
Ken ternyata di diagnosis menderita usus buntu. Dia harus menjalani operasi dan saat ini dokter sedang meminta persetujuan keluarga.
Jessi kebingungan karena Ken berasal dari panti asuhan. Dia tidak tau apakah Ken punya keluarga atau tidak. Satu-satunya yang Jessi ingat adalah Marsha. Ken sudah lama bekerja untuk Ny.Lee dan juga Marsha. Pasti mereka sudah menganggap Ken sebagai keluarganya.
"Eonni.. Ken masuk rumah sakit." lapor Jessi begitu telepon terhubung ke Marsha.
"Kenapa dengan Ken?" tanya Marsha panik.
"Dia harus operasi usus buntu. Tapi, aku tidak tau harus menghubungi siapa." kata Jessi tak jelas. Dia sudah panik, jadi Jessi bingung untuk memberikan penjelasan yang tepat pada Marsha.
"Berikan telepon ini ke dokternya."
Untung saja Marsha dapat mengerti maksud Jessi. Dia mengambil alih untuk bicara pada dokter yang menangani Ken.
Jessi segera memberikan ponselnya sesuai perintah Marsha. Dokter itu berbincang cukup lama, sebelum akhirnya mengatakan Oke.
"Saya akan segera melakukan operasi. Anda tunggu saja di sini." ucap Dokter pada Jessi dan Martin.
"Baik dok. Semoga semuanya lancar." jawab Martin. Dia memegang lengan Jessi, lalu membawa Jessi untuk duduk di bangku.
Jessi tampak tidak bersemangat. Dia hanya diam dengan pandangan kosong. Martin dapat menjamin jika Jessi bahkan tidak menyadari keberadaannya.
"Tenanglah, Jess. Semua akan lancar dan baik-baik saja." ucap Martin yang coba menenangkan Jessi.
"Dia itu sangat bodoh." kata Jessi lirih. "Apa dia tidak punya mulut untuk bilang kalau dia sakit?" "Kenapa dia mengikutiku kalau dia memang sakit?" oceh Jessi.
Martin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jessi begitu perhatian pada bodyguardnya. Mereka lebih tampak seperti pasangan kekasih daripada atasan dan bawahan.
"Jess. Aku akan urus administrasi dulu."
Daripada mendengar ocehan Jessi tentang Ken, Martin memutuskan untuk mengurus biaya rumah sakit.
*
*
*
Setelah satu jam menunggu, akhirnya operasi Ken selesai juga. Perawat membawa ranjang Ken dan memindahkan dia ke ruangan. Jessi langsung berdiri dan mengikuti perawat yang akan membawa Ken. Martin sudah ijin pulang lebih dulu karena dia harus menemui keluarganya yang tadi dia temui di hotel. Jadi, hanya Jessi seorang yang menemani Ken.
"Nanti setelah pasien buang angin, dia baru boleh minum dan makan." pesan Suster pada Jessi setelah mereka sudah berada di ruangan VIP.
"Oke suster. Terimakasih."
"Saya tinggal dulu, Bu. Kalau ada apa-apa pencet tombol saja." Suster menunjukkan tombol di nakas pada Jessi.
Jessi mengangguk. Dia mengambil bangku untuk duduk di samping Ken.
"Ken, apakah masih sakit?" tanya Jessi khawatir. Dia belum pernah masuk ke rumah sakit untuk operasi, jadi cuma pertanyaan itu yang terbesit dalam benak Jessi. Padahal jika dipikir, pertanyaan Jessi itu sangat konyol. Mana ada orang yang baru saja menjalani operasi itu tidak sakit.
Ken tidak menjawab Jessi.Dia malah menggerakkan tangannya untuk mengambil tangan Jessica.
Begitu menemukan tangan itu, Ken menggenggam erat tangan Jessi yang sudah hampir menangis.
"Ken.." kata Jessi terbata. Setelah itu air mata Jessi meluncur keluar dengan cepat. "Aku takut kamu kenapa-kenapa."
"Ini hanya operasi kecil, nona. Jangan menangis." Hibur Ken.
"Ken, aku janji akan menurut padamu." ucap Jessi dengan terisak.
Ken tersenyum kecil. Jessi sangat lucu jika menangis seperti ini. Seandainya dia bisa bangun, dia akan memeluk Jessi.
"Mana Pak Martin? Aku harus minta maaf padanya." Ken memandang ke sekeliling ruangan mencari keberadaan pria itu.
"Dia sudah pulang lebih dulu." "Tidak apa-apa. Tadi minta maaf mu sudah aku wakilkan padanya." Jessi mengelap air mata dengan kaosnya.
"Jorok sekali." omel Ken.
"Kan cuma kamu yang lihat, Ken."
"Anda kembali saja ke kost, Nona." Ken masih memandang Jessi sambil menggenggam tangannya.
Jessi menggeleng kuat. Dia baru sadar jika Ken tidak memiliki siapapun. Jadi, Jessi lah keluarganya di sini. Jessi tentu tidak ingin meninggalkan Ken.
"Marsha menyuruhku untuk menemani kamu." bohong Jessi.
Ken mengernyitkan dahinya. Marsha tidak pernah betah berada di rumah sakit. Wanita itu sama seperti mantan kekasihnya, Juna yang lebih suka memanggil dokter ke rumah daripada menginap di rumah sakit. Dan waktu Ken harus diinfus karena dehidrasi, Marsha sama sekali tidak datang menengoknya. Jadi, tidak mungkin Marsha menyuruh Jessi untuk menjaga Ken. Itu pasti hanya alasan Jessi yang tidak ingin pulang.
"Kalau kamu butuh sesuatu, katakan saja Ken."
"Aku hanya butuh tidur." Ken mengerjapkan mata beberapa kali. Rasanya mata Ken begitu berat untuk terbuka. Mungkin efek obat bius tadi masih ada.
"Dengan posisi seperti ini?" Jessi menunjuk tangannya yang masih digenggam oleh Ken.
"Apa anda keberatan?" tanya Ken yang sudah siap melepaskan tangannya.
"Tidak.. tidak Ken." ucap Jessi buru-buru. "Aku tau, ini juga bagian dari pekerjaan kita." "Jika kamu tidak cepat sembuh, maka aku juga akan repot."
Ken tidak banyak bicara lagi dan mulai memejamkan mata. Jessi baru pertama kali mengamati Ken dari dekat seperti ini. Ken terlihat lebih muda dari umurnya. Dia juga punya kulit yang bersih meskipun tidak terlalu putih. Ken sebenarnya lebih cocok jadi CEO daripada bodyguard.
Ketika sedang asyik memandangi Ken, Jessi dikejutkan oleh suara ponsel Ken yang berbunyi nyaring. Jessi buru-buru mengangkat ponsel Ken tanpa melihat siapa yang menelepon.
"Halo, Ken. Kenapa kemarin kamu tidak menelepon?"