Love U My Bodyguards

Love U My Bodyguards
Menangis



Sela memandang Jo dan Ken bergantian. Dia kagum sekaligus iri karena Jessi begitu banyak dikelilingi pria-pria tampan. Belum lagi Martin yang akhir-akhir ini kelihatan sangat dekat dengan Jessi. Ya, bagaimanapun juga, Jessi memang cantik. Dia gadis yang ceria, baik dan murah hati. Tapi, hari ini keceriaan Jessi seperti hilang entah kemana. Sejak tadi yang dilakukan Jessi hanya melamun saja.


"Jess.. kamu kenapa si? Ada masalah?" tanya Sela sambil menyenggol lengan Jessi.


"Eh, enggak kok. Gak apa-apa." jawab Jessi lirih. Dia kembali berfokus pada kerjaannya. Jessi baru saja dapat proyek untuk mendesain rumah seorang konglomerat di kota ini. Jadi, dia harus serius sekarang.


"Jess, aku boleh tanya gak?"


"Hmm., tanya apa?" Jessi tidak mengalihkan pandangannya dari laptop dan hanya jawab seperlunya saja.


"Kamu itu sebenarnya kenapa bawa bodyguard sampe 2 biji?"


"Alasannya sederhana aja sih mba.. mereka jaga aku dari mantan." jawab Jessi santai.


"Memang mantan kamu kenapa? Dia penjahat?"


Jessi berhenti mengetik dan tiba-tiba menutup laptopnya. Dia menatap jam tangannya. Jam 3 sore. Jam kerja Jessi sudah selesai.


"Aku harus pergi mba.." ucap Jessi sambil tersenyum pada Sela yang masih bengong karena perubahan sikap Jessi.


"Oke,, sampai besok.." Sela melambaikan tangan pada Jessi. Apa ini hanya perasaannya saja yang bilang Jessi menghindar atau memang Jessi sedang tidak mood saat ini?


Secepat kilat, Jessi membereskan tasnya, lalu dia pergi menghampiri Ken dan Jo yang sama sekali tidak mengobrol. Wajah mereka berdua juga tampak tegang. Entah ada apa dengan mereka berdua. Biasanya Jo pasti bicara tanpa henti dan mengganggu Ken sampai pria itu marah. Tapi, kini mereka seperti musuh bebuyutan.


"Ken, Jo ajak aku untuk makan jagung bakar di Baturraden. Apa kamu mau ikut?" Jessi lebih dulu minta ijin pada Ken.


"Tidak." "Aku ada keperluan penting."


"Mau pergi sama Milka?" tanya Jessi sambil memandang Ken dengan penuh tanda tanya.


"Ya, aku harus pergi dengan dia." jawab Ken dingin. Dia juga tidak menengok sama sekali pada Jessi. "Kalian pergi saja, dan jangan pulang terlalu cepat. Jangan pulang sebelum aku dan Milka selesai." Ken melirik Jessi-Jo sesaat, lalu dia berjalan lebih dulu keluar dari mall.


Jessi terpaku di tempatnya. Dia masih mencerna kata-kata absurd dari Ken. Apa Ken dan Milka akan?


"Nona.. kita berangkat sekarang?" Jo menyadarkan Jessi dengan memetik kan tangan tepat di depan wajahnya supaya wanita itu sadar.


Jessi mengangguk. Dia menunduk lesu seraya mengikuti langkah Jo yang menuju tempat parkir.


Jo ternyata membawa motor dan bukan mobil. Dia menyewa motor karena memang Jo lebih suka naik motor.


"Naik motor gak apa-apa kan, nona?" Jo mengoperkan helm pada Jessi.


Jessi menerima helm itu dan langsung naik ke boncengan tanpa banyak bicara lagi.


Jo merasakan perubahan sikap Jessi yang cukup drastis. Tapi, Jo sengaja tidak bertanya. Dia hanya mengarahkan spion pada Jessi supaya dapat dengan jelas melihat wanita itu.


Benar saja, Jessi sedang menangis di boncengan. Kenapa wanita itu? Apakah dia ada masalah? Tadi Jessi kelihatan baik-baik saja.


Jo mempercepat laju motornya, membuat Jessi yang tadinya hanya menarik Jas milik Jo, kini jadi memeluknya.


