Love U My Bodyguards

Love U My Bodyguards
Orang Aneh



Jessi bercerita pada Jo bagaimana kronologi dia bisa sampai di kantor polisi. Jessi pergi dari restoran tanpa tujuan. Jadi, daripada tertangkap oleh Marco, Jessi jadi pergi ke kantor polisi. Dan karena tidak ada teman yang bisa Jessi telepon, Jessi memutuskan untuk menelepon Jo. Harapan Jessi hanya pada Jo. Untung saja Jo mau menjemput Jessi.


"Hmm.. jadi seperti itu." "Betul sih kalau kamu pergi. Artinya kamu tau diri, tidak mengganggu orang pacaran." ucap Jo dengan santainya.


"Jooo..kamu menyebalkan." Jessi mencubit lengan Jo.


"Aaaaw.. sakit tau." Jo mengusap lengannya yang pasti lebam setelah ini.


"Tumben bawa temen, mas. Biasanya sendirian." Penjual ketoprak itu datang membawa 2 porsi pesanan Jo.


"Iya, Pak. Saya bawa artis ibukota ini pak. Dia kelaparan." sindir Jo.


"Neng, pasti neng bakal balik ke sini lagi deh kalau udah cobain. Kayak ini nih, si Bang Jo. Dia langganan bapak udah berapa tahun lalu." ucap Penjual Ketoprak itu pada Jessi.


Jessi tersenyum manis. Dia tidak ingin banyak bicara lagi karena perutnya sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi.


"Makanlah, Nona." Jo memperhatikan Jessi yang mulai menyendokkan makanan ke mulutnya.


Awalnya Jessi terdiam cukup lama, tapi setelah bisa beradaptasi dengan rasanya, Jessi mulai menikmati Ketoprak langganan Jo.


"Bagaimana rasanya?"


"Emm, lumayan." jawab Jessi dengan mulut penuh makanan.


"Setelah ini, anda mau makan es potong?"


Jessi mengangguk dengan semangat. Dia sangat butuh sejenis makanan dingin yang bisa mendinginkan hatinya yang sedang panas.


Jo tidak memakan makanannya. Sewaktu Jessi sudah habis, dia menukar piring mereka, supaya Jessi makan lagi. Dan sesuai harapan Jo, Jessi tanpa sadar makan piring yang kedua.


"Jo, aku tidak ingin pulang ke rumah." ucap Jessi di sela-sela makannya.


"Lho, kenapa nona?" Jo mengambilkan air minum untuk Jessi. Dia sudah bagaikan babysitter Jessi menggantikan Ken.


"Aku sedang ingin menenangkan pikiran."


"Oh,, kalau gitu kita ke rumah sakit."


"Jo, aku gak gila." teriak Jessi kesal. Dia hendak menonjok lengan Jo, tapi Jo lebih dulu menghindar.


"Maksudku, aku ke rumah sakit untuk memeriksa tubuhku yang sejak tadi dipukul dan dicubit." terang Jo sambil tertawa.


Jessi sudah speechless dengan Jo. Dia memang tidak bisa menyeimbangi Jo yang sangat jago ngeles.


"Jo, kenapa yah aku selalu bertemu dengan laki-laki yang aneh?" tanya Jessi yang tiba-tiba teringat kisah hidupnya.


Dia baru saja menghabiskan 2 porsi ketoprak, tapi otaknya masih tidak bisa berpikir.


"Ya contohnya aku bertemu Marco. Sampai sekarang dia masih mengejar ku seperti orang gila. Belum lagi, Ken dan..."


"Aku tidak termasuk, Nona." Jo memotong perkataan Jessi lebih dulu.


"Justru kamu yang paling aneh dari semuanya." ucap Jessi yang melirik ke arah Jo. Jessi baru sadar dengan penampilan Jo.


Pria itu menggunakan pakaian kemeja bunga-bunga dan celana hitam yang biasa digunakan bapak-bapak. Belum lagi dia mengenakan kacamata yang hanya framenya saja dan tidak ada kacanya.


"Tapi aku yang paling baik, kaaan?" Jo memainkan rambut Jessi dengan gemas.


"Iya, iya. Kamu yang paling baik." "Jadi, bawa aku kabur." Pinta Jessi sambil memandang Jo dengan intens.


"Ya, tapi jangan lama-lama kaburnya. Nanti malam aku antar anda pulang." "Aku bisa digantung oleh Boy jika sampai adik kesayangannya hilang."


"Boy tidak peduli padaku sejak dia menikah." ucap Jessi sedih.


"Aku peduli padamu, Nona." hibur Jo. "Sebentar, saya beli es potongnya dulu di sana."


"Jo, tunggu aku ikut.."Jessi berdiri. Dia meletakkan piring yang sudah kosong di kursi, lalu dia menarik samping baju Jo.


"Pegangan yang benar." Jo mengambil tangan Jessi dan membawa tangannya dalam genggaman tangan Jo.


"Jo, apa kamu juga seperti ini dengan Cassie?" tanya Jessi kepo.


"Aku tidak pernah memegang Cassie seperti ini. Kamu tau sendiri bagaimana Romeo. Aku bisa habis olehnya jadi keripik pisang." Jo bergidik ngeri membayangkan suami Cassie yang tidak beda jauh dari Juna. Kejam dan dingin.


"Lalu kenapa kamu pegang seperti ini?" lanjut Cassie sembari mengangkat genggaman tangan mereka ke atas.


"Karena aku juga akan di marahi Boy dan Marsha jika tidak menjaga kamu dengan benar."


"Oooh.."


Jo bersyukur karena Jessi diam juga. Mereka sampai di seberang jalan dengan aman.


"Silahkan, Nona yang cantik tapi galak." Jo memberikan es potong pada Jessi.


"Terimakasih Mas Bodyguard yang aneh." Jessi menekankan kata-katanya untuk membalas Jo.


"Jadi, setelah ini, kamu mau bawa aku kemana Jo?"


"Rahasia.Makan saja es nya." Jo tersenyum penuh arti pada Jessi yang makan es potong dengan belepotan.


Jessi melirik dengan pandangan curiga.