
Jo, Juna dan Milka sudah sampai di Jakarta. Mereka langsung membawa Milka ke rumah sakit. Ya, saat ini Ayah Milka alias Tuan Sutandi sedang sakit. Michael sudah menyambut kedatangan adiknya yang sudah terpisah begitu lama, lebih dari 20 tahun.
Sejak tadi Milka terus memberontak. Tapi upayanya jelas sia-sia karena mereka sudah sampai di ruangan VIP rumah sakit milik keluarga Sebastian.
Jo dan Juna melepaskan Milka berbarengan. Michael menyambut mereka dengan sebuah senyuman kecil.
"Thanks, Jun. Kita bisa bicara besok." kata Michael sambil menepuk pundak Juna.
"Mil, bisa kita bicara tentang masalah keluarga kita?" ucap Michael pada gadis yang tampak acak-acakan itu.
Milka memilih diam pada pertemuan pertama dengan Michael dan Ayahnya yang sedang terbaring dengan mesin alat bantu pernafasan di tubuhnya.
"Keluarga?" "Aku sebatang kara, tidak punya keluarga." ucap Milka dengan suara bergetar.
"Jangan seperti itu, Mil." "Dad sangat menyesal dan dia ingin minta maaf padamu."
"Haha.." Milka tertawa sinis. "Seharusnya kalian menyesal dari dulu. Sekarang percuma saja menyesal. Aku gak butuh kata-kata itu."
"Milka,," Michael mencoba memegang tangan Milka, tapi Milka segera menepisnya dengan kasar.
"Aku tidak mengenalmu."
"Mil, Dad mungkin gak akan bertahan lama lagi."
"Ya, itu urusan anda dan Bapak tua itu." jawab Milka yang wajahnya sudah memerah menahan perasaan yang selama ini dia pendam sendirian. Milka tidak bisa melupakan hari itu. Dia memohon supaya Ayahnya tidak meninggalkan dia di panti. Tapi, Tuan Sutandi tidak menggubrisnya. Perceraian mereka membuat Ayah Milka itu benci pada Milka. Milka tidak tau pasti karena dia masih kecil waktu itu. Tapi yang jelas Ayah Milka bilang supaya dia tidak muncul lagi di hadapannya.
Sekarang, waktu dia ingat telah membuat surat wasiat yang melibatkan Milka, Michael dan ayahnya mengejar Milka untuk meralat lagi surat itu. Mereka sangat egois.
"Milka, maafkan Daddy. Dia juga ingin kamu kembali ke rumah." Michael masih mencoba membujuk Milka dengan segala cara.
"Rumahku di panti." "Kalian sudah membuang ku, kan?"
"Milka, tolong jangan keras kepala seperti ini." suara Michael meninggi.
"Keras kepala?" Milka melangkah maju. Emosinya meledak. Dia sudah tidak tahan lagi. "Kamu gak tau Mike rasanya jadi aku? Aku tidur berempat, aku gak bisa beli sepatu baru, aku diejek karena di buang orang tua ku sendiri!" teriak Milka sambil menangis.
Jo maju mendekat. Dia berdiri di samping Milka untuk merangkulnya. Melihat Milka seperti ini, rasa kesal seharian ini pada gadis itu menguap begitu saja dan berganti dengan rasa empati.
"Milka.." suara lirih itu membuat semua orang menengok tak terkecuali Milka.
Tuan Sutandi membuka matanya perlahan. Yang dia lihat pertama kali adalah Milka.
"Maafkan Daddy.. Dad menyesal telah menitipkan kamu di panti." pria tua itu menatap Milka dengan pandangan nanar.
"Membuang, bukan menitipkan. Untung saja, Mom memberikan surat ini di tasku." Milka mengeluarkan surat wasiat yang dibikin oleh Sutandi waktu anak-anaknya masih kecil. "Sekarang, aku ingin menuntut hak ku." Milka menghapus air matanya. Dia sudah membulatkan tekad untuk mengambil sebagian harta Sutandi.
"Mana bisa, kamu harus menikah. Mana calon mu?" Michael tertawa sinis. Dia akhir-akhir ini menyuruh orang mengikuti Milka. Kehidupan Milka memang menyedihkan. Dia kost di sebuah rumah kecil, dan dia tidak punya banyak circle pertemanan.
Milka menengok ke kanan kiri. Dia langsung menunjuk Juna. "Dia, calonku." ucap Milka lantang.
"Jun, apaan sih." Protes Jo.
"Lihat saja, Jo sudah memberikan cincin untuk Milka." lanjut Juna.
"Aku bukan..."
"Dia calon suami Milka dan mereka akan menikah saat ini." Ken tiba-tiba menyeruak masuk dengan beberapa orang berpakaian rapi.
"Ken?" ucap Jo dan Milka bersamaan.
"Kompak sekali." Ken tersenyum kecil.
"Ada apa ini? Apa benar, Mil kamu akan menikah dengan dia?" tanya Tuan Sutandi yang masih mencoba memahami situasi ini.
Jo menatap Milka yang cemas. Dia menggenggam erat kertas kusam yang tadi siang baru ditunjukkan padanya.
"Aku..akan menikah dengan Jo." jawab Milka lirih. Setelah itu dia tertunduk lesu.
"Om, saya ingin menikah dengan Milka sebelum terlambat. Om mengakui Milka anak Om, kan?" Jo mendekat pada Tuan Sutandi dan menggenggam tangannya.
Semua terperangah, terutama Michael. Tentu saja dia memanggil Milka memang untuk membujuk Ayahnya soal warisan. Kenapa Milka begitu pintar sampai membawa petugas dan pemimpin agama ke rumah sakit?
"Ya, lakukan di sini. Aku ingin melihat Milka menikah dengan, siapa namamu Nak?"
"Jonathan Wijaya."
"Apa kamu serius dengan Milka dan akan menjaga dia dalam keadaan apapun?" tanya Tuan Sutandi dengan penuh harap.
"Ya, saya usahakan. Asal Milka menurut, saya akan menyayangi dia."
"Cepat lakukan sekarang. Dad setuju."
Prosesi pernikahan dadakan di rumah sakit berjalan dengan lancar. Jo tidak percaya statusnya berubah begitu cepat dalam hitungan jam saja. Sedangkan Milka hampir pingsan setelah menandatangani surat nikah mereka.
"Selamat, Nona dan Tuan Wijaya." ucap Ken senang. Dia memberi kode pada orang-orang yang dia bawa untuk segera keluar dan tidak banyak ikut campur.
Juna juga melemparkan kunci mobilnya pada Jo, lalu dia menyusul Ken keluar. "Itu hadiah pernikahanmu Jo." teriak Juna tanpa menengok pada Jo. Dia hanya ingin segera pergi dan tidak mau ikut campur lagi urusan keluarga Sutandi.
"Kamu harus tanggung jawab Ken mencarikan sekretaris untukku."
"Itu soal gampang. Nanti aku carikan yang cantik." jawab Ken asal.
"Kamu cari mati, Ken." Juna berjalan beriringan dengan Ken.
"Yang penting Milka sudah menikah. Aku yakin, meskipun otak Jo gesrek, tapi dia bisa jaga Milka."
"Aku gak tau apa yang akan mereka lakukan setelah ini." Juna bergidik ngeri karena tampaknya Milka bukan wanita yang mudah di taklukkan.