
Ken adalah manusia es. Meskipun dia di sini, Jessi tidak dapat menjadikan Ken teman bermain. Ken juga bertindak hanya sebagai bodyguard. Dan pakaian Ken membuat Jessica risih. Karena ke mana-mana Jessica jadi pusat perhatian.
Jessica sudah tidak tahan dengan penampilan Ken itu akhirnya membawa Ken belanja pakaian. Dia begitu semangat untuk mencarikan Ken outfit yang cocok untuknya.
Jessi mengambil beberapa kemeja di gantungan, lalu memberikan pada Ken.
"Coba ini, Ken."
"Tapi, ini tidak perlu nona." Ken menolak dengan mengembalikan pakaian itu kembali ke gantungan.
"Ken, apa kau tidak panas memakai jas seperti mau nikahan seperti itu?" tangan Jessi bergerak cepat dengan mengambil lagi pakaian yang tadi.
Ken setuju dengan perkataan Jessi, tapi dia hanya bicara itu dalam hati.
"Dari dulu saya seperti ini, jadi tidak apa-apa."
"Ya ampun.. bukan itu masalahnya, bambang..." ucap Jessi gemas.
"Siapa bambang?" tanya Ken bingung.
Kepala Jessi hampir meledak karena miskom dengan Ken. "Cepat ganti saja, aku tunggu di sini."
Jessi duduk dengan tenang dan tidak mempedulikan Ken lagi. Akhirnya Ken mengalah. Dia masuk ke ruang ganti dengan beberapa pakaian di tangannya.
Sembari menunggu, Jessi mengecek ponselnya. Dia masih mendapatkan banyak link yang tidak jelas dalam kotak pesannya. Boy sudah berpesan untuk tidak membuka atau meng-klik link itu karena bisa jadi itu kerjaan Marco yang ingin membobol ponsel Jessi.
'SREK' tirai terbuka. Jessi sampai menjatuhkan ponselnya ketika melihat penampilan baru Ken. Dia jadi lebih modis dan manusiawi, tidak seperti beruang madu. Ken tampak keren dengan kaos turtle neck hitam di padu Jeans yang pas body.
"Bagaimana Nona, ini sepertinya tidak pantas. Aku lebih nyaman menggunakan jas." ucap Ken sambil berputar.
"Nooo. Kita ambil yang ini." "Cepat ganti lagi." Jessi memberi kode supaya Ken kembali dan memakai baju yang lain.
Setelah hampir 20 setel baju yang Ken coba, akhirnya mereka selesai melakukan ritual yang melelahkan itu. Jessi tersenyum senang karena baju yang dia pilih semua cocok untuk Ken.
"Ini seragam bodyguard ku. Jangan pakai jas kuno itu lagi." pesan Jessi pada Ken yang kerepotan membawa tas belanjaannya sendiri.
"Maaf mba, ini declined." pelayan memberikan ATM Jessi.
"Lho, coba lagi." ucap Jessi tidak percaya.
Mereka mencoba beberapa kali tapi tetap tidak berhasil. Jessi mengeluarkan ATM pribadinya. Tapi, hasilnya tetap sama.
"Coba di cek saldonya, mba."
"Kamu menghina saya ya?" Jessi tidak terima karena pelayan itu menyuruh untuk mengecek saldo.
"Aku akan bayar sendiri saja, Nona." Ken menahan Jessi yang hampir meledak. Dia mengeluarkan ATM nya sendiri dari dalam dompetnya.
Pelayan itu tersenyum pada Ken. Jessi semakin kesal saja karena Ken membuatnya malu. Padahal dia yang berencana akan membelikan Ken semuanya.
"Nona, anda sebaiknya belajar berhemat." "Sepertinya Tuan Boy sudah mengeluarkan ultimatum dengan memblokir akses keuangan anda." bisik Ken.
