Love U My Bodyguards

Love U My Bodyguards
6.Besar dan bungkusnya hitam



Jessica sudah membeli sandal sebelum dia kembali ke kost. Dia tidak bisa menggunakan lagi sepatunya karena tumitnya bisa berdarah jika di paksakan memakai sepatu. Tapi, karena itu Jessi jadi punya senjata untuk melawan pemuda yang suka menggodanya tadi.


Jessi berjalan dengan cepat. Dia sudah berniat untuk tidak menengok. Tapi, karena tidak terjadi sesuatu, Jessi menengok juga. Dia terkejut karena pemuda tadi sudah babak belur. Mereka juga menunduk dengan sopan ketika Jessi memandang ke arah mereka.


"Maafkan kami, Mba. Kami janji ga akan mengganggu mba lagi." teriak pemuda yang tadi Jessi pukul menggunakan payung.


"Apa kalian salah makan?" tanya Jessi bingung. Perlakuan mereka berubah 180°.


"Enggak mba.. enggak.. kami memang mau minta maaf tulus dari hati."


Jessi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia akhirnya memutuskan untuk tidak memperpanjang urusan ini lagi. Justru kalau mereka bertobat, itu bagus. Jessi jadi tidak perlu ketakutan jika lewat di situ.


"Pak Hadiii.." teriak Jessi ketika sampai di kost.


Pak Hadi yang sedang menyapu dedaunan kering sampai melonjak kaget karena suara fals Jessi.


"Makasi ya pak..Aku sudah diterima kerja." ucap Jessi sambil menggoyang-goyangkan tangan Pak Hadi.


"Wah.. selamat Mba.. Akhirnya berkurang juga satu pengangguran di sini." jawab Pak Hadi girang.


"Nanti kalau gajian, aku akan belikan bapak handphone ya.." ucap Jessi dengan semangat 45.


Dia cukup kasihan ketika melihat Pak Hadi hanya memiliki handphone jadul untuk menelepon saja.


"Lho, jangan mba..Kan mba yang kerja." "Lagian, di mana-mana kalau orang mau nraktir mah nasi goreng, mie ayam atau kopi. Lah ini, malah mau traktir handphone." Pak Hadi geleng-geleng kepala dengan gadis ajaib satu ini.


Ya, sejak 26 tahun bekerja, Pak Hadi tidak pernah mendapati seorang anak kost seperti Jessi. Dia sangat baik, bahkan terlalu baik sampai nyaris dalam taraf bodoh. Pak Hadi bukannya tidak suka dengan hadiah Jessi, tapi dia takut Jessi akan dimanfaatkan oleh orang lain.


"Tenang saja, Pak. Aku di gaji 2x lipat. Satu gaji untuk beli ponsel, dan satu lagi untuk aku simpan." Kata Jessi bangga.


"Hebat sekali, Mba." Pak Hadi memberikan dua jempol untuk Jessi.


Jessi tertawa senang, begitu juga Pak Hadi.


"Ya sudah Pak, saya ke atas dulu." pamit Jessi. Tapi, Jessi melangkah mundur saat menyadari di halaman terparkir mobil Ferrari kuning yang tidak asing bagi Jessi.


"Pak, itu mobil siapa?" tanya Jessi sambil menunjukkan mobil yang dimaksud.


"Itu, tadi ada yang titip parkir mba."


"Ooh.." Jessi cukup paham dengan jawaban Pak Hadi. Dia lalu segera naik ke atas untuk mengobati tumitnya, juga untuk menelepon Boy.


*


*


*


"BRUK"


Bukannya mendapat jawaban, Jessi malah mendengarkan suara benda jatuh yang begitu keras.


"Oppa, are you okay?" ulang Jessi dengan nada lebih lembut.


"Mana ada orang jatuh dari ranjang dibilang okay?" protes Boy. Dia baru saja tidur siang dan langsung terjatuh karena teriakan dari Jessi.


"Siapa suruh kamu tidur siang, Boy?"


"Hadeeh.. kenapa telepon aku, anak kecil?" Boy mengalihkan pembicaraan supaya dia bisa segera tidur kembali.


"Aku dapat pekerjaan, Boy. Dan bos ku setuju untuk memberikan gaji 2x lipat." terang Jessi dengan menekankan kata 2x lipat.


"Baguslah.. semoga bosmu tidak menyesal."


"Kamu sungguh kejam, Boy."


"Kejam bagaimana? Aku sudah mengirimkan hadiah untukmu." "Apa belum sampai?" tanya Boy bingung.


"Tidak ada, Boy. Kamu kirim pakai apa?"


"Pakai kilat khusus." "Seharusnya sudah sampai." "Coba kamu cek dengan baik."


"Apa sih, Boy. Hadiahnya seberapa besar?"


Mendengar Boy yang panik, Jessi mulai penasaran dengan hadiah dari Boy. Pasti itu sesuatu yang sangat bagus dan mahal.


"Hadiahnya besar, bungkusnya hitam." "Aduh, kalau hilang bagaimana?"


"Ya, kamu beli lagi dan kirim ulang, Boy. Simple, kan?"


"Masalahnya, itu tidak ada duanya. Hanya satu yang begitu di dunia ini." kata Boy cemas.


"Oke, oke. Aku akan cari itu dengan benar. Aku akan tanya pak Hadi." Jessica mengakhiri telepon dengan Boy.


'Hadiah apa sih? Besar, bungkusnya hitam dan hanya ada satu di dunia?' Jessi tidak dapat menemukan clue tentang hadiah yang diberikan Boy. Tapi, setidaknya Jessi jadi bersemangat untuk mencari hadiah itu.


Jessica kembali turun dengan cepat ke bawah untuk menemui Pak Hadi. Dia terburu-buru sampai tidak melihat anak tangga terakhir dan kaki Jessi keseleo. Dia limbung, tapi tidak bisa menggapai pegangan. Untung saja seseorang datang dan menangkap Jessi tepat waktu sehingga Jessi tidak jatuh ke lantai, melainkan berakhir pada pelukan orang yang menangkapnya.


"Sorry..aku sud..." "Ken!" teriak Jessi ketika dia memandang orang yang telah menangkapnya.