Dan setelah semua selesai.


Sinta keluar dari rumah kecantikan mewah itu dengan wajah kalah. Entah mengapa rasanya ia baru saja di rampok oleh pria berdasi, Direktur Mahendra yang berhasil menghasut dirinya untuk menandatangani surat perjanjian itu.


Memang uang 500 juta sudah bertengger di rekeningnya. Harusnya ia senang buat sedih.


"Ah, dasar mas Rudy.. pintar banget ngehasut.. aku pikir bener dia tulus..eh gak taunya ngincer resep jamu.. ikh, kesel bodoh banget kamu sinta, maunya kan tadi minta aja 1 miliyar.. bodoh..bodoh..lo Sinta.." rutu Sinta yang kesal pada dirinya sendiri.


Rudy berjalan di belakang Sinta dengan menantap lekat punggung wanita yang berjalan lebih dahulu.


Sesaat Rudy tatapan Rudy berbeda.


"Nyaris, aku hampir saja mengira dia, Alia.." gumam Rudy dengan tatapan penuh arti pada wanita yang hampir mengoyahkan jantungnya.


Terlihat dari kejauhan Sinta menyibak rambut yang sedikit terhembus angin sehingga menbuat rambut Sinta tergerai indah.


Deg.. tatapan Rudy seolah terhipnotis pada sosok Sinta, ada hal yang membuatnya merasa lebih baik ketika melihat sosok itu.


Tanpa Rudy sadari, dinginnya hati terkikis karena sosok Sinta.


Namun Rudy hanya menganggap jika itu terapi yang mungkin dimaksudkan oleh sang dokter, teman yang dapat mengalihkan ketakutan dan rasa trauma penyesalannya.


Dari kejauhan terlihat Sinta melambaikan tangannya pada mas Rudy.


"Mass, cepetan sini.. panas loh.." panggil Sinta dengan suara yang rengek manja.


Rudy tersenyum kecil. Rasa-rasanya sudah lama sekali tak ada yang begitu manja dengan diri ya.


Dan Rudy pun melangkahkan kaki berjalan mendekat pada mobil yang telah siap.



Alia Zatifah



Sinta Ramanitiah