Jessi menelan ludah. Belajar berhemat? Apa artinya dia tidak bisa belanja lagi?
"Nona, tolong anda bawa sisanya." Ken meninggalkan beberapa tas untuk Jessi bawa.
"Ken, tunggu." Jessi menyahut paper bag itu dan mengikuti Ken dengan masih terpincang-pincang.
"Bagaimana aku bisa berhemat, Ken?" tanya Jessi yang seperti orang kebakaran jenggot. Maklum, sejak kecil Jessi tidak pernah merasakan susah.
"Yang benar saja, Ken. Aku rasa aku tidak bisa hidup kalau tidak belanja." Jessi menggerutu pada Ken yang justru terlihat senang karena ultimatum Boy sudah berjalan.
"Anda akan tetap berbelanja, tapi berbelanja sayur di pasar." Ken mempercepat langkahnya supaya Jessi tidak banyak bertanya dan dapat berpikir sendiri.
*
*
*
"Saya tinggal di kost sebelah anda." Ken mengambil paper bag dari tangan Jessi.
"Ken, kamu yakin kalau ATM nya di blokir Boy?" Jessi tampak tidak mendengarkan Ken karena sejak tadi pikirannya hanya berfokus pada ATM.
"Besok aku akan temani nona ke pasar." pesan Ken sebelum berbalik. Ken enggan menjawab pertanyaan Jessi karena itu tidak penting sama sekali. Gadis itu memang perlu berhemat dan Ken juga sekarang harus berhemat karena uangnya bulan ini sudah untuk membeli banyak sekali pakaian-pakaian mahal gara-gara ulah Jessi.
Jessi berjalan sambil terus berpikir. Dia juga menelepon Boy, tapi dia tidak mendapatkan jawaban. Jessi berpindah untuk menelepon Marsha, dan juga tetap tidak ada jawaban. Mereka semua sepertinya bersekongkol untuk tidak menerima panggilannya.
"Kalian semua jahat." ucap Jessi kesal.
"Gimana mba? Mana yang jahat?" Pak Hadi yang baru saja pulang membeli nasi goreng, mendengarkan Jessi yang marah-marah sendiri.
"Pak, aku dibuang oleh keluargaku." adu Jessi. Dia sudah hampir menangis, tapi Jessi menahan air matanya karena dia malu.
"Wah, sepertinya Mas Boy sangat sayang pada Mba Jessi. Dia sampai mengirimkan pria berjas itu ke sini untuk menemani mba." ucap Pak Hadi yang kemarin sudah berbincang dengan Ken.
Sebenarnya Ken ingin sewa kost di tempat yang sama dengan Jessi, tapi berhubung kost ini untuk wanita, jadi Ken menyewa kost di rumah sebelah.
"Mba itu kayak artis saja, sampai punya bodyguard." lanjut Pak Hadi sambil cekikikan sendiri.
"Pak,, dia datang bukan mengawasi saya pak, tapi mau menyiksa saya. Menyiksa." curhat Jessi dengan emosi.
"Hati-hati, mba.. jangan kesel-kesel, nanti malah jatuh cinta lho sama dia."
"Pak, saya lebih baik jomblo aja deh pak. Dari pada sama beruang madu."
"Sudah, ah. Saya lapar. Mba juga harus istirahat kan." Pak Hadi memilih berlalu dari hadapan Jessi.
Jessi kembali ke kamarnya. Dia masih tidak percaya harus menghadapi hari-hari tanpa ATM nya. Apa yang akan dia lakukan nanti kalau uangnya habis? Apa Jessi bisa meminjam dulu uang Ken? Ya, pria itu seharusnya berbaik hati pada Jessi karena Jessi sudah membantu Ken untuk mengubah penampilannya.
*
*
*
author tampilkan visual dulu ya.. biar bisa baca sambil membayangkanš¤£š¤£
Jessica yang udah tobat ngecat rambut jadi coklat
Ken si beruang madu