Love U My Bodyguards

Love U My Bodyguards
Harus menyembunyikan ini



Jessica berdandan begitu cantik malam ini. Dia menggunakan terusan bewarna salem dengan jepit kupu-kupu di sisi kanan rambutnya. Ken hari ini tidak bisa mengantar Jessi menemui klien nya, jadi Jessi menyetir sendiri. Dia berangkat terburu-buru karena terlalu lama bersiap-siap. Untung saja jarak rumah Jessi dan rumah klien nya itu tidak terlalu jauh. Jessi hanya perlu berkendara selama 5 menit.


Rumah berlantai 2 itu terlihat begitu asri dan artistik. Jessi sengaja menaruh beberapa tanaman hijau di sekeliling rumah dan beberapa di dalam. Dia bahkan memberi rumah itu sebuah nama, yaitu Greeny House. Jessi sangat puas dengan hasil design nya. Ya, selain desain interior, Jessi juga sedikit mengubah eksterior rumah yang dominan dengan kaca ini.


Jessi membuka pintu Greeny House karena klien Jessi belum terlihat batang hidungnya. Dia pikir sudah terlambat dan kliennya sudah datang, tapi ternyata dia belum datang juga.


Jessi menyalakan lampu. Dia perlu mengecek kembali semuanya sebelum pemilik rumah datang. Sekali lagi Jessi tersenyum sendiri. Rumah yang tidak terlalu luas itu tampak sangat cantik dengan design yang sudah Jessi buat. Jessi sangat menyukai kursi sofa tosca dengan bahan bludru yang dia desain khusus supaya sofa itu bisa untuk tidur berdua.


Pemilik rumah mengatakan jika dia akan menikah sebentar lagi dan membawa istrinya pindah ke situ. Jadi, Jessi sudah menyiapkan tempat yang nyaman supaya mereka bisa honeymoon di rumah dan tidak perlu pergi jauh. Selama bekerja sama dengannya, Jessi menyimpulkan jika pemilik rumah ini sangat sibuk. Dia pasti tidak punya waktu untuk honeymoon.


Tiba-tiba TV di ruang tengah menyala sendiri. Jessi terkejut sampai jantungnya hampir copot. Tapi, Jessi mengerutkan dahinya ketika melihat tulisan yang tertera di layar.


'Welcome home Jessica..' Dia bingung kenapa ada namanya di sana?


"Sayang, kenapa bengong?" Ken muncul entah dari mana. Dia berdiri di belakang Jessi, membuat Jessi makin pusing untuk memahami situasi ini.


"Ken, kenapa kamu di sini? Katanya kamu kerja?" Jessi berbalik dan menatap Ken dengan wajah kebingungan.


"Tentu saja untuk menyambut tuan rumah." Ken tersenyum penuh arti pada Jessi.


"Aku gak ngerti, Ken."


"Aku adalah orang aneh yang kaku dan kuno yang kamu bicarakan." ucap Ken sambil tertawa lebar.


Jessi melongo. Jadi selama ini, yang menggunakan jasanya adalah suaminya sendiri? Plot twist macam apa ini?


"Ken, kamu gak ngerampok bank, kan?" tanya Jessi curiga. Meskipun rumah ini kecil, tapi rumah ini terletak di tengah kota dan harganya pasti mencapai miliaran rupiah.


"Hey, kamu menuduh calon suami mu itu penjahat?" komplain Ken yang tidak terima.


"Ken, lebih baik kamu jujur. Darimana kamu dapat uang?" Jessi mencecar Ken karena masih tidak percaya.


"Jess,, aku dapatkan ini dari..."


"Dari hasil kerja kerasnya sendiri." suara itu terdengar menggema di seluruh ruangan. Jessi menoleh ke arah wanita tua yang berjalan dengan tongkat menghampiri mereka. Dia sudah bersembunyi di kamar utama bersama Ken sejak tadi.


"Nyonya Lee." pekik Jessi senang.


