
Bus again.
Jessi harus bersabar karena Jo kembali mengajaknya naik bus. Bedanya, bus kali ini sepi. Jadi mereka bisa duduk dan tidak harus bergelantungan seperti tadi.
Jessi menutup roknya dengan tas. Jo yang melihat itu segera melepaskan jasnya untuk Jessi.
"Wah, kamu peka juga." Jessi melongo dengan perlakuan gentleman seorang Jo.
"Saya selalu peka, Nona. Nona saja yang tidak peka."
"Tidak peka gimana maksudnya Jo?" Jessi menengok ke arah Jo karena penasaran.
"Tidak usah di bahas deh. Nanti nona pusing."
"Apa sih, Jo?" Jessi makin penasaran dengan Jo.
"Saya gak mau kasih tau."
"Jo.. cepat kasih tau." Jessi tidak sabar dengan mengguncang-guncangkan badan Jo.
"Kalau mau tau... cium dulu sini." Jo menyodorkan pipinya pada Jessi.
"Cari mati kamu. Jangan mimpi Jo." Jessi sudah bersiap menampar Jo, tapi ponselnya tiba-tiba berdering.
"Beruang madu?" ekspresi Jessi berubah ketika Ken meneleponnya.
"Halo, Ken."
"Nona, apa anda tidak salah kirim gambar?"
"Gambar apa, Ken?"
"Gambar Selfie anda." jawab Ken datar.
"Oh, my.." "Aku kirim ke Mom.. Kenapa bisa ke kamu sih?" teriak Jessi panik. Setelah dicek, dia memang salah mengirim gambar pada Ken.
Ken tertawa.
Jessi sempat terdiam karena baru pertama kali dia mendengar seorang Ken tertawa.
"Anda cantik sekali." "Maksud saya ceroboh sekali." Ken jadi ikut salah bicara karena saat ini dia sedang memandang foto selfie Jessi.
"Sorry, Ken. Otak ku memang sudah overload."
"Ya, no problem..saya jadi bisa melihat wajah anda. Tapi, anda sehat kan nona?"
"Ya, sehat. Sekarang aku mau jalan-jalan dengan Jo. Dan kami sedang naik bus."
"What? Anda naik bus?" teriak Ken.
Jessi sampai menjauhkan teleponnya karena suara Ken yang naik 3 oktaf.
"Ken, jangan teriak-teriak. Kan aku naik bus dengan Jo. Jadi semua aman" kata Jessi menenangkan Ken. "Kamu sendiri gimana? Kapan kamu kembali?"
"Besok, nona." Ken terdiam sesaat.
"Anda jangan mau jika diajak main olahraga ekstrem dengan Jo." pesan Ken.
Dia tau persis bagaimana seorang Jonathan yang selalu memacu adrenalin dengan olahraga ekstrem.
"Ya.ya.. mana mau aku melakukan hal aneh seperti itu. Kamu ada-ada saja Ken." ucap Jessi sambil tertawa kecil.
"Ya,, tapi Anda mau naik bus dengan Jo." sindir Ken.
"Nona, sudah dulu ya.."
Ken lalu menutup teleponnya secara sepihak.
"Kenapa si Ken?" tanya Jo yang sejak tadi sebenarnya sudah menguping pembicaraan mereka.
"Entahlah.. mungkin sedang pacaran." ucap Jessi lesu.
"Ya sudah, kita juga pacaran." Jo merangkul pundak Jessi. "Kita udah kayak di drakor-drakor itu kan?"
"Drakor dari hongkong. Lepasin Jo." Jessi memberontak, tidak mau di peluk Jo.
"Drakor itu dari Korea, bukan Hongkong. Kalau drama Hongkong namanya Drakong." goda Jo sambil tertawa.
Jo hari ini sangat aktif sekali mengerjai Jessi. Jessi sampai tidak punya kesempatan untuk membalas perbuatan Jo.
*
*
*
Jo membawa Jessi ke gunung. Benar-benar gunung dalam arti sesungguhnya. Dia bahkan sampai menyewa motor supaya mereka bisa masuk ke tempat yang terpencil.
Jessi sebenarnya takut, tapi pemandangan di gunung benar-benar indah. Jo pertama membawa Jessi ke sebuah curug yang memiliki air terjun yang indah. Jessi yang tidak pernah menemukan tempat yang alami di Jakarta tentu sangat senang bermain air. Dia tidak perlu takut akan pakaian karena tadi Jo sudah membeli pakaian di jalan.
Jo melepaskan pakaiannya dan hanya menyisakan boxernya saja. Dia lalu naik ke atas karena ingin berenang dan terjun bebas.
"Jo, jangan lompat.." teriak Jessi yang ketakutan.
"Nona.. Anda harus coba ini.." Jo berteriak dadi atas. Sedetik kemudian, Jo benar-benar terjun ke bawah sampai dia mencipratkan air ke Jessi.
"Jooooo.." Jessi berteriak histeris karena air kiriman dari Jo langsung membasahi bajunya.
"Ayo, nona.. ini segar sekali.." Jo menarik tangan Jessi.
"No way Jo... ini dingin.." Jessi memukul tangan Jo supaya tidak mendekat. Tapi, Jo tetap terjang badai. Dia akhirnya berhasil membawa Jessi ikut berenang ke tengah.
"Joo..awas kamu ya.." Jessi yang sudah terlanjur basah akhirnya mengejar Jo untuk menghajarnya.
"Kejar kalau bisa." Jo menjulurkan lidahnya pada Jessi yang tidak bisa berenang mengejarnya.
"Kenapa Juna bisa tahan dengan mahkluk seperti kamu sih?" Jessi sudah kesal to the max pada Jo.
Tapi, karena sejak tadi dia berteriak-teriak, perasaannya jadi lebih lega. Jessi tidak memikirkan lagi soal kerjaan atau juga Marco. Yang ada hanya bermain dengan Jo dan mencoba hal baru.
"Seru kan, nona?" tanya Jo yang melihat Jessi mulai menikmati jalan-jalan kali ini.
"Seru apanya.. ini dingin sekali Jo." Jessi berpegangan pada Jo karena sudah lelah berenang.
"Setelah ini kita makan. Aku sudah janji akan traktir Anda. Oke?"
"Iya, cepat. Aku sudah lapar."
"Tapi, senyum dulu." Jo masih saja menggoda Jessi.
Jessi mau tidak mau menuruti Jo karena dia sudah kedinginan dan lapar. Jessi memberikan senyuman lebar dengan terpaksa.
"Nah, gitu kan cantik. Ya sudah, ayo."