Love U My Bodyguards

Love U My Bodyguards
11. Takut Hilang



'Tok.. Tok.. Tok.. '


Jessi menutup kepalanya dengan bantal.


'Tok..Tok..Tok..' suara pintu kamar Jessi di ketuk semakin keras.


Jessi melempar bantalnya ke arah pintu. "Berisik sekali."


Dia mengambil ponsel di nakas karena ponselnya berdering juga.


"Mau apa sih beruang madu." Jessi akhirnya bangun dan membuka pintu dengan malas.


"Ini masih jam 6. Kenapa sih, Ken?" omel Jessi sambil menguap.


"Ayo..kita harus mulai berhemat." Ken menarik tangan Jessi.


"Ken, mau apa sih." Jessi dengan sigap memegang pinggir pintu kamarnya untuk menahan tarikan dari Ken.


"Nona, jangan berdebat." Ken dengan mudah melepaskan tangan Jessi. Dan supaya cepat, Ken menggendong Jessi ala karung beras.


"Ken, lepasin.. Ken." teriak Jessi sambil memukul dada bidang Ken.


Ken tidak mendengarkan Jessi. Dia tetap menggendong wanita itu sampai ke lantai bawah.


"Ayo, ke pasar." ajak Ken sambil menurunkan Jessi.


"Gak mau, Ken. Aku masih ngantuk." Jessi hendak berlari kembali ke atas, tapi Ken dapat menangkap leher belakang kaos Jessi.


"Keeeen.. please.."Mohon Jessi.


"Tidak. Kita harus berhemat kalau kita masih mau bertahan hidup."


"Ken, tabunganmu pasti banyak. Pinjami aku dulu, nanti aku akan ganti kalau sudah gajian." Jessi kini sudah berada di samping Ken.


"Tabungan apa?" Ken mengerutkan dahi karena tidak paham perkataan Jessi mengenai tabungan.


"Marsha pasti memberimu banyak uang, kan? Kamu kerja 24 jam untuk dia. Jadi kalau di hitung-hitung sejak awal kamu bekerja, kamu pasti sudah bisa membeli kapal pesiar." oceh Jessi sambil menghitung dengan jarinya berapa gaji Ken sebulan di kali berapa lama dia bekerja.


'Pletak' Ken menjitak jidat Jessi. Dia lalu menggenggam tangan Jessi dengan erat supaya gadis itu mengikutinya.


"Ken,, kamu itu aneh sekali." ucap Jessi kesal. Dia selalu saja di jitak oleh Boy. Sekarang, Ken pun ikut-ikutan.


"Aku tidak punya uang seperti yang Anda bayangkan, Nona." Ken memulai ceritanya.


"Kamu kelihatannya tidak pernah beli pakaian atau juga makan enak. Lalu uangnya untuk apa?" tanya Jessi bingung. "Apa uangnya untuk judi?" tuduh Jessi sambil memicingkan matanya.


"Imajinasi anda terlalu luas." "Memang aku terlihat seperti orang yang suka bermain?" Ken menengok ke arah Jessi yang masih berjalan di belakangnya.


"Iya. Lihat wajahmu seperti mafia." Jessi tertawa senang.


Ken menatap Jessi tanpa ekspresi.


"Sudahlah. Lepaskan tanganmu. Aku bukan anak kecil yang harus di gandeng seperti ini." Jessi mengangkat tangannya yang di genggam erat oleh Ken.


"Jangan dipikir aku tidak tau akal licikmu, Jessica Setiawan."


Ken yakin, jika dia melepaskan Jessi, gadis itu akan kabur kembali ke kost.


"Ken..ini serius mau ke pasar?" protes Jessi.


"Iya.. bukankah anda pintar memasak?"


"Ya, itu kalau terpaksa saja, Ken."


"Kamu mau memasak, atau mau mati kelaparan?" tawar Ken.


