Love U My Bodyguards

Love U My Bodyguards
9.Boros



Jessi berjalan pelan ke arah Ken.


Ken yang melihat Jessi segera menghampirinya.


"Ken, tolong belikan aku dan temanku yang menyebalkan itu 2 kotak pizza large. Kamu juga makanlah di sana." Jessi mengeluarkan beberapa lembar uang 100ribuan.


"Anda boros sekali Nona." Ken enggan menerima uang dari Jessi.


"Ken, ini namanya trik untuk mengambil hati senior." "Cepat, dia menyebalkan sekali." Jessi memberikan uangnya secara paksa pada Ken, lalu mendorong pria itu untuk cepat pergi.


'Bukan cuma dia yang menyebalkan, tapi anda juga.' ucap Ken dalam hati. Dia terpaksa mengikuti kemauan Jessi lagi. Dia akan lihat sampai kapan Jessi bisa bertahan dengan uang yang di berikan oleh Boy.


Ken mau tidak mau menuruti Jessi. Dia membeli sesuai keinginan wanita itu. Tapi, Ken pribadi tidak makan di sana. Selama mengikuti Marsha, Ken jarang makan yang sama dengan Marsha. Lidahnya tidak cocok dengan makanan aneh-aneh yang Marsha makan. Dia lebih suka nasi warteg atau nasi padang.


Sembari menunggu, Ken melaporkan kegiatan Jessi hari ini kepada Boy. Dia mengakui jika Jessi adalah wanita yang cerdas dalam bidangnya. Sejak tadi Ken mengamati Jessi yang begitu senang membolak balik map yang berisi contoh-contoh gambar dan bahan interior.


"Kerja bagus, Ken. Ternyata kamu lebih cocok untuk menjaga Jessi daripada Marsha." kata Boy senang.


"Saya baru kerja 1 hari saja, Tuan. Jadi belum tentu saya betah."


"Aku jamin, kamu pasti betah menjaga Jessi."


Ken menghela nafas panjang. Ken membayangkan hari-hari ke depan bersama Jessi yang pasti tidak akan mudah dilalui.


"Bagaimana kabar istri anda, Tuan?" tanya Ken penasaran.


"Kenapa kamu masih tanya? Apa kamu masih mengharapkan dia?" cecar Boy dengan nada tinggi.


"Ken, sorry.. Boy agak overprotektif akhir-akhir ini." Marsha mengambil alih pembicaraan.


Ken tersenyum mendengar suara Marsha. "Tidak apa-apa Nona."


"Bagaimana kabar Jessi?"


"Dia baik dan sedang bekerja sekarang." "Hanya saja, dia lebih boros dari anda, nona." jelas Ken dengan blak-blakan.


"Ken, kamu harus bantu Jessi di sana." pinta Marsha pada bodyguardnya.


"Ya, saya akan menjaga dia dengan baik, demi anda."


"Ken, aku mendengar mu." teriak Boy..


Ken terpaksa menjauhkan ponselnya dari telinga.


"Sudah dulu, Nona. Kita telepon lagi kalau suami anda tidak ada." Ken mematikan telepon lebih dulu sebelum mendengar teriakan Boy lagi.


*


*


*


Jessi menghabiskan uang seperti mencuci tangan dengan air mengalir. Ken bukannya menjaga Jessi, tapi seharian ini dia justru belanja menggantikan Jessi. Ada saja yang ingin Jessi beli di mall ini. Karena tidak bisa jalan dan melihat-lihat, Jessi mencari barang-barang yang dia inginkan lewat online. Jika ada yang menarik hati, Jessi menyuruh Ken untuk membeli di atas.


"Nona, anda bekerja atau belanja?" Ken menyerahkan iPhone terbaru warna biru sesuai permintaan Jessi.


"Sambil menyelam, minum air dong Ken." Jessi menonjok lengan Ken dengan cukup kuat sambil tertawa bahagia.


"Sudah lah, Ken. Aku hanya membuang stress." Jessi menyimpan IPhone nya di tas supaya Sela tidak tau. Dia kembali ke tempatnya dengan perasaan senang.


Ken hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Jessi. Membuang stress dengan belanja IPhone? Jessi memang luar biasa.


"Jess.. kamu itu darimana sih??" tanya Sela ketika Jessi sudah kembali duduk di sebelahnya.


"Dari sana, mba." Jessi menunjuk ke arah Ken.


"Maksud aku, kamu itu berasal dari mana? Kamu seperti bukan orang sini."


"Oooh...Aku dari Jakarta, Mba."


"Apa kamu orang kaya?" Sela mulai kepo dengan kehidupan Jessi. Karena jika dipikir, Jessi terlihat bukan seperti orang susah yang ingin bekerja. Dia bahkan membelikan Sela 2 kotak pizza dengan cuma-cuma.


"Haduh, saya aja ke sini jalan kaki, Mba." ucap Jessi merendah.


"Lalu, pria di seberang sana? Dia tampak seperti bodyguard." Sela menunjuk Ken dengan dagunya.


Jessi mencondongkan tubuhnya. Dia juga memberikan kode supaya Sela merapat padanya.


"Dia itu baru patah hati karena di tinggal menikah sama orang yang dicintainya. Makanya dia berpakaian seperti itu. Mungkin dia gagal move on." jelas Jessi hati-hati.


Untuk saat ini, dia tidak mungkin bicara jika Ken adalah Bodyguard yang di kirim kakaknya untuk mengawasi Jessi.


Kalau di kota besar, hal itu mungkin wajar karena ada beberapa teman Jessi yang memiliki bodyguard, tapi kalau di kota kecil ini memiliki bodyguard sepertinya terlalu berlebihan.


"Ooo.. ya pakaiannya aneh sekali. Seperti mau kondangan saja."


Jessi mengangguk setuju. Ken memang terlihat begitu rapi. Dia selalu memakai jas lengkap entah cuaca panas terik atau hujan badai.


Senyum Jessi tiba-tiba terkembang. Sepertinya setelah bekerja dia harus belanja lagi. Dan kali ini untuk mengubah penampilan Ken.


"Kita kerja sampai jam berapa ya mba?"


"Jam 3 sore. Nanti Pak Martin yang akan gantikan kita."


Jessi menatap jam tangannya. Dan beberapa detik kemudian, Jessi bangun dari tempatnya.


"Ini sudah jam 3. Aku pulang dulu ya mba..sampai besok." Jessi menyahut tas nya yang berada pada gantungan. Tidak lupa dia melambaikan tangan sambil tersenyum pada Sela.


Ken yang sedikit lelah, langsung terjaga kembali saat Jessi menghampirinya.


"Ayo, Ken. Kita ke atas dulu sebentar." Jessi meraih lengan Ken tanpa malu-malu lagi.


"Tunggu. Kamu mau apa, Nona?" Ken berhenti di tengah-tengah.


"Mau belanja lagi." jawab Jessi polos.


Ken menepuk jidatnya. "Apa dompet anda tidak lelah??" sindir Ken. Sebenarnya ada berapa banyak saldo yang diberikan keluarga Boy?


"Jangan boros-boros, Nona. Anda harus berhemat." Pesan Ken yang mau tidak mau berjalan bersama dengan Jessi.


"Aku sudah bisa hemat beberapa minggu ini, Ken."


'Hemat apanya? Apa dia pikir Boy tidak memberikan perincian rekening koran Jessi selama ada di sini?' batin Ken. Dia tau seberapa boros Jessica.