
Pak Martin melongo melihat hasil kerja Jessi. Tim Jessi bekerja dengan baik dan memuaskan sesuai dengan permintaan konsumen. Jessi tersenyum senang karena pujian yang tak henti-hentinya dari Pak Martin.
Sedangkan di samping Jessi, Sela merengut karena selama bekerja dia tidak pernah di puji seperti itu oleh majikannya.
"Jess apa nanti malam kamu punya waktu? Saya ingin membicarakan pekerjaan sambil makan malam." ajak Pak Martin.
"Wah, maaf Pak. Saya tidak bisa pergi dengan orang yang sudah beristri kecuali kakak saya." Tolak Jessi terang-terangan.
"Istri?" tanya Pak Martin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Dia belum punya istri." bisik Sela.
"Oops.. sorry." Jessi merapatkan mulutnya karena tidak enak hati.
"Jadi, bagaimana? Nanti kita makan malam?"
"Emm.. boleh. Tapi aku akan mengajak pria di sana." Jessi menunjuk ke arah Ken.
"Kenapa dengan pria itu? Dia kakakmu?"
"Bukan. Dia bodyguardnya." jawab Sela.
"Maksudnya?" Pak Martin tampak kebingungan dengan pria yang selalu berdiri di sebrang outlet nya. Dia cukup aneh karena sejak tadi pria itu terus menatap tajam ke arah mereka.
"Dia hanya teman kakak saya, Pak." jawab Jessi dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti.
"Oke.Nanti aku jemput kamu di kost." Pak Martin menepuk pundak Jessi sambil berlalu.
Jessi menghela nafas panjang. Dia lega karena bisa menyelesaikan pekerjaan pertamanya. Setelah ini, dia akan meminta tolong lagi pada tim nya supaya kerjaan dia cepat beres.
"Ini udah jam makan siang. Aku pergi makan dulu ya." Sela membereskan kerjaannya, lalu dia meninggalkan Jessi sendirian.
Jessi memberi kode pada Ken untuk mendekat. Seperti biasa, Jessi masak setiap pagi. Jadi, Ken akan makan menu yang sama dengan Jessi.
"Hari ini nona masak apa?" tanya Ken sembari duduk di depan Jessi.
"Sapi lada hitam dan rebusan sayur kangkung." Jessi membuka 2 kotak makan dengan porsi yang berbeda.
"Terima kasih, nona." Ken menerima kotak yang lebih besar dengan semangat.
"Ken, sampai kapan aku harus terus memasak seperti ini?" tanya Jessi sambil mengunyah makanannya.
"Jangan bicara saat makan, nona. Nanti anda tersedak."
"Aku capek Ken kalau tiap hari harus masak." Jessi masih komplain pada Ken. "Pinjami saja aku uang, Ken. Aku janji akan kembalikan padamu." "Ken, kamu dengar gak sih?"
Ken mengangguk tanpa bicara. Dia makan dengan lahap seperti orang yang tidak makan 2 hari.
"Keeeen.. kenapa malah makan terus sih?" "Kamu menghindar karena aku mau pinjam uang?" oceh Jessi.
"Aku memang tidak punya uang." Ken membuka ponsel, tepatnya pada aplikasi mbankingnya. Dia tanpa ragu menunjukkan sisa saldo yang dia miliki pada Jessi. 1 juta rupiah.
"Ken, kamu miskin sekali." "Kemana saja uangmu?" tanya Jessi terkejut. Jessi kira waktu itu Ken hanya bercanda. "Apa kamu punya hutang sama Rentenir?"
'Uhuk' Ken tersedak. Terakhir Jessi menuduh Ken bermain judi. Sekarang dia berpikir jika Ken hutang pada rentenir. Ken sangat prihatin dengan daya imajinasi Jessi.
"Jika anda tau alasan kemana uang saya pergi, nanti anda bisa jatuh cinta pada saya." Ken mencondongkan badannya ke depan untuk lebih dekat dengan Jessi.
"Tapi dia gak waras." sindir Ken.
"Oh iya, aku lupa kalau Marco itu kurang waras."
Ken tersenyum sinis. Dia lalu berpikir sejenak untuk berpikir apakah dia perlu ceritakan alasan kemana uangnya pergi.
"Jadi, aku sumbangkan semua yang gajianku ke panti asuhan." Ken memulai ceritanya.
Jessi berhenti makan sesaat. Tapi, dia tetap melanjutkan makan lagi setelah Ken berhenti bicara.
"Sejak kecil, aku tinggal di panti asuhan." "Aku baru keluar dari sana ketika lulus SMA dan bertemu dengan Nyonya Lee." lanjut Ken. "Aku langsung setuju untuk jadi bodyguard dari anak Nyonya Lee. Sejak itu aku berjanji akan menyumbangkan 75% gajianku ke sana."
"Kemana orang tuamu? Kenapa mereka tidak bertanggung jawab?" protes Jessi yang lebih tertarik dengan kata membuang daripada menyumbang.
"Aku tidak tau sama sekali asal usul orang tuaku. Dan aku juga tidak berharap terlalu banyak dari mereka, karena aku biasa sendiri." ucap Ken dengan pandangan menerawang. "Tapi, jika melihat kebersamaan anda dengan Tuan dan Nyonya Setiawan, saya jadi iri dengan Nona." Ken memandang Jessi yang makan dengan belepotan.
"Mereka itu cerewet sekali, Ken. Dan kamu perlu ingat, mereka membuangku." protes Jessi.
"Jess, mereka semua menyayangimu. Ini semua salahmu sendiri. Kenapa kamu berpacaran dengan orang yang kurang waras seperti Marco."
"Ken, kenapa harus bahas Mar.." "Uhuk" Kali ini Jessi tersedak daging. Dia terbatuk-batuk cukup kencang sampai air matanya keluar. Ken dengan sigap berdiri dan membantu Jessi dengan memukul-mukul punggung Jessi.
"Sudah aku bilang, kalau makan jangan banyak bicara."
"Ken,, uhuk.. kamu menyebalkan.. uhuk uhuk."
Butuh waktu beberapa menit sampai akhirnya Jessi bisa mengeluarkan makanan yang membuatnya tersedak.
"Dasar daging sia*an." umpat Jessi.
"Haduh, yang salah itu anda. Dagingnya tidak salah." kata Ken putus asa. Memang, katanya wanita tidak pernah salah dan selalu benar. Tapi, kasus Jessi ini beda. Dia selalu menyalahkan apapun di sekitarnya. Bahkan si daging saja jadi korban.
"Ya, intinya anda harus bersabar, Nona. Saya tidak bisa membantu Anda jika soal uang."
"Oke, Ken. Tidak apa-apa." "Sorry karena aku tidak tau ceritamu." "Ternyata walaupun wajahmu seram, hatimu sangat baik." puji Jessi dengan tulus.
"Saya hanya berusaha untuk membantu anak-anak yang senasib dengan saya." Ken tersenyum penuh arti.
"Aku akan bilang Boy untuk menambah gajimu 2x lipat." "Nanti, kalau sudah ditambah, kamu simpan itu. Jadi, kalau aku butuh, aku bisa pinjam." Jessi menepuk pundak Ken sambil tersenyum.
Gubrak. Ken yang sedang mellow jadi kehilangan moodnya gara-gara ide licik Jessi. Dia pikir gadis itu bersimpati padanya. Tapi, realitanya Jessi hanya ingin pinjam uang lagi.
Jessi sadar dengan perubahan sikap Ken yang tiba-tiba diam. Sudah pasti Ken tidak ingin meminjamkan dia uang.
"Nona, apakah anda setuju untuk makan malam bersama dengan Bos anda?" tanya Ken mengalihkan pembicaraan mereka.
"Iya.. memangnya kenapa?" "Kata Dad kan gak boleh menolak rejeki, Ken." "Sudah lama aku tidak makan di restoran." Jessi tersenyum senang membayangkan steak, bebek, king prawn yang akan dia makan nanti.
"Anda tidak takut kalau Bos anda suka dengan anda?"
"Halah.Pikiranmu itu terlalu sempit Ken." "Lagian kenapa dari tadi kamu ngomong cinta-cinta terus sih? Bukannya kamu paling anti dengan yang seperti itu?" Tanya Jessi curiga.
Ken diam saja. Dia bukannya senang bicara soal ini, tapi Jessi adalah orang yang tidak pernah peka dengan perasaan seseorang. Dia selalu menganggap semua pria yang dekat dengannya adalah teman.