Dia langsung memeluk Nyonya Tua yang begitu Jessi kenal. Nyonya Lee adalah Ibu Marsha, alias mertua Boy.


"Anda makin cantik saja." puji Jessi sambil cekikikan.


"Kalau menghina, tolong kira-kira Jessica." omel Nyonya Lee.


Jessica membimbing Nyonya Lee untuk duduk di sofa supaya mereka bisa bicara dengan nyaman.


"Makasih, Nyonya atas doanya." Jessi sekali lagi memeluk Nyonya Lee.


"Panggil saja, Mom." pinta Nyonya Lee pada Jessi yang terdengar kaku memanggil Nyonya.


"Oh iya, Mom. Jadi, gimana ceritanya Ken bisa dapat rumah ini? Apa dia merampok Mom?" Jessi teringat kembali tentang Ken dan Greeny House.


"Jessica.Aku gak merampok." sela Ken dengan nada meninggi.


"Ken, kamu diam saja. Biar aku yang jelaskan pada Jessi." Nyonya Lee melirik ke arah Ken sesaat, lalu setelah memastikan Ken menutup mulutnya, dia kembali berfokus pada Jessi.


"Sebenarnya, Ken sedang mengetes mu." "Beberapa bulan lalu, Mom sudah berikan satu perusahaan untuk Ken kelola sendiri."


"Mom, tapi Mom terlalu berlebihan." Jessi sudah protes terlebih dahulu sebelum Nyonya Lee menyelesaikan ucapannya. Tentu saja dia harus protes. Satu perusahaan Nyonya Lee itu bernilai sangat fantastis. Jika Jessi ada di posisi Nyonya Lee, dia juga tidak akan mau memberikan perusahaan untuk bodyguardnya secara cuma-cuma.


"Tunggu, Jess. Ken juga tidak mendapatkan secara Gratis. Dia sudah mencicil itu selama dia bekerja denganku. Dan Ken sudah membuktikan jika dia bisa mengelola perusahaan dengan baik sampai bisa mendapatkan rumah ini untukmu."


"Ken, apa itu benar?" Jessi menengok ke arah Ken yang berdiri di belakangnya.


"Ya, kamu gak perlu hidup susah, sayang.. karena aku juga sama seperti Boy, aku sudah punya perusahaan sendiri." ucap Ken bangga.


Jessi berdiri untuk memeluk Ken. Dia sangat bersyukur bisa mendapat pria yang bertanggung jawab seperti Ken.


"Maaf aku harus menyembunyikan ini untuk sementara. Aku ingin melihat reaksimu jika kamu hidup susah denganku."


"Kamu jahat, Ken. Kalau aja aku tau kamu sudah kaya sekarang, aku akan bikin pesta besar-besaran."


Ken tertawa. Jessi memang berbeda. Kehidupannya yang kaku pasti akan semakin bewarna dengan tingkah-tingkah konyol Jessica.


"Ya sudah, karena aku merasa bersalah, kamu boleh minta sesuatu sebagai hadiah untuk pernikahan nanti."


"Benar?" Jessi menyembulkan kepalanya dari balik dada bidang Ken. Dia menatap dengan mata berbinar-binar seperti anak kecil yang mendaptkan coklat.


"Ya, kamu bisa minta mobil, baju, sepatu, perhiasaan.." Ken menyebutkan sederet nama barang yang Jessi sukai.


"Aku sekarang mau mengecat rambutku jadi biru lagi."


Ken mengerjapkan mata beberapa kali. Dia tidak menyangka permintaan Jessi ternyata lebih berat daripada mobil.


"Kenapa harus biru, sayang?"


"Karena aku gak suka merah, apalagi hijau seperti Boy." ungkapnya dengan polosnya.


Ken melepaskan Jessi. Dia sudah dijebak oleh Jessi. Kalau sudah begini, dia tidak bisa menarik ucapannya. Jessica memang antimainstream.