Love U My Bodyguards

Love U My Bodyguards
Duo Dumb and Dumber



Semua orang kebakaran jenggot mencari Jessica. Telepon Jessi sejak tadi tidak aktif dan Jessi juga mematikan GPS nya. Saat ini Boy sedang mencari Jessi dengan mengecek CCTV di sekitar restoran. Tampak Jessi keluar dari restoran seperti orang kebingungan. Dia lalu berjalan dengan cepat sampai....


'BRAK' Boy menggebrak meja. Boy tidak dapat melihat kemana Jessi pergi karena tidak ada lagi CCTV yang menjangkau tempat itu.


Dia berdiri dan memandang Ken dengan penuh amarah. Marsha yang tau situasi ini sedang memanas, segera berdiri di antara Boy dan Ken.


"Sayang, tenang dulu." Marsha menahan badan Boy yang sudah siap menghajar Ken.


"Mars, masuk ke kamar sekarang." perintah Boy.


"Boy, aku tau kamu panik. Aku juga panik. Tapi, kalau kamu menghajar Ken, apakah itu akan menjamin Jessi akan ditemukan?" kata Marsha dengan tenang. Padahal Marsha sudah sangat ketakutan dengan reaksi Boy. Boy tidak pernah semarah ini. Dia orang yang terbilang cukup santai dalam menghadapi masalah.


"Saya akan cari Nona Jessica." Ken membuka suara setelah diam 1000 bahasa.


"Seharusnya kamu lakukan dari tadi. Sekarang kemana kamu akan mencari Jessica?" teriak Boy dengan nada yang naik 3 oktaf.


"Sayang.." Marsha memberi kode supaya Boy berhenti. "Jangan lupa, aku sedang hamil."


Boy mengusap wajahnya dengan kasar. Dia lupa jika Marsha tidak boleh banyak pikiran karena itu bisa berpengaruh untuk bayinya juga.


"Maaf, sayang. Aku hanya stress."


"Iya, kita akan menemukan Jessica, Boy." Marsha membantu Boy untuk duduk kembali di ruang tengah.


Di tengah kekacauan yang sedang terjadi itu, Tiba-tiba ponsel Marsha berdering. Marsha sebenarnya enggan untuk mengangkat teleponnya. Dia tau jika teleponnya diangkat, maka akan menimbulkan masalah baru.


Sayangnya, Boy melihat nama Juna di layar ponsel Marsha. Dia segera merebut ponsel Marsha lalu mengangkatnya.


"Mars, apa sedang terjadi perang di keluargamu?" tanya Juna to the point.


Boy mengerutkan keningnya. Dia bingung kenapa Juna bisa tau masalah yang sedang terjadi saat ini?


Boy lalu menengok ke arah Marsha. Apa istrinya memberitahu Juna?


"Ini Boy. Apa maksudmu?" jawab Boy ketus.


"Kebetulan sekali." "Tolong jemput adikmu di rumahku. Dia tidak mau pulang sejak tadi sore."


"Maksudnya Jessica?" Boy terperangah mendengar Juna.


"Siapa lagi? Apa kamu punya adik yang lain?" sindir Juna.


"Thanks, Jun. Aku akan ke sana." Boy bergegas menyambar kunci mobil, lalu pergi tanpa berpamitan pada Marsha.


Ken yang mengerti maksud dari telepon Juna juga segera mengikuti Boy.


*


*


*


Tiffany senang sekali dengan kehadiran Jessica, karena gadis itu bisa membantunya untuk mengurus Baby Nat. Tapi, tidak dengan Juna. Dia tidak suka jika area pribadinya di sentuh orang lain. Apalagi ini sampai bermain di ranjangnya.


Jo mendekati Juna yang sudah tampak kesal. Dia yakin setelah Jessica pulang, gajinya akan dipotong oleh Juna.


Ya, Jo yang membawa Jessica ke rumah Juna. Hanya rumah Juna yang aman dan juga nyaman untuk bersembunyi. Terbukti sekarang gadis itu betah sekali sampai tidak mau pulang.


Mereka berdua sedang memandang dan mendengarkan percakapan Tiffany dan Jessica yang bagaikan teman akrab. Padahal, dulu Tiffany sempat tidak menyukai Jessica.


"Kak, kamu ternyata orangnya sangat baik dan asyik." ucap Jessica sembari memainkan squishy milik Baby Nat.


"Kamu itu juga unik, Jess." puji Tiffany. "Kamu kabur dari rumah hanya karena kesal dengan bodyguard Marsha."


"Tapi, kalau aku gak kabur, aku juga gak mungkin bisa dekat dengan Kak Tiffany seperti ini." "Jadi, ada untungnya kan?"


"Iya, kamu benar juga."


Mereka berdua tertawa dengan senang seperti tanpa beban. Sedangkan Jo dan Juna sudah hampir meledak dengan tingkah dari duo dumb and dumber di depan mereka.


"Besok ganti ranjangku dengan yang baru." bisik Juna pada Jo.


"Iya, saya akan ganti, Tuan." "Kapan Tuan Boy akan datang?"


Juna melihat jam yang ada di tangannya. Jam 11 malam.


"Mungkin setengah jam lagi."


"Lama sekali. Aku sudah lelah." Keluh Jo.


"Kamu gak boleh pulang dulu. Temani aku memeriksa berkas."


Jo menelan ludah. Juna masih ingin bekerja di jam segini? Ini bencana. Seharusnya Jo tidak membawa Jessica ke sini. Dia sama saja bunuh diri.


"Jess, kenapa kamu gak mau pulang?" tanya Tiff yang sudah mulai mengantuk.


"Emmm, besok aku akan kembali ke kota kecil itu. Jadi aku hanya ingin menghabiskan waktu di sini." jelas Jessi sambil tersenyum pahit. Dia tidak mungkin bilang jika dia kabur karena malas bertemu dengan Ken.


"Habiskan waktu di rumahmu, Jess. Dengan keluargamu. Bukan di sini." sela Juna.


Juna duduk di sebelah Tiffany, lalu mencium pipinya.


"Jun, kamu menjijikan sekali. Kamu gak lihat di sini banyak orang?" komplain Jessica yang jengah dengan drama romantis pasangan suami istri itu.


"Kamu gak lihat ini kamar siapa?" Juna menaikkan satu alisnya.


"Hehehe.. maaf Jun. Aku juga gak setiap hari ke sini kan?"


"Jess.. ayo, kita pergi keluar saja. Kita main dance pump it saja di depan." Jo menarik Jessi secara paksa karena tampaknya Juna ingin berdua saja dengan Tiffany. Ini jauh lebih baik daripada Jo harus lembur bekerja.


"Semangat ya Bos untuk membuat adik Natalie." teriak Jo sembari menutup pintu kamar Juna.