Jessi masih mengomel sepanjang jalan. Tapi Ken dengan kejamnya tidak mendengarkan Jessi lagi. Dia hanya diam, sehingga Jessi terlihat seperti orang gila yang bicara sendiri.


Tak sampai 10 menit jalan, mereka sampai di sebuah pasar tradisional. Jessi langsung menutup hidungnya karena bau-bauan menyengat yang bercampur membuat kepalanya pusing dan perutnya mual.


"Cepat pikirkan menu yang praktis dan enak." Ken menengok kanan kiri kebingungan.


"Yang praktis itu tempe atau tahu goreng." jawab Jessi asal.


"Oke.." Ken berjalan ke penjual tahu dan tempe. Dia membeli satu papan tempe dan juga sebungkus tahu.


"Apalagi? Sayur apa yang nona suka?"


"Capcay."


Kali ini, Ken menuju penjual sayur yang ada di ujung dan cukup ramai.


"Aduh." Jessi berteriak karena badannya terdorong oleh orang yang melewati mereka.


Ken dengan sigap menangkap tangan orang itu. "Hati-hati. Anda bisa melukai dia." Ucap Ken sambil menunjuk Jessi dengan dagunya.


"Santai, Mas. Namanya juga pasar, ya pasti senggol-senggolan." ucap Orang itu dengan nada sinis.


"Bapak harus minta maaf." Ken mencengkram lengan orang itu dengan kuat.


"Iya, maafkan saya, mba." kata orang itu yang kini meringis kesakitan.


Setelah mendengarkan permintaan maaf, Ken melepaskan orang itu. Kini dia berfokus kembali pada belanjaan Jessi.


"Kalian mesra sekali." ucap Ibu pedagang sayur yang senyum-senyum sendiri menyaksikan pemandangan di depannya.


"Dia baru pertama kali ke pasar, Bu. Jadi saya takut dia hilang." jawab Ken.


"Bu, minta bahan-bahan untuk membuat capcay." teriak Jessi yang jadi salah tingkah karena Ken kini malah merangkulnya.


"Aduh, pasti baru nikah deh." oceh Ibu itu sambil membungkus kan Jessi beberapa jenis sayuran segar.


"Saya tidak mungkin nikah dengan gadis boros kayak dia." jawab Ken dengan wajah datarnya.


"Saya juga gak mau nikah sama beruang madu." balas Jessi.


"Sudah boros, bawel lagi." tambah Ken.


"Kamu juga, sudah kaku, pelit."


"Mba, mas.. Debatnya lanjut di rumah aja yaa.. Ini total belanjaan kalian 20 ribu." Penjual sayur itu memberikan satu kresek sayuran.


Setelah selesai berbelanja dengan tukang sayur, mereka kembali menyusuri pasar. Ken berhenti di sebuah penjual jajanan pasar.


"Ken, apaan sih? Ayo.. nanti aku kesiangan." Jessi menarik lengan Ken.


"Sebentar nona. Kita butuh appetizer untuk di kost." Ken yang jauh lebih kuat memaksa Jessi untuk mendekat. Kini Jessi yang tertarik Ken dan terpaksa mampir di tukang jajanan pasar.


"Bu. Beli klepon dan lopis.. 2 porsi."


"Apa itu Ken?" tanya Jessi kepo. Dia tidak pernah melihat makanan seperti itu seumur hidupnya.


"Nanti juga tau."


Ken menyelesaikan dengan cepat transaksinya. Mereka sudah terlalu lama belanja ke pasar. Jadi, Ken harus segera mengajak Jessi pulang untuk memasak.


"Nona, ayo cepat." ucap Ken sambil menarik tangan Jessi.


"Eh, bambang.. Tadi gue juga udah minta pulang. Lo yang mampir-mampir." omel Jessi.


"Saya itu, Ken. Bukan bambang." jawab Ken kesal.


"Haduh, susah memang bicara dengan orang aneh."


Jessi melepaskan tangan Ken. Dia berjalan lebih dulu meninggalkan Ken dan semua belanjaannya.