"Nona.. keluarin aja, jangan di tahan." teriak Jo.


Sesuai instrusksi Jo, Jessi menangis meraung-raung. Dia tidak peduli jika orang-orang yang lewat melihatnya dengan negatif.


Jo berputar selama setengah jam. Dia menunggu sampai Jessi tenang, baru setelah itu dia berhenti dan mencari tempat untuk bicara lebih nyaman.


Jessi turun dari boncengan dan langsung duduk. Sementara Jo memesan teh hangat dan jagung bakar, sesuai janji mereka tadi siang.


"Minum dulu nona cantik." Jo menyodorkan gelas bening berisi teh pada Jessi.


"Thanks Jo." Jessica langsung meminum teh itu sampai separuh. Dirinya jauh lebih tenang setelah minum teh hangat.


"Jadi, anda kenapa nangis? Apa kangen sama mama papa?" tanya Jo yang mulai menginterogasi Jessi.


"Aku gak bisa move on, Jo. Aku sudah coba biasa saja sama dia, tapi aku gak bisa."


"Siapa? Marco? Katanya nona udah punya pacar baru?"


Jessi menggelengkan kepala. "Aku gak pacaran sama dia." "Aku masih jomblo."


"Terus, gak bisa move on dari siapa?"


"Kepo bgt sih." "Pokoknya aku gak suka kalau liat dia dekat dengan cewek lain." Omel Jessi.


"Ya, oke,, oke.. aku tau.. tapi lap dulu ingusmu." Jo menunjuk ke arah cairan kental yang keluar dari hidung Jessi.


Jessi menarik ingus bersama dengan menarik nafas. Dia sudah tidak peduli atau jaim kalau di depan Jo.


"Hadeh, cantik-cantik jorok."


"Jo, apa gak ada orang waras yang menyukai aku?" "Aku ini kan cantik, gak sombong, pintar.." Jessi menyebutkan satu persatu kelebihannya.


"Ya.. masalahnya adalah yang terakhir, anda itu tidak rajin menabung." kata Jo penuh penekanan.


"Jo, itu sih gampang. Itu urutan nomer 10."


"Emm.. sebenarnya ada orang yang menyukaimu. Dia tampan, rajin, pengertian, lucu.." ucap Jo dengan semangat.


"Siapa Jo?" tanya Jessi penasaran.


"Aku." Jo tersenyum dengan penuh karisma.


Otak Jessi ngeblank sesaat, tapi di detik berikutnya dia tertawa keras. Jessi tidak tahan sampai dia memegangi perutnya yang sakit.


"Aduh Jo, kamu cocok banget ikut stand up comedy." Jessi menyeka air matanya yang keluar lagi. Tapi kali ini setidaknya bukan air mata kesedihan, melainkan air mata karena geli dengan candaan Jo.


"Nona. Aku serius. Aku menyukaimu."


"Jo..." Jessi tidak dapat berkata-kata lagi. Dia kaget dengan pengakuan Jo. Apa pria itu sedang mabuk?


"Ya, coba pahami dulu saja, nona. Jika memang mau menolak, tolong jangan sekarang, aku belum siap." Jo menatap Jessi dengan intens. Baru kali ini dia berani menatap Jessi seperti ini. Tentu saja Jo datang ke Purwokerto bukan tanpa maksud. Dia memang ingin mengatakan ini sebelum semua terlambat. Jo tidak mau kejadian Cassie terulang lagi. Hanya karena dia merasa tidak layak dan takut bersanding dengan Cassie, akhirnya dia malah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan istri yang cantik.


Jo sekarang juga merasa lega. Meskipun Jessi tampak bengong, tapi setidaknya Jessi sudah mengerti perasaannya.


"Oke, Jo. Maaf, tapi Aku ga akan jawab sekarang."


"Oke, nona. Take your time. Kita lebih baik makan jagung dulu." "Kasian cacing di perut kita."


Jessi mengangguk. Dia mengambil jagung yang baru saja diantarkan oleh penjualnya. Jo memperhatikan Jessi yang sudah bisa tersenyum dan menikmati makanannya. Tapi di pihak Jessi, otaknya masih saja travelling. Dia ingin tau sedang apa Ken dan Milka sekarang. Ya, yang Jessi tangisi sejak tadi adalah Ken.