
Jo bangun dari tidurnya. Dia mengulet sebentar, lalu dia baru mengecek Jessica. Ya, Jo sebenarnya kemarin bertekad untuk tidak tidur. Tapi namanya manusia, lama-lama Jo mengantuk dan tidur di depan cottage Jessica.
"Nona.. bangun nona.. Ini sudah siang." Jo mengetuk pintu sambil memandang jam tangannya. Jam 6.30.
Beberapa kali mengetuk, tidak ada jawaban dari dalam. Jo mulai curiga. Dia menarik handel pintu, dan ternyata tidak terkunci. Jo melongok masuk ke dalam. Di sana hanya ada tumpukan selimut, sedangkan Jessica tidak terlihat. Jo mengecek sekali lagi dengan membuka selimut itu, meskipun tidak mungkin Jessica ada di balik selimut.
"Gawat." Jo keluar dengan panik. Dia berlari untuk mencari Jessi ke toilet. Tapi, Jessi juga tidak ada di sana.
Jo melanjutkan pencarian dengan menyusuri tiap cottage yang berjejer. Dia takut Jessica salah masuk kamar orang lain. Jo bahkan nekat mengetuk cottage yang tertutup sambil meneriakkan nama Jessi.
Setelah menganggu seluruh warga glamping, Jo berpindah ke lokasi tenda yang ada di belakang cottage.
Jo memeriksa dengan teliti. Entah berapa kali dia mengucapkan kata, "Permisi" "Jessica" dan "maaf"
Orang-orang bingung dengan Jo yang sembarangan saja masuk tenda mereka.
"Kenapa sih mas? Ganggu aja." tegur salah satu pengunjung.
"Saya sedang mencari teman saya. Dia hilang." Kata Jo dengan nada tinggi.
"Sudah di cari kemana saja?" tanya bapak-bapak yang kini ikut panik.
"Baru sekitar sini saja sih pak."
"Lapor dulu ke petugas, supaya mereka bisa ikut cari."
Jo menurut. Dia mencari petugas yang berjaga di depan pintu masuk perkemahan.
Saat Jo menjelaskan, Ponsel Jo berdering.
Ken calling..
"Halo, mana nona Jessi?" tanya Ken begitu telepon terangkat.
"Ken, Jessi.." "Jessica.." "Dia menghilang." ucap Jo gemetaran. Jessica hilang\=game over. Bukan hanya Boy yang akan marah, tapi Juna bisa menjadikan Jo rempeyek.
"Maksudmu apa Jo? Bicara yang jelas."
"Tadi aku ke kamarnya, tapi dia tidak ada."
"Jo, apa yang kamu lakukan di sana? Kamu jaga Jessi atau tidak?" ucap Ken emosi.
"Aku ketiduran, Ken." sesal Jo. "Sekarang aku sedang mencarinya."
Jo memasukkan ponselnya, lalu kembali berfokus pada pencarian Jessica. Pihak petugas juga membantu dengan mengerahkan beberapa orang lagi.
"Nona.. semoga Anda baik-baik saja." batin Jo dengan cemas.
*
*
*
Ken sampai di gunung dalam waktu 2,5 jam. Ken dapat lebih cepat setengah jam dari waktu seharusnya, karena dia memacu mobilnya dengan kecepatan penuh.
Dia memarkirkan mobilnya sembarangan, lalu segera pergi mencari keberadaan Jo.
Jo sudah hampir putus asa dan bersiap untuk menghubungi Boy untuk mengaku. Tapi, Ken kemudian muncul.
Ken langsung menghampiri Jo begitu melihat pria itu. Wajah Ken sudah sulit di jelaskan dengan kata-kata. Saat ini Ken sedang berusaha menahan emosinya pada Jo.
"Kamu ceroboh sekali, Jo." kata Ken penuh penekanan.
"Sudah Ken. Ini bukan saat yang tepat untuk berdebat."
"Oke, kita bereskan nanti." Ken setuju menunda perdebatannya dengan Jo. Dia ikut berkeliling untuk mencari Jessica di dalam hutan.
"Jess... Jessica.." teriak Ken dengan nyaring. Ken juga tidak lupa memeriksa ke bawah alias jurang, takut Jessica terpelosok jatuh ke sana.
"Jeesss.." "Jesssicaaa." teriak Jo.
"Bagaimana kalau tidak ketemu?" tanya Ken yang mulai pesimis. Kalau Jessica jatuh ke jurang, tidak mungkin wanita itu selamat.
"Kamu jangan menakut-nakuti ku, Ken."
"Seharusnya kamu tidak perlu membawa Jessi ke tempat seperti ini." sindir Ken.
"Ya.. aku menyesal, Ken." Jo menyadari perbuatannya. Dia mencabut ucapannya soal menjaga Jessica. Menjaga wanita itu lebih sulit daripada menjaga Juna.
"Cepat cari lagi." Ken frustasi karena belum ada tanda-tanda dari Jessica.
'Nona.. Anda dimana?' ucap Ken dalam hati. Dia tidak bisa membayangkan jika Jessi sampai terluka atau bahkan tidak selamat.