
Milka tidak berani memandang Ken. Dia sangat grogi pada tatapan Ken yang begitu tajam. Tidak biasanya Ken memandang Milka seperti itu.
"Milka, bukankah kamu yang anggap aku teman?" "Kamu juga bilang kan, kalau kita sudah putus?"
Milka tidak menjawab. Dia awalnya memang ragu pada Ken. Milka tidak berani menerima tawaran Ken yang mengajaknya untuk menjalin hubungan dari awal. Tapi, Milka sadar jika dia takut kehilangan Ken. Dan sepertinya saat ini Milka sudah memantapkan hatinya pada pria di depannya itu.
"Ken,, aku ingin bicara sesuatu padamu." Milka memberanikan diri menatap Ken. Dia nantinya harus terbiasa dengan tatapan itu jika nanti dia kembali pada Ken.
"Ya, aku juga." "Tapi, sebelum itu.." Ken menarik tangan Milka dan membawa dia ke dalam pelukannya.
Milka awalnya bingung, tapi di detik berikutnya dia tidak protes dan malah tangannya bergerak untuk memegang erat punggung Ken.
'Ceklek' pintu kamar mandi terbuka. Jessi memandang kedua orang yang sedang berpelukan itu dengan ekspresi datar. Reaksinya kali ini jauh berbeda dengan reaksi sebelumnya ketika dia menyaksikan adegan yang hampir sama dengan yang terjadi sekarang ini. Ken bermesraan dengan Milka.
Milka segera melepaskan pelukan Ken ketika sadar kalau ada orang lain di dalam ruangan itu. Dia langsung salah tingkah sendiri.
Ken merapikan pakaiannya yang sedikit kusut. Tapi, pandangan matanya bukan pada pakaian, melainkan pada Jessi.
"Santai saja. Aku tidak akan menggangu kalian. Sebentar lagi aku akan kerja." Jessi tersenyum lebar pada kedua orang di depannya yang berdiri berjejer seperti ikan asin yang di jemur. "Ken, kamu temani saja Milka hari ini." perintah Jessi lagi.
Ponsel Jessi yang ada di meja makan berdering. Ken menengok ke arah ponsel yang layarnya menampilkan nama Jo.
Jessi segera bergerak untuk mengambil ponselnya. Ekspresi Jessi berubah melihat siapa yang menelepon. Sudah lama sekali Jo tidak meneleponnya.
"Hai Jo. Tumben telepon." sindir Jessi.
"Halo cantik.. lagi apa nih?"
"Lagi salto."
"Oooh.. kirain lagi mikirin aku." goda Jo lagi. Dia terkekeh setelah mengatakan itu.
"Cih. Ngapain mikirin orang yang kurang waras macam kamu."
"Ati-ati nona.. nanti beneran lho jatuh cinta sama aku."
"Kenapa sih Jo?" Jessi mengalihkan pembicaraan supaya Jo tidak melantur ke mana-mana.
"Aku sedang dalam perjalanan ke sana."
"Beneran nih?" "Oke,, aku tunggu." ucap Jessi senang. Ekspresi Jessi juga sangat berbeda dengan tadi sewaktu Jessi melihat Ken.
"Kenapa dengan Jo?" tanya Ken yang tentu saja mendengarkan percakapan Jessi.
"Jo mau ke sini." Jessi tidak dapat menyembunyikan ekspresi gembiranya. Ya, Jessi merasa nyaman dengan Jo karena pria itu lucu dan dapat menghiburnya.
Ken hanya dapat melihat Jessi dari luar jendela kamarnya. Wanita itu bersemangat sekali menemui Martin.
"Ken.." panggil Milka. Dia membantu Ken untuk kembali pada kesadarannya.
"Sorry." "Kamu mau bilang apa, Mil?" tanya Ken kembali pada topik semula. Dia lebih dulu membiarkan Milka untuk mengatakan hal yang ingin dibicarakan dengannya.
"Ken, aku mau kita mulai dari awal." ucap Milka dengan yakin.
Milka mengharapkan mendapatkan pelukan kedua dari Ken. Tapi sayangnya itu hanya imajinasi Milka. Ken saat ini tidak bergeming dari tempatnya. Pandangan Ken malah terlihat seperti kosong.
"Ken, kamu dengar gak sih?"
"Ya." Ken diam sesaat. "Tapi justru itu yang ingin aku bicarakan padamu."
"Maksudnya?"
"Sepertinya aku gak bisa memulainya lagi." jawab Ken datar. Dia tau ini terdengar kejam, tapi sesuai saran Marsha, dia tidak merasakan apapun ketika memeluk Milka. Dia justru merasakan hatinya sakit. "Maaf, Mil."
"Kenapa kamu berubah dengan cepat seperti ini, Ken?" "Apa kamu marah?" Milka sudah berkaca-kaca. Sebentar lagi pertahanan dirinya akan jebol. Ken begitu aneh. Dia baru saja mengungkapkan perasaannya selama bertahun-tahun, tapi Ken bisa berubah pikiran begitu cepat.
"Bukan seperti itu, tapi sepertinya aku menyukai orang lain." aku Ken.
"Ken, tapi.."
"Milka.. kamu tau jika aku tidak suka basa basi." "Aku hanya ingin supaya semua jelas. Kita jalani hidup masing-masing. Aku bekerja sebagai bodyguard dan kamu bisa meraih cita-citamu untuk lebih menekuni bidang otomotif. " Aku juga akan selalu mendukungmu, Mil."
Milka memejamkan matanya. Semua perasaan kesal, marah, kecewa, sedih, berkumpul jadi satu. Milka ingin menonjok pria yang berada di depannya, tapi dia harus ingat jika kekerasan itu hanya akan memperburuk masalahnya dengan Ken. Pria itu akan semakin jauh dari Milka jika dia melakukan hal absurd yang seharusnya tidak dilakukan.
"Jadi, sekarang kamu bisa perjelas hubungan kita?" tanya Milka sambil tersenyum kecil. Hidup ini seperti sebuah kelucuan untuknya.
"Ya. Aku akan menjadi teman dan seorang kakak untukmu."
Milka menanggapi Ken dengan mengangguk saja. Dia masih menata hatinya yang hancur berkeping-keping akibat penolakan dari Ken.
"Aku akan pergi kerja dulu." "Pakai saja mobil Jessi." Ken memberikan kunci mobil ke tangan Milka.
Lagi-lagi Milka mengangguk. Mulutnya sudah tidak bisa berkata-kata. Dia membiarkan Ken untuk pergi.
'Apakah Ken menyukai Jessi? Apakah dia mampu bersanding dengan Jessi?' 'Bukankah Ken akan mengalami penolakan sama seperti aku?' batin Milka.
Daripada sakit hati atau patah hati dengan Ken, Milka lebih tertarik dengan pertanyaan tadi. Jika memang benar Ken menyukai Jessi, Ken pasti akan mengalami kesulitan.