Love U My Bodyguards

Love U My Bodyguards
Bosan belanja



Mall


Sania menarik Jessi masuk ke sebuah outlet sepatu branded kesukaannya. Begitu masuk, pelayan langsung membungkuk pada Sania dan Jessi. Mereka adalah langganan tetap di situ, sampai para pelayan hafal dengan Sania dan Jessi.


Pelayan mengarahkan Sania ke koleksi terbaru mereka. Mata Sania langsung berbinar melihat deretan sepatu yang seolah memanggil dirinya ingin segera dibeli.


"Jess.. ini sangat cocok untukmu." ucap Sania sambil menaruh heels hitam blink-blink di bagian depannya.


Jessi mencobanya sesuai instruksi Sania.


"Bagus banget kan.. Ambil yang ini Mba."


"Mom, enggak deh." tolak Jessi buru-buru.


"Lho, kenapa?"


"Jessi lagi gak mau Mom." "Mom aja yang beli." Jessi duduk di sofa sembari menunggu Sania belanja.


Sania melanjutkan sambil bertanya-tanya dalam hatinya. Apa Jessi sakit? Kenapa dia tampak tidak seperti biasa? Biasanya Jessi sangat bersemangat. Dia bahkan bisa membeli 5 pasang sepatu sekali belanja.


"Mom.. cepat Mom.. aku lelah." Rengek Jessi.


Sania berhenti dari kegiatannya. Dia duduk di sebelah Jessi, lalu memegang dahinya.


"Gak panas."


"Mom,, apaan sih.." omel Jessi. Dia malu para pelayan melihat mereka sambil cekikikan.


"Jess, apa kamu salah minum obat?" tanya Sania penasaran.


"Mom,, Jessi lagi gak mood." "Lagian sepatu Jessi masih banyak di rumah."


Sania melongo. Tapi di detik berikutnya, Sania memeluk Jessi. "Sayang, akhirnya kamu bertobat juga." "Aku harus kasih tau Dad.." Sania buru-buru mengeluarkan ponselnya. Dia langsung menelepon Bayu untuk membicarakan soal perubahan positif Jessi.


"Honey, kamu tau, Jessi akhirnya bertobat. Dia bosan belanja.." teriak Sania.


Jessi menggeser duduknya sambil memijit pangkal hidungnya. Dia sangat malu dengan tingkah Sania yang seperti orang baru dapat lotre.


"Jess, Dad mau bicara sama kamu." Tiba-tiba Sania mengarahkan ponselnya pada Jessi. Ternyata Sania videocall suaminya.


"Mana anak Dad yang paling cantik?"


"Dad, apaan sih.. jangan norak deh kayak Boy." kata Jessi kesal.


"Boy yang ikut-ikutan Dad." "Oh iya, karena kamu itu udah tobat, kita adain makan malam keluarga ya nanti malam? Dad akan kasih tau Boy."


"Terserah Dad saja." ucap Jessi tak niat.


*


*


*


Restoran India


Jessi duduk diam sejak tadi dan tidak bicara sepatah kata pun. Saat ini mereka semua sedang berkumpul untuk makan malam keluarga. Jessi tidak masalah dengan itu, tapi yang jadi ganjalan hatinya adalah kehadiran Ken di tengah mereka.


Ken datang bersama dengan Boy-Marsha. Dia kembali menjadi beruang yang dingin dengan setelan jas lengkap. Jessi sebisa mungkin tidak menatap mata Ken karena sejak tadi Ken terus menatapnya.


"Jadi, Boy.. adikmu ini sudah tobat. Dia sudah tidak betah di mall." ucap Bayu memulai pembicaraan.


Marsha berusaha mati-matian menahan tawanya. Dia harus menjaga sikap di depan ayah dan ibu mertua yang memang sangat random itu. Mereka menggelar acara makan malam hanya karena anaknya tobat.


"Cih.. suka-suka gue dong mau kayak apa." jawab Jessi sinis.


"Sudah-sudah. Ini hari baik.. jangan ribut." "Boy, Marsha, pesan yang kalian inginkan." Bayu mempersilahkan Boy dan Marsha memilih makanan malam ini.


"Marsha, bagaimana baby nya? Apakah sehat?" Sania mengelus perut buncit Marsha yang berada di sampingnya.


"Sehat Mom. Dia sangat aktif seperti ayahnya."


"Tentu saja. Seorang anggota Setiawan harus aktif." ucap Sania senang. "Mom gak sabar menunggu 3 bulan lagi."


"Jessi sepertinya juga sudah siap untuk menikah, Mom." Marsha mengompori Jessi.


Jessi yang baru saja meneguk minumannya hampir tersedak karena kaget dengan ucapan Marsha.


"Eonnie, jangan salah bicara. Bisa gawat." protes Jessi.


"Gak apa lah Jess. Kamu juga sudah makin dewasa." Marsha mengerlingkan satu matanya pada Jessi.


Jessi mencuri pandang pada Ken. Dia tampak biasa saja dan bahkan melengos dari Jessi.


"Ya, Dad setuju dengan Marsha." celetuk Bayu. Dia melihat jika Jessi sudah lebih mandiri. Dia juga tadi pagi mengajukan proposal pada Bayu untuk membuka kantor sendiri.


"Dad, aku sebenarnya udah ada calon."


"Uhuk" Ken tersedak dan terbatuk.


Semua menengok ke arah Ken, termasuk Jessi.


"Ken, kamu gak apa-apa?" tanya Marsha yang khawatir.


Ken mengangkat tangannya sebagai tanda bahwa dia baik-baik saja dan Marsha tidak perlu cemas.


"Siapa calon kamu? Bawa pada Dad." Bayu kembali pada topik yang sedang mereka bicarakan.


"Emm.. itu.."


Ken menarik kursinya, lalu berdiri. Lagi-lagi semua menengok pada Ken. Jessi sudah pucat pasi dengan tindakan Ken. Jika Ken bicara pada Bayu-Sania, maka habislah riwayatnya.


"Saya permisi ke toilet dulu. Silahkan lanjutkan pembicaraan keluarga kalian."


Jessi menghela nafas lega. Imajinasinya terlalu tinggi jika Ken dengan gentleman mengakui perasaannya pada kedua orang tua dan juga oppa nya.


"Jess.. kenapa diam aja? Siapa calon kamu? Dari keluarga mana?" desak Bayu tidak sabar. Jessi adalah anak perempuan satu-satunya, jadi Bayu harus pastikan jika anaknya mendapat pria baik-baik dan bertanggung jawab.


"Nanti Dad.. Ini masih dalam tahap berpikir, karena ada 2 kandidat." jawab Jessi santai.


"Wah, anak Dad yang kejar-kejar ya.." Bayu bangga sekali dengan Jessi. Dia memang cantik sama seperti Sania. Pasti banyak Bos-bos yang melirik Jessi.


"Tapi, dia hanya orang biasa Dad." ucap Jessi lirih.


"Orang biasa bagaimana, Jess?" Bayu mengernyitkan kening karena bingung.


Jessi memandang perubahan reaksi Daddy nya yang tampak kurang suka.


"Lupakan Dad. Kita makan aja."


Pelayan datang membawa pesanan mereka membuat Jessi selamat dari interogasi Bayu. Boy memandang Jessi dengan tatapan tajam. Dia pasti ingin meminta penjelasan juga dari Jessi.


Sementara itu, Ken sejak tadi bersembunyi di balik pintu. Dia sengaja ijin ke toilet, padahal Ken ingin mendengar apa yang Jessi ucapkan. Rupanya gadis itu tidak kunjung menjawab karena status ekonomi mereka yang sangat drastis bagai langit dan